CEO Indosat: Tidak perlu leading di layanan 4G-LTE

Bagi pemerintah, 4G simbolik bahwa Indonesia masuk ke dunia ekonomi kreatif. 4G adalah infrastruktur ekonomi kreatif.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
CEO Indosat: Tidak perlu leading di layanan 4G-LTE
Alexander Rusli. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Pada Selasa (17/11), proses tata ulang atau refarming spektrum 1.800 MHz oleh empat operator seluler akhirnya tuntas secara nasional, sejak dilakukan April lalu. Kawasan strategis seperti Jabodetabek juga tuntas sehingga bisa segera dijual untuk layanan seluler generasi keempat alias 4G-LTE. Bahkan operator XL Axiata buru-buru mengomersialkan layanan 4G di Jakarta pada Selasa kemarin, saat operator besar lain seperti PT Indosat Tbk masih menahan diri mengomersialkan layanan data supercepat ini di kawasan gemuk ini. Alexander Rusli, CEO PT Indosat, anak usaha Ooredoo Group asal Qatar dengan pelanggan sekitar 68 juta, membagi pandangan dan strategi perseroan di layanan 4G, proyek balon Google, kasus IM2, akuisisi, dan lain-lain kepada M Syakur Usman, Fauzan Jamaludin, dan M Luthfi Rahman dari Kapanlagi Network (KLN) di kantornya, pekan lalu. Berikut petikannya:

Refarming di 1.800 MHz segera selesai, bagaimana rencana Indosat mengomersialkan layanan 4G di kota-kota besar di Pulau Jawa? Kami akan launch segera, tapi tahun ini penguna layanan 4G-LTE tidak akan banyak. Yang punya handset 4G tidak banyak dalam skala Indonesia hingga akhir tahun ini. Ini bagian dari strategi. Saat layanan 3G diluncurkan, berapa lama adopsinya? Sekarang dari sisi teknologinya, loncatan 4G dari 3G tidak terlalu jauh. Artinya dari broadband ke broadband juga. Jadi dalam sudut pandang development, kami lihat bukan sebagai sesuatu yang baru. Jadi biasa saja. Hanya mekanisme untuk deliver data lebih cepat. Maka itu Indosat kelihatan kurang agresif meluncurkan layanan 4G?Kami akan besar-besaran luncurkan layanan 4G, tapi nanti sekaligus saja. Kami tidak buru-buru. Karena di launching duluan juga tidak bikin orang beli handset 4G lebih cepat, atau buru-buru pindah handset 4G. Jadi strategi kami, kami tunggu refarming selesai seluruhnya. Setelah itu, kami akan lauch di banyak kota di Pulau Jawa dan luar Jawa. Langsung saja, sekaligus. Kapan itu?Akhir November ini, kami tinggal cari tanggal saja. Lagi di-inline dengan rencana pemerintah yang ingin membuat launching bersama layanan 4G-LTE.

Bagi pemerintah, layanan 4G simbolik bahwa Indonesia masuk ke dunia ekonomi kreatif. 4G adalah infrastruktur ekonomi kreatif. Rencananya Presiden Jokowi akan resmikan 4G secara nasional, bersama dengan ekosistem lokalnya termasuk aplikasi atau over the top (OTT) lokal. Jadi bakal ada aplikasi baru yang diperkenalkan untuk mendukung ekosistem 4G ini. Jadi tujuan pemerintah lain dengan operator terkait 4G. Bagi operator, ini mekanisme untuk kirim data lebih cepat saja. Sedangkan pemerintah untuk dorong ekonomi kreatif. Jadi seperti apa strategi Indosat di layanan 4G?Saya janji, saat launch nanti, kami akan masif. Kami melihat tidak perlu leading di layanan 4G, tapi leading di layanan deliver data ke pelanggan. Karena tidak selesai ikutin teknologi seluler. Sekarang 4G, lalu 5G....sampai kapan. Konsumen tidak mau itu. Konsumen mau pakai aplikasi yang dibutuhkan. Kapan dibutuhkan aplikasi selulernya, bisa dipakai.Aplikasi-aplikasi yang menarik bagi operator seperti Go-Jek dan internet banking. Konsumen menggunakan aplikasi yang very sticky pemakaiannya, kayak Go-Jek dan internet banking. Karena ada pulsa atau tidak ada pulsa, aplikasi itu akan tetap dipakai. Kemudian dari sisi load networks-nya juga tidak terlalu besar. Kita butuh aplikasi seperti itu. Aplikasi yang relevan dengan kehidupan yang dipakai sehari-hari. Aplikasi sosial media akan banyak, tapi tidak dominan.

Contoh di Amerika Serikat, orang setiap hari pakai Facebook dan Twitter. Tapi yang dipakai keseharian lebih banyak adalah aplikasi seperti aplikasi in-health mereka. Itu dipakai lebih banyak sehari-hariNah, ini yang masih kurang di sini, aplikasi yang lebih lokal. Applikasi Go-Jek adalah contoh aplikasi yang sangat lokal relevansinya, yang tidak bisa digunakan di tempat lain. Proyeksi Anda terhadap tingkat adopsi smartphone 4G di 2016?Yang pindah ke 4G adalah the high end user. Pertama, high end users, mereka adopsi 4G pertama. Konsumen ini akan maksa beli smartphone 4G karena mampu dan suka. Tapi jumlahnya tidak besar. Kedua, harga jual smartphone 4G dan 3G relatif sama saat ini. Jadi orang akan banyak pindah dari 2G ke 4G, atau mereka tidak akan beli smartphone only 3G support. Kami sedang tunggu riset GfK tentang jumlahnya. Tapi tahun lalu, smartphone dijual lebih banyak dari featurephone, yakni sekitar 60%. Jumlah ini akan lebih besar lagi, sehingga adopsi 4G akan lebih cepat daripada 3G. Sejak dikomersialkan pada 2005-2006, adopsi layanan 3G baru 30%. Tapi kini 4G, akan lebih cepat, saya perkirakan hanya butuh waktu 3-4 tahun. Tahun ini saya prediksi penjualan smartphone mencapai 65%-70%, sebagian besar smartphone 4G. Tahun depan, ekonomi lebih susah, diperkirakan penjualan handset mencapai 55 juta unit. Bagaimana dengan potret industri telekomunikasi 2016?Industri telekomunikasi di 2016 akan lebih sehat, karena jumlah pengguna smartphone lebih banyak. Itu pendorongnya. Pengguna aplikasi lokal juga lebih banyak. Dengan ekosistem lebih terpenuhi, lebih bagus profitabilitas bagi operator. Saat ini profitabilitas layanan data lebih rendah dari layanan suara dan pesan singkat (SMS), karena mayoritas trafik masih untuk layanan 2G. Namun kalau nanti sudah 4G, akan profit. Sebab kemampuan operator jual 1 detik cuma berapa kilobyte (KB). Tapi zaman 4G, 1 detik akan jual lebih banyak KB. Sementara cost jaringan 1 detik atau 1 menit kan sama. Jadi lebih untung ke depan bagi operator. Kapan layanan data akan lebih profit daripada layanan suara dan SMS? Feeling saya, dari berbagai data, bukan di 2016. Mungkin 2 tahun – 3 tahun lagi. Kapan Indosat juga lebih sehat?Net profit kami sebenarnya positif, tiga tahun terakhir juga positif. Masalahnya di currency. Kalau currency beres, sudah 2 tahun kami sudah positif. Maka itu, sejak tahun lalu, komposisi utang dolar dikurangi, sekarang turun jadi 32% dari semula 50%. Memang tidak cash based, on paper doang, tapi mau diapain. Ini mempengaruhi investor minoritas, seperti pembagian dividen yang terakhir dilakukan pada 2012. Jadi begitu rupiah melemah, rusak semua. (berdasarkan kinerja September 2015, pendapatan usaha Indosat Rp 19,5 triliun dengan EBITDA Rp 8,5 triliun dan rugi bersih Rp 1,1 triliun). Pada tahun depan kami akan mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar di level mendekati Rp 15 ribu, lebah rendah dari patokan pemerintah di RAPBN 2016 yang Rp 13.800. Kami mendekati 15 ribu, karena harus konservatif dan mempertimbangkan faktor risiko. Sementara capex 2016 sekitar Rp 6-7 triliun.Ada dua kunjungan strategis Presiden Jokowi ke Qatar dan Amerika Serikat baru-baru ini. Apa hasil kunjungan tersebut?Tidak ada kesepakatan apa-apa. Tapi bisnis telekomunikasi harus berjalan baik ada kunjungan pemerintah maupun tidak ada kunjungan. Dari informasi yang saya dapat dari pihak Qatar, intinya bagaimana menambah investasi baru di Indonesia termasuk sektor industri telekomunikasi, migas, dan investasi secara umum. Itu tujuannya. Tapi yang mereka minta juga soal kepastian hukum, misalnya terkait kasus yang kami hadapi (kasus anak usaha Indosat, PT Indosat Multi Media/IM2). Intinya pemerintah Qatar memita kepastian hukum secara umum kepada Presiden Jokowi. Loon Project dengan Google Inc saat kunjungan ke AS?Yang saya hadir Loon Project, walaupun saya juga diajak ke Facebook di waktu bersamaan. Tapi saya tidak bisa hadir, karena press conference Loon Project lebih panjang. Apa strategisnya proyek balon Google ini bagi Indonesia?Kenapa pakai infrastruktur Google, kalau murah? Sekarang tujuannya kita mau menjadi negara yang membangun atau penghasil stasiun pemancar/BTS atau mengunakan broadband untuk memajukan ekonomi kreatif. Mana yang mau dipilih? Kalau kita mau dorong ekonomi kreatif, kita butuh infrastruktur murah yang tersedia di mana-mana. Apa pun teknologi yang ada untuk mencapai hal tersebut, ya diambil. Karena pakai balon, secara teori bisa memberikan layanan 4G lebih murah. Tapi lebih murah ini complicated. Ada ratusan balon keliling dunia, yang mana setiap tiga bulan turun di Amerika Serikat. Lalu naik dan keliling dunia lagi. Semakin banyak customers di dalam lingkaran balon ini, akan lebih murah site poin, lebih ekonomis.

Jadi saya berharap lingkaran balon Google ini harus lebih banyak Customs. Kalau Indosat saja menjadi mahal, tidak ekonomis lagi. Jadi satu lingkaran sebanyak mungkin customers.Tapi bagaimana dari sisi teknisnya? Bagi Indosat, secara teknis kami juga bertanya-tanya, is it works or not? Karena itu, kami mau technical test. Teorinya, balon ini meng-cover daerah-daerah operator tidak punya coverage layanan 4G-LTE. Tapi kami juga punya coverage ke daerah-daerah dengan spektrum frekuensi milik operator. Jadi balon ini tidak boleh bentrok frekuensinya. Jadi balon ini on-off. Secara teknis, tidak gampang mengatur ratusan balon yang mengitari bumi di atas petinggi 60 ribu kaki.Jadi tes teknis dulu, jangan banyak omong. The whole point, Google sangat bangga terhadap kemampuan mereka memanipulasi dan proses data dalam jumlah besar, seperti balon terbang ini. Kemampuan mengatur ketinggian balon yang sesuai arah angin, kemampuan menyorot ke daerah yang tepat, dan lain-lain. Kapan tes teknis proyek balon Google oleh Indosat? Mulai Januari 2016.Test di daerah mana saja? Kami mau tes di remote area, tapi kami juga mau di non-remote area, seperti Jakarta. Karena secara teknis, dengan ketinggian mencapai 60 ribu kaki, apakah sinyalnya cukup kuat atau tidak menyorot ke daerah yang densitasnya tinggi. Jadi jangan dilihat remote dan tidak remote. Tapi area densitas tinggi bisa atau tidak? Densitas ini bukan hanya terkait kepadatan pelanggan, tapi juga gedung. Saya tidak skeptik terhadap proyek ini, tapi bertanya-tanya, bisa tidak 60 ribu kaki menyorot ke bawah, ini lebih tinggi dari ketinggian pesawat terbang. Kami lagi bagi-bagi tempat dengan operator lain (Telkomsel dan XL Axiata). Yang penting jangan di daerah yang kosong doang. Karena itu pasti nyala. Kami ingin tahu ada interferensi tidak di daerah yang padat pengguna dan gedung? Efeknya seperti apa, itu yang kami minta atau tahu. Daerah-daerah padat di luar Jawa. Jadi Indosat skeptis?Balon ini kayak BTS saja, cuma power nya di atas. Bagi operator, oke juga. Persoalannya berapa reliable nya? Karena tidak butuh transmisi, tidak ada fiber optic (FO).

Tapi ini opsi menarik, karena masalah operasional kami banyak, misalnya tower BTS kami dihajar, baterai dicolong, dan lain-lain. Jadi masalah operasional kami banyak. Tapi kami tetap masih bertanya-tanya. Rencananya kami coba di frekuensi rendah, yakni 900 MHz.Adakah rencana lain dengan Google selain proyek balon?Ada banyak hal yang bisa dikerjasamakan dengan Google. Prinsipnya, kami mendekatkan diri dengan aplikasi yang dicintai oleh konsumen kami. Contohnya kami bawa activity kami ke Twitter, karena sehingga pelanggan Indosat bisa beli paket data lewat Twitter. Bagaimana dengan rencana kelanjutan tender 3G di dua blok terakhir di 2.100 MHz? Kami tertarik, tapi belum ada pengumuman apa-apa.

Yang mau dikerjakan sekarang adalah perpanjangan lisensi 3G, karena sudah mau habis semua, sudah hampir 10 tahun. Bukan soal pasti disetujui perpanjangannya, tapi struktur fee untuk lisensi 3G yang baru bagaimana. Di sini tidak ada yang simpel.Angka fee itu tidak bisa muncul dari langit, karena terkait target pajak, pendapatan negara bukan pajak (PNBP), dan filosofi fee yang mau diambil seperti apa.

Misalnya, fee ambil di depan, tapi market tidak tumbuh besar. Atau fee dipungut besar di depan, terus operator yang kecil akan sengsara atau mati pelan-pelan. Jadi macam-macam pemikirannya. Bagi tiga operator besar, mungkin dalam posisi satu, tidak apa-apa bayar besat. Tapi bagi operator kecil, akan fight habis-habisan. Jadi kompleks. (Di frekuensi 2.00 MHz, ada empat operator memiliki lisnei 3G, yakni Telkomsel, XL Axiata, Indosat, dan Tri).Jika melepas kaca mata Indosat sebagai operator besar, kalau pemerintah mau menciptakan kompetisi, maka pemerintah harus membesarkan yang kecil. Bukan dimatikan yang kecil, sehingga perlu ada insentif. Tugas pemerintah memang tidak straight point. Mereka harus menciptakan kompetisi agar masyarakat dilayani dengan baik. Tapi di sisi lain, kompetisi jangan over, sehingga tidak ada yang tidak bisa hidup.Apakah fee dari tender sebelumnya bisa dijadikan benchmark?Ya, bisa jadi benchmark. Tapi dulu, tender pertama dilakukan untuk menentukan siapa yang masuk. Maka dikenakan up front fee. Kemudian setiap tahun fee naik. Pertanyaan? Karena sudah dialokasikan, apakah up front fee masih dibutuhkan? Karena filosofu up front fee, untuk menyaring pemain-pemain yang tidak jelas. Nah, sekarang apa mau dibikin flat? Yang mau dijaga adalah total penerimaan fee selama 10 tahun. Kalau mau Bee sama selamam 10 tahun, ya harus dibikin flat. Atau up front fee dimasukkan ke dalam, sehingga fee nya lebih tinggi dari kemarin. Untuk itu fee baru ini harus dibicarakan bersama industri, supaya industri tidak meninggal di tempat. (Dalam tender 3G tahap ketiga di 2012, operator pemenang harus membayar fee tahun pertama Rp 512 miliar termasuk uap front fee, tapi selanjutnya hanya membayar fee tahunan Rp 160 miliar selama 10 tahun). Operator sendiri ingin seperti apa?Bagi operator, kalau ada uang fee, lebih baik disuntikkan kembali ke daerah-daerah yang coverage selulernya masih kurang atau meningkatkan penetrasi broadband di daerah. Jadi uang itu disuntikkan ke dalam. Jangan hanya bayar buat regulatory fee. Apalagi regulatory Bee (termasuk pajak) di Indonesia lebih besar dibandingkan negara lain. Ini dilihat dari persentasenya terhadap pendapatan usaha. Pertanyaannya, kalau kita percaya statistik bahwa setiap uang satu rupiah di broadband, akan menciptakan X kegiatan ekonomi, bukankah lebih bagus untuk X kegiatan ekonomi ketimbang masuk dalam regulatory fee. Problemnya, target pajak pemerintah selalu naik setiap tahun?Ya, tapi ini komponen penerimaan pajak bukan pajak (PNBP). Kemudian ada frekuensi baru, yakni 2,3 GHz dan 2,1 GHz. Lalu ada yang rutin diperpanjang. Jadi target naik, tapi barang jualannya juga lebih banyak. Selain yang frekuensi eksisting diperpanjang, ada frekuensi baru misalnya 700 MHz. Di sini, operator bisa kasih kontribusi tambahan lebih banyak. Terkait kasus IM2, apa sikap Indosat setelah PK ditolak Mahkamah Agung?Kami akan ajukan peninjauan kembali (PK) lagi, karena ada novum baru. Kami juga minta proteksi pemerintah. Jadi ada dua hal terkait kasus Pak Indar Atmanto, korporasi terintimidasi. Jadi kami minta proteksi pemerintah. Secara verbal, kami tanya ke Kominfo, jadi suruh bayar lagi Rp 1,3 triliun karena kalah PK? Ada jawaban tertulis dari Kominfo, tidak bayar lagi karena sudah bayar BHP frekuensi. Tapi secara pembukuaan sudah dicadangkan Rp 1,3 triliun. Pemegang saham agak kaget, karena angka itu tidak pernah diproyeksikan.

Tapi yang lebih parah, terkait Pak Indar yang divonis hukuman penjara 8 tahun harus dicarikan mekanismenya, agar bisa diselesaikan lebih baik. Ada target waktu? Lebih cepat lebih baik, karena ini terkait yudikatif. Masalahnya ada di yudikatif, bukan di eksekutif. Di mata eksekutif, kami tidak ada salahnya. Eksekutif mendukung penuh dengan legal opinion, surat, dan lain-lain. Buat kami, manajemen operator dan perusahaan jasa internet (ISP), pegangannya apa? Setiap hari kami buat keputusan dari lisensi yang diberikan pemerintah. Secara administrasi, tidak salah. Substansi juga tidak. Ada protect dari lisensi dan aturan. Lalu pegangan usaha kami apa? Kata hakim salah, kasih tahu yang benar seperti apa? Karena penjelasannya tidak ada. Pegangannya tidak ada.

Apakah Indosat akan menempuh arbitrase internasional? Arbitrase internasional tidak akan memperbaiki hukum di Indonesia. Itu hanya protect kerugian pemegang saham di Indonesia. Tapi tidak mengubah regulasi hukum di Indonesia. Bagaimana kelanjutan rencana akuisisi Indosat terhadap PT Link Net?Masih jalan. Kami tertarik, tapi bukan dalam bentuk akuisisi normal, karena bisa saja kerja sama. Nah, struktur kerja sama yang kompleks itu sedang dirumuskan.

Karena dari luar orang melihat, kami mau akuisisi saja. Padahal banyak variannya. Bisa beli sebagian sahamnya atau masuk sebagai anak usaha Indosat.

Kami sudah sampaikan ke pemegang saham Link Net. Tapi mereka kan punya dua pemegang usaha, ada private equity dan Lippo Group, jadi kepentingannya nggak sama. Tender Palapa Ring Indosat juga ikut?Kami tertarik, tapi masih proses. Kami tertarik dua paket, saya lupa, tapi kalau tidak salah di Pulau Sumatera dam Kalimantan.

Rekomendasi