Sore itu, matahari mulai terbenam perlahan di sisi barat. Tangan kanan menggenggam pisau terlihat lihai menguliti sepotong ayam dengan santai. Di sebelah gerobaknya, panci besar sedang menanak nasi itu mengepulkan asap. Dari kesabarannya bergelut dengan panasnya wajan saban malam, akhirnya membuahkan hasil yang patut disyukuri hidupnya.Saepudin mampu menginjakkan kakinya ke tanah suci dari hasil berjualan nasi goreng selama puluhan tahun. "Alhamdulilah biar baru saya sudah berangkat haji tahun kemarin," ujar Saepudin saat berbincang dengan merdeka.com di Jalan Muria, Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu pekan lalu.
Saepudin sudah menjadi pedagang nasi goreng sejak tahun 1994. Pertama kali dia menginjakkan kaki di Jakarta, sudah beberapa pekerjaan dia lakoni. Terakhir, bermula dari ikut temannya, Saepudin memilih untuk bertarung di kerasnya kota Jakarta sebagai pedagang nasi goreng. Saban hari dia mampu menghabiskan sembilan kilo beras. Sedangkan untuk akhir pekan bisa meningkat dua kali lipat. "Yah seporsi bisa Rp 17 ribu, itu yang spesial, biasa Rp 13 ribu," ujarnya.Dia mengaku sudah beberapa kali pindah tempat mangkal. Rata-rata dia mencicipi hampir semua wilayah Jakarta mulai dari Petukangan, Salemba, Matraman, Menteng, dan terakhir hingga saat ini menetap untuk berjualan di Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan. "Yah sudah beberapa kali coba peruntungan dan terakhir di Pasar Rumput," kata lelaki kelahiran Tegal itu.
Perjuangannya berdagang nasi goreng memang tak diragukan lagi. Sejak tahun 1985, Sutar sudah menginjakkan kaki di Jakarta. Pertama kali dia masih mengikut kakak kandungnya berjualan nasi goreng dengan memakai gerobak pikul. Harga nasi goreng saat itu hanya sebesar Rp 250 rupiah."Waktu itu harganya masih 250 perak pakai telor, 200 perak nasi goreng biasa," tuturnya.Selain sawah di kampung dari hasil berjualan nasi goreng, Sutar juga mampu menyekolahkan anaknya hingga kuliah. Saat ini anak ketiganya masih duduk di bangku kuliah tingkat dua."Saya enggak tahu jurusannya apa, pokoknya dari kecil anak lelaki saya itu memang tekun bersekolah," kata Sutar yang memiliki enam orang anak ini.
Advertisement