Surga belanja barang 'panas

Pasar-pasar itu selalu menarik pembeli. Bukti konsumen tak peduli dengan asal-usul barang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Surga belanja barang 'panas
Pasar loak Astana Anyar Bandung. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono

Meski hari sudah gelap, sayup-sayup suara tawar menawar antara pedagang dan pembeli masih terdengar jelas di emperan Stasiun Kebayoran lama, Jakarta Selatan, Kamis (15/9) lalu. Suara mereka bersahutan dengan gemuruh kereta saban 15 menit hilir mudik.Dengan penerangan seadanya, mereka menjajakan dagangannya. Kebanyakan barang antik dan elektronik bekas seperti radio atau kipas angin. Namun paling banyak dilego telepon seluler bekas. Beberapa pemilik lapak terlihat sibuk mengotak-atik ponsel dipajang di etalase mini.Kebanyakan pedagang di sana memilih pasif. Menunggu pembeli menghampiri. Jika ada yang bertanya, mereka langsung sigap memberi penjelasan. Di salah satu sudut emperan, tampak dua lelaki terlibat proses tawar menawar. Salah seorang di antara mereka memegang dan memperhatikan telepon seluler di tangannya. Secara kasat mata, nampak seperti barang baru. Namun si penjual memastikan hanya menjual 'batangan', tanpa kelengkapan catu daya dan lain-lain.Ponsel itu dilepas dengan harga sangat miring. jenis lawas bisa dilego dengan harga Rp 100 ribu. Sedangkan telepon pintar (smartphone) macam iPhone 5s misalnya, dibanderol seharga Rp 2 juta. Pedagang tak mau berlama-lama dalam proses tawar menawar."Masih baru nih, mulus kok, coba aja cek. Cuma diganti layarnya," kata salah satu pelapak saat ditemui merdeka.com.Pemandangan serupa juga terlihat di kawasan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Telepon seluler batangan berserakan di etalase mungil. Pembeli tinggal menyebutkan merek telepon seluler diinginkan, pedagang siap menyediakan. Jangan harap ada keramahan dari para pedagang. Tatapan mereka tajam saat menyambut calon pembeli. Mereka enggan meladeni pembeli banyak bertanya, khususnya mengenai asal usul barang itu. Sebab, barang dijajakan konon dipasok para pencopet. "Jadi beli enggak sih, nanya mulu," kata seorang pedagang dengan nada tinggi. Didi (50), warga Tanah Abang, menjadi salah satu pembeli setia di situ. Alasannya sederhana, karena harganya murah. Dia paham betul seluk beluk pasar loak di sana. Banyak pedagang menjual barang 'kanibal' atau hasil bongkar pasang dan rekondisi. Didi juga mengamini kabar kebanyakan barang di sana hasil curian. Didi pernah mendengar langsung cerita pelapak mendapatkan barang yang mereka jual. Mereka mengincar penumpang angkot D01 jurusan Kebayoran Lama-Lebak Bulus-Ciputat yang mengantongi ponsel pintar."Waktu penumpang turun atau naik angkot, waktu penumpang lengah, mereka (copet) langsung beroperasi. Terus mereka turun di Tanah Kusir," cerita Didi.Tak hanya telepon seluler, barang hasil curian yang juga dijual di situ adalah helm dan barang antik. Dari pengakuan seorang pedagang, kata Didi, helm itu kadang curian dijual, lantas dimodifikasi ulang supaya terlihat mirip baru. Dia ingat betul, suatu saat ada seorang pemuda yang menyambangi pasar gelap Tanah Abang. Dia mengendarai sepeda motor dan diparkir sekitar pasar. Tak lama kemudian, sepeda motornya justru raib."Mau beli barang curian malah motornya yang dicuri," kata Didi.Di pasar gelap itu, kadang harga murah ditawarkan bisa tak masuk akal. Dia mencontohkan lampu kristal. Jika harga di toko biasa mencapai Rp 1 juta, tapi di sana cukup dengan merogoh Rp 400 ribu sudah bisa membawa pulang. Dia membeli dispenser dengan kondisi masih mulus hanya Rp 35 ribu. "Terakhir saya beli sepatu kulit asli, Rp 60 ribu," ucap Didi sambil menunjukkan sepatunya.Sebagai daerah tujuan wisata belanja, Kota Bandung juga menjadi surga belanja barang curian. Tidak sulit menemukan kawasan seperti. Jika hendak mencari barang dengan harga miring di kota kembang, semua pasti mengarahkan ke Jalan Astana Anyar. Ada satu tempat dikenal dengan sebutan Pasar Lilin."Sudah dari zaman dulu cara jualannya pakai lilin bagi yang berjualan di malam hari," kata MR (27), yang sehari-hari bekerja sebagai juru parkir.MR tahu persis, pedagang di Pasar Lilin sebagian besar menjajakan barang hasil curian. Kebanyakan menjual telepon seluler. Barang itu dihamparkan begitu saja di atas terpal sebagai alasnya. Kondisinya beragam dari yang masih lengkap dengan kemasan ataupun mati total. Harganya beragam, tergantung kondisi. Telepon seluler dengan kondisi seadanya kadang dilego Rp 100 ribu.D (29) sudah lama mencari nafkah dengan menjual perangkat permainan elektronik di sana. Pembelinya kebanyakan mereka yang gandrung permainan PlayStation, Nintendo, dan lain-lain. Beberapa rekannya memilih menjual telepon seluler karena mudah mendapatkan barang dan paling banyak dicari. "Ya kalau handphone kan gampang diambil kalau orang lengah," ucap D.Di sudut Kota Yogyakarta, Pasar Klitikan sudah dikenal sebagai salah satu 'sarang' barang-barang curian. Pasar terletak di Jalan HOS. Cokroaminoto Nomor 34 itu merupakan hasil relokasi pedagang kaki lima di selatan Tugu Yogya dan Selatan Pasar Beringharjo. Segala macam produksi ada di sini. Banyak pengunjung Pasar Klitikan yang datang dengan tujuan menjual atau mencari barang curian. "Jadi bukan hanya orang menjual tetapi malah mencari barang-barang curian dan sebagainya," ujar Andrianto, salah satu juru parkir Pasar Klitikan. Di Malang, pasar menjual barang curian dikenal dengan sebutan 'Pasar Tikus'. Ada juga yang menyebut Pasar Rombengan Malam atau Roma. Para pedagang menjajakan dagangannya di trotoar dan halaman pertokoan sepanjang Jalan Gatot Soebroto, Kota Malang. Pasar ini hanya hidup di malam hari. Buka cuma lima jam, mulai pukul 19.00 WIB sampai tengah malam. Pedagangnya rata-rata punya rajah dan mengenakan anting. Sambil menikmati kopi, mereka dengan ramah menyapa dan menawarkan dagangannya kepada setiap orang melintas di jalan itu. Seperti di kota lain, barang dijual kebanyakan telepon seluler. Namun ada juga yang menjual suku cadang kendaraan.

"Dulu memang orang menyebut Pasar Tikus karena banyak tikusnya atau maling, yang menjual hasilnya ke situ," kata Aditia, warga sekitar Pasar Roma, Malang.

Geliat penjualan barang curian juga terjadi di Jalan Wonokromo, Surabaya. Pasar yang dikenal warga dengan sebutan Pasar Maling ini hanya berada sekitar 750 meter dari pos polisi. Disebut pasar maling karena sudah sejak lama warga mengetahui barang dijual di sana hasil curian. Barang yang banyak dijual pun sama seperti di pasar barang curian lain di berbagai daerah. Telepon seluler bertebaran di mana-mana, dengan kondisi seadanya."Saya sejak kecil tinggal di Wonokromo, sudah ada sebutan nama pasar maling," kata Agung (45) warga sekitar Pasar Maling, Surabaya.

Rekomendasi