Mencoba jaya dari gerusan dunia maya

Musik itu bukan sekedar lagu yang tersimpan secara data, namun juga ada nilai dan pesan visual bagi para pendengarnya.

Mohammad Yudha Prasetya
Mencoba jaya dari gerusan dunia maya
ilustrasi musik digital. © Dompic.com

"Sahabat sejati selalu ada di hati, teman untuk selamanya," begitu kutipan lirik lagu pembuka milik Grup Band Endank Soekamti berjudul 'Angka 8'. Lagu itu juga menjadi tema utama dari Album milik Band Rock asal kota Jogjakarta itu. Buat memanjakan para penggemarnya, Endang Soekamti merilis album tersebut dalam satu paket Boxset. Album itu pun laris manis, sebanyak lima ribu Boxset ludes terjual dalam waktu dua minggu.

"GOAAAAAAALL!!! Rasanya seperti orgasme massal!!! Tidak cuma derasnya tawaran tour yang datang, album ini juga berhasil menembus target dan berjalan dengan mulus seperti apa yang direncanakan, " tulis situs soekamti.com dalam laman pembuka seperti dikutip merdeka.com. Album angka 8 merupakan album ke-12 milik Endank Soekamti yang lahir tiga tahun lalu. Album itu keluar ditengah terpuruknya industri musik Indonesia yang masih dirasakan hingga kini.

Kejadian itu mengingatkan pada kejayaan industri musik tahun 70 dan tahun 80 an. Bisa dibilang tahun-tahun itu merupakan kejayaan bagi industri musik tanah air. Penjualan album angka 8 milik Endang Soekamti boleh dikatakan sukses seperti 'Badai Pasti Berlalu' milik penyanyi legendaris, Chrisye, yang sukses pada masanya. Namun kini, kejayaan itu seolah sirna di tengah gerusan teknologi tak terkecuali Industri musik Indonesia.

Mengutip hasil riset Synovate di tahun 2009, lima persen pendengar musik di Asia menikmati musik melalui televisi. Peringkat kedua, penikmat musik mendengarkan melalui seluler pintar dilengkapi MPEG-1 Audio Layers 3 (MP3). Terakhir, pendengar musik mayoritas juga menggunakan MP3, Ipod dan radio. Distribusi dan konsumsi musik di Indonesia memang mengalami perkembangan pesat hingga kini. Termasuk juga munculnya kembali tren rilisan fisik yang dilakukan oleh beberapa musisi di tanah air.

Endang Soekamti bisa jadi menjadi salah satu gambaran sukses musisi yang menjual kembali rilisan fisik berupa Compact Disk dan kaset. Menurut Managing Editor RollingStone, Wendi Putranto, tren rilisan fisik ini sebetulnya menyenangkan para pelaku musik di industri indie label serta band-band non-mainstream. Meski demikian dia mengatakan jika tren itu tersebut bukanlah sesuatu yang jelek.

"Para pembeli musik saat ini, mayoritas adalah anak-anak muda yang memang sekitar 10-15 tahun yang lalu belum merasakan masa jaya industri musik fisik, karena masih terlalu kecil," ujar Wendi melalui sambungan seluler, Kamis pekan kemarin. Dia pun menegaskan jika kejayaan rilisan industri musik Indonesia sudah lama berlalu. "Itu ditandai dengan penjualan album band-band mainstream seperti Sheila on 7, Padi, Dewa, Jamrud yang mencapai jutaan kopi, " katanya.

Erick Kristianto, akrab disapa Erix Soekamti juga frontman grup band Endank Soekamti punya pandangan lain soal album yang ia keluarkan bersama Dorry dan Ari. Dia mengatakan jika sebelum meluncurkan album angka 8 dalam bentuk Boxset, Audio CD dan unduhan, dia melakukan riset potensi pasar terlebih dahulu. Apalagi animo meluncurnya ide itu juga ditanggapi positif oleh para penggemarnya. "Karena kita sebelumnya mendata, bahwa ada dua juta potensi Kamtis yang akan menjadi pasar bagi disediakannya boxset tersebut," ujar Erix saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan seluler, Kamis pekan kemarin.

Kendati demikian, Erix juga tak menampik jika penjualan album angka 8 itu selain untuk mengukur loyalitas penggemar, juga menjadi modal bagi Endank Soekamti untuk terus eksis dalam industri musik Indonesia. "Tapi engak bisa disangkal, bahwa rilisan fisik itu adalah media bagi supporting band kita sendiri," ujarnya menambahkan.


Berbeda dengan Erix, penggagas Grimloc Records, Herry Sutresna atau dikenal dengan Ucok mengatakan jika bagi band-band Indie gerusan format digital dalam bentuk unduhan tak begitu berpengaruh. Dia menegaskan jika sejatinya, musik itu bukan sekedar lagu yang hanya tersimpan secara data, namun juga ada nilai dan pesan visual bagi para pendengarnya. "Selain kami musisi, juga kami adalah fans musik yang memang hanya paham bahwa cara terbaik mengapresiasi musik adalah dengan memiliki fisiknya," ujarnya melalui sambungan seluler.

Rekomendasi