Kisah Lilis dan sapu lidi penyambung nyawa

"Kalau sapu ini hilang, saya cari-cari. Sedih, mana sapu buat saya kerja," ujar Lilis

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Kisah Lilis dan sapu lidi penyambung nyawa
Rusun Marunda. ©2012 Merdeka.com

Lilis warga gusuran Kalijodo juga Ketua Rukun Tetangga di Rumah Susun Marunda, Jakata Utara kini harus rela mengubah profesi biasa dia jalani. Sejak direlokasi dari Kalijodo, Lilis terpaksa harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai cleaning service di Rusun Marunda. Padahal ketika tinggal di Kalijodo, Lilis bisa mencukupi segala kebutuhan kehidupan sehari-harinya dengan berjualan nasi ulam. Namun kini, dia harus bergulat dengan sapu. Penggusuran membuat hidupnya berubah 360 derajat. "Dulu waktu di Kalijodo saya jualan nasi ulam,lumayan hasilnya cukup buat makan," ujar Lilis saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu. "Saya suka sedih kalau lihat perabotan masak buat bikin nasi ulam. Mau buka usaha lagi uang saya sudah habis dipakai pindahan ke sini," ujarnya lirih.Sejak di pindah menempati Rumah Susun Marunda, mau tak mau Lilis harus berputar haluan. Apalagi uang buat modal meneruskan usahanya seperti waktu dia tinggal di Kalijodo sudah kandas. Demi menyambung hidup, kini Lilis rela bekerja sebagai tenaga kebersihan. "Uangnya buat makan," katanya. Sambil menunjukkan sapu yang menjadi sumber pendapatannya, Lilis bercerita jika hanya itu lah yang dia punya untuk meneruskan langkahnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tanpa sapu itu, kata Lilis, dia tak bisa bekerja untuk mendapatkan uang. Jika sudah begini, siapa yang bisa membantunya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Dia pun berharap hidupnya bisa kembali normal seperti dulu. Bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan nasi. "Kalau sapu ini hilang, saya cari-cari. Sedih, mana sapu buat saya kerja," ujarnya. Lilis pun mencoba mencintai pekerjaan yang dia tekuni ketika menapakkan kaki di Rusun Marunda. Masa kejayaannya ketika tinggal di Kalijodo sebagai pedagang nasi, dia coba lupakan dengan membuka lembaran baru sebagai tukang sapu. "Saya mah ikhlas saja dulu," kata Lilis.

Rekomendasi