Akhir pekan itu arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, dipadati ratusan orang. Mereka hendak bertarung dalam kejuaraan daerah road race putaran ke sekian. Sebuah ajang bergengsi buat mengumbar eksistensi dalam dunia adu kebut sepeda motor.
Waktu itu, era 1999, kuda besi dengan dapur pacu dua langkah masih merajai lahan parkir yang disulap menjadi sirkuit dadakan itu. Di ajang nasional juga sama. Jangan bayangkan ada paddock permanen di sana. Semua ala kadarnya. Bermacam tim perorangan dan yang didukung sponsor besar bertarung di sana. Bau bensol bercampur oli samping kelas tinggi menyeruak dari pagi hingga petang.
Kelas paling ketat persaingannya adalah bebek pemula 110 cc dan sport 135 cc terbuka 2 tak. Babak penyisihan saja bisa digelar tiga kali. B dan M, dua pebalap asal Jakarta, masih ingat betul aroma kompetisi saat itu.
"Awal balap gue ya dari dua tak. Sampai sekarang masih ngangenin suaranya. Apalagi motornya. Nyodok terus," kata B saat berbincang dengan merdeka.com di sebuah bengkel di kawasan Jalan Panjang, Sukabumi Selatan, Jakarta Barat.
M pun tak jauh beda. Kelihaiannya dan prestasinya menekuk kuda besi sport macam Yamaha RX King atau Kawasaki Ninja 150 di arena membikin namanya harum hingga saat ini.
"Kalo gue emang paling demen balap kelas sport. Bawa bebek malah jarang finish," ujar M melalui sambungan telepon.
Hanya saja keduanya berbeda sikap soal yang satu ini. Yakni tentang keterlibatan kekuatan magis di lintasan balap. Hal-hal seperti ini memang tak pernah terangkat ke permukaan. Hanya sebatas desas-desus di kalangan penggemar adu kebut roda dua. Namun, beberapa orang mau buka mulut tentang itu.
"Gue sih memang kalau balap selalu pakai rompi khusus di balik wearpack (baju balap). Itu pemberian dari orangtua. Biar pede dan selamat aja," ujar B.
Menurut B, kalau tidak memakai rompi itu kadang dia tak bisa masuk podium, bahkan juara pun lepas. Dia merasa wajar saja ada peserta balap menggunakan jimat. "Orang lain juga ada yang pakai gituan. Modelnya beda-beda. Ada yang make gelang, kalung, cincin," ujarnya.
Sementara itu, M memilih enggan berurusan dengan jimat dan semacamnya saat membalap. Meski pun dia juga tahu soal itu. "Itu sih musyrik. Ogah gue pake gitu-gituan. Balap itu soal skill joki sama motor, sisanya urusan Allah S.W.T.," ucap M.
Memang tak bisa dipungkiri hal-hal semacam itu kerap mewarnai dunia adu cepat kuda besi tanah air. Baik itu di ajang balap resmi ataupun liar. Semua bertujuan buat mencari kemenangan. Hanya saja kadang tertutup rapat. Wajar saja, sebab siapa yang mau rahasia dapurnya dibuka.