Makanan sisa jadi primadona

Nasi goreng muncul dari beberapa sifat dalam kebudayaan Tionghoa yang tidak suka membuang makanan.

Pramirvan Datu Aprillatu
Makanan sisa jadi primadona
Nasi Goreng Kampung. ©albeeskitchen.com.au

Di sudut Jalan Tebet Timur, Jakarta Selatan, saban malam orang antre buat merasakan pedasnya salah satu restoran nasi goreng yang belakangan ini hangat menjadi perbincangan. Mereka rela antri hampir sejam buat menikmati nasi goreng asal salah satu kota di Jawa Barat itu. Rasanya yang pedas menjadi andalan dari beberapa varian rasa yang di jual.Begitu nasi goreng itu menjadi buah bibir baik anak muda maupun orang tua. Di jalan berbeda dalam lokasi yang sama, nasi goreng asal Serambi Makkah juga tak kalah menjadi primadona. Rasanya yang gurih berpadu dengan rempah-rempah menjadi andalan dan ciri khas tersendiri buat nasi goreng asal Kota Banda Aceh itu.Harganya pun relatif terjangkau. Buat nasi goreng dicampur daging kambing di patok Rp 25 ribu seporsi. Sedangkan untuk nasi goreng biasa Rp 20 ribu. "Ini baru nasi goreng sesungguhnya," ujar Hasis, salah satu karyawan swasta menilai rasa nasi goreng yang menurutnya paling enak sepanjang dia makan. "Ini nasi goreng yang paling enak yang pertama saya makan," katanya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Nasi goreng begitu menu makanan yang boleh dibilang tiap-tiap daerah di Indonesia memilikinya. Buat di Jakarta, kehadiran nasi goreng pun memiliki rasa yang variatif, mulai dari nasi goreng petai, ikan asin hingga ayam maupun kambing. Olahan itu menjadikan Hana Sari Simanjuntak, selalu menaruh nasi goreng sebagai salah satu makanan favorit. "Itu makanan favorite gue," kata Hana saat berbincang dengan merdeka.com, pekan kemarin.Namun dibalik lezat dan gurihnya nasi goreng, beberapa literasi menyebutkan jika makanan yang diklaim nomor dua terkenal khas Indonesia itu berasal dari para saudagar Cina yang datang ke Indonesia. Nasi goreng dikenal di Asia Tenggara sejak lama. Kedatangan menu baru itu berubah olahan ketika masuk di masing-masing wilayah Indonesia.Banyak yang mengatakan jika nasi goreng muncul dari beberapa sifat dalam kebudayaan Tionghoa. Orang-orang Tionghoa dikenal tidak suka mencicipi makanan dingin dan juga membuang sisa makanan. Kemudian nasi yang dingin itu diolah kembali untuk dimasak menjadi makanan yang disajikan dalam meja makan.
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di Jakarta sendiri banyak varian rasa nasi goreng. Salah satunya, nasi goreng yang dijual oleh Sutar, pedagang nasi goreng keliling yang biasa berjualan di sekitaran Menteng, Jakarta Pusat. Menurut dia, nasi goreng yang ia jual merupakan khas daerah Jawa Tengah. Bumbunya pun berbeda, untuk menggoreng nasi goreng yang menjadi primadona barang dagangannya, Sutar menyatukan bumbu seperti cabai, bawang merah dan putih serta kemiri yang telah digiling halus.Untuk membuat rasa, Sutar menaburkan garam dan penyedap rasa untuk menjadikan nasi gorengnya enak untuk dimakan. Tambahan lain, Sutar mengguyur nasi gorengnya dengan kecap untuk menambah rasa manis seperti kesukaan orang-orang Jawa pada umumnya. "Ini mah nasi goreng Jawa dan ini bumbu sudah turun temurun dari keluarga saya," kata Sutar yang sudah keliling Jakarta berjualan nasi goreng sejak 1985 ini.Namun Sutar tak mengetahui jika nasi goreng berasal dari orang-orang Tionghoa yang datang ke Indonesia. Apalagi selain nasi goreng, Sutar juga menjual Kwetiau dan Capcai, yang merupakan masakan asal Cina. Capcai menjadi salah satu menu yang dijual berdampingan oleh penjual nasi goreng di Jakarta. Isinya berupa sayuran ditambah irisan bakso atau ayam sebagai penyempurna rasa."Kalau itu saya kurang tahu. Kalau saya jual capcai, karena sudah satu paket jika tukang nasi goreng juga jualan capcai," ujar Sutar.

Rekomendasi