Profesi pembaca doa di pemakaman mungkin dianggap sepele bagi sebagian besar warga ibu kota. Meski demikian, segelintir orang masih mencoba mengadu peruntungan dengan pekerjaan ini. Petugas kebersihan dan penataan Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Dian, menuturkan setiap hari memang ada orang berprofesi sebagai tukang mengaji. Di hari biasa hanya ada sekitar lima orang biasa mangkal. "Mereka biasa menunggu kalau-kalau ada yang minta didoakan," kata Dian.Jumlah mereka meningkat menjelang puasa dan lebaran. Hal ini seiring dengan naiknya angka peziarah. "Bisa antara 15 sampai 20 orang," kata Dian.Para tukang doa ini bukan berasal dari permukiman di sekitar pemakaman. Sebagian besar bahkan datang dari luar Jakarta. Mereka menginap di sebuah musala di perkampungan sekitar. "Ada yang dari Pekalongan, Brebes, macam-macam. Biasanya mulai H-2 lebaran mereka datang," ungkapnya.Selanjutnya, terang Dian, para tukang doa ini tidak perlu bersusah payah menjalankan praktik di pemakaman. Cukup memberitahu pengelola, mereka bisa langsung mencari pelanggan. Jika sulit ditemukan, tinggal bilang saja ke petugas penata makam. Kadang para tukang doa ini akan menghampiri peziarah dan menawarkan jasanya. "Mereka tidak memiliki hubungan dengan pengelola pemakaman, sama seperti kami petugas penata makam. Kami hanya mengandalkan pemberian dari peziarah," tutur Dian.Saat peziarah meningkat, permintaan doa naik. Saking banyaknya, para tukang doa ini sering kewalahan. Mereka harus berpindah dari satu makam ke lain untuk memenuhi permintaan peziarah. "Kadang mereka juga gantian. Kalau satunya capek, lainnya gantiin," kata Dian.Meski mendapat hasil cukup banyak menjelang puasa dan lebaran, bukan berarti penghasilan mereka bisa dikatakan stabil. Mereka tetap harus menyisakan sedikit ruang di hati untuk keikhlasan. Ini lantaran tidak semua peziarah menggunakan jasa mereka. "Kalau rombongan biasanya ada yang memimpin doa. Kalau sudah itu, biasanya nggak pakai jasa tukang doa," kata Dian. Alhasil, para tukang doa ini terpaksa gigit jari.