Hidup terancam tinggalkan Iran

MR bareng ibunya kabur dari Iran lantaran nyawa mereka terancam.

Mustiana Lestari
Oleh Mustiana Lestari - Reporter
Hidup terancam tinggalkan Iran
Ilustrasi Imigran Gelap. ©2014 Merdeka.com

Sekitar setahun lalu, segerombolan orang tidak dikenal menghampiri MR. Tanpa basa basi mereka memukuli anak pejabat pemerintahan Iran ini.Para pelaku adalah polisi syariah di Iran terkenal bergerak dalam operasi senyap untuk mengamankan warga Iran sesuai syariah Islam. "Mereka seperti CIA, kami menyebut mereka pembunuh dalam kesunyian," kata MR saat ditemui merdeka.com Sabtu pekan lalu di Kelapa Gading, Jakarta Utara. "Mereka membunuh orang-orang dan diizinkan oleh negara dengan sangat mudah, sampai kau tidak bisa membayangkan."Setelah dikeroyok, MR bersama ibunya pun kerap mendapat teror mental. Mereka didiskriminasi atas ideologi tak sepaham dengan pemerintah pusat, tidak dapat pendidikan layak, dan ekonomi keluarga mereka dihambat."Bagi pencari suaka seperti kami tidak mudah menceritakan kasus ini. Ini sifatnya rahasia dan sangat pribadi," ujar mantan mahasiswa jurusan teknik sipil di Teheran ini.Ancaman pembunuhan makin sering terjadi. Rasa takut kian menghantui MR dan ibunya. Apalagi, beberapa teman dan anggota keluarga mereka pernah punya kasus serupa. Diculik, dihilangkan dan dilukai.Dia mencontohkan petaka menghampiri keponakannya. Dia diculik dan baru ditemukan tiga pekan kemudian dengan tubuh kurus serta penuh luka. Masalah dialami MR dan ibunya bertambah rumit saat tahu ayah mereka tidak mampu melindungi. Padahal dia pejabat birokrasi di Teheran. "Ayah saya aman dan dia lah membuat masalah itu. Saya punya masalah dengan ayah saya," tuturnya.Tidak mendapat dukungan moril dari sang ayah ditambah ancaman pembunuhan membuat MR memutuskan lari dari Negeri Persia itu. Dia lantas menghubungi temannya di Australia dan dikasih nomor telepon agen penyelundupan orang dapat membawa dia ke negara Kanguru itu lewat Indonesia. Dalam dua hari dia sudah terbang meninggalkan tanah airnya. Dengan segepok uang berjumlah US$ 230 ribu di tangan, MR tak perlu pusing untuk dapat keluar dari Iran. Dia menyogok polisi sampai petugas imigrasi lantaran namanya masuk daftar hitam melarang dia bepergian ke luar negeri. "Dengan uang mereka dapat menghapus daftar hitam saya dan dalam dua jam mereka memasukkan saya lagi ke dalam daftar hitam," ucapnya puas.Lega dapat lari dari Iran, MR dan ibunya tak tahu seperti apa keadaan imigran gelap di Indonesia. Setibanya di negara ini dia sadar hidup nyamannya tinggal seujung kuku.

Rekomendasi