Bersuara lantang lewat Marjinal

Hingga saat ini lagu-lagu mereka kesohor sebagai bentuk perlawanan, kritik atas sistem salah dari negara ini.

Arbi Sumandoyo
Oleh Arbi Sumandoyo - Reporter
Bersuara lantang lewat Marjinal
Mike dan Bob Pensil. Facebook Mike

"Kami menyuarakan lewat lagu. Menyuarakan kenyataan apa yang harus kami suarakan," begitu Mike membuka perbincangan dengan merdeka.com Kamis pekan kemarin. Dia mengenang peristiwa 1998 saat Indonesia dirundung kerusuhan merupakan salah satu cikal bakal dia konsisten bersuara lewat grup musik beraliran punk bernama Marjinal.Band itu mulanya bernama Anti-ABRI kemudian berubah menjadi AntiMilitary lalu berganti Marjinal. Lewat lagu Mike dan Bob bersuara lantang menentang kekerasan. Menolak kekerasaan karena perbedaan dan memperjuangkan arti dari keragaman sesungguhnya. "Marjinal itu dipilih karena kita ini kaum marjinal," kata Mike.Jauh sebelum kerusuhan Mei 1998, Marjinal sudah mulai membentuk komunitas. Awalnya mereka menamakan komunitas itu Tempe Sosiality. Artinya mental bangsa ini harus berisi kandungan dari tempe. Pemberi banyak protein dan menyehatkan banyak orang. "Jangan bangga kalo makan KFC. Tempe itu di luar negeri harganya berapa dolar?" ujar Mike menguatkan argumentasi. Kemudian mereka mengganti nama menjadi Anti Facist Racist Action (AFRA).Pada 2003 komunitas itu berganti nama menjadi Taring Babi. Di pinggir selatan Jakarta mereka berbaur dengan warga Kampung Setu Babakan. Mengontrak sebuah rumah sebagai wadah berkreasi dan hidup harmoni bersama penduduk sekitar di Gang Setiabudi, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.Nama Taring Babi disematkan untuk menolak bala. Terinspirasi dari suku pedalaman di Papua, Mike menjelaskan arti nama komunitas buatannya. Ketika orang sudah bisa memegang taringnya, artinya dia mampu mengendalikan hewan nista itu. Babi adalah hewan rakus sama seperti sama seperti sifat manusia. Ketika bisa mengontrol sifat ini berarti mampu menjadi manusia seutuhnya. Menghormati perbedaan tanpa kekerasan dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia."Babi itu apa? Binatang Rakus. Tahinya aja dimakan, dia itu pemakan segala," tuturnya. "Kita disini mencoba menjalani filosofi hidup untuk menjadi manusia sesungguhnya."Mike dan Bob menolak disebut sebagai anak band. Bagi Mike, lagu-lagu di Marjinal merupakan kesadaran melawan sistem politik kotor di negeri ini, khususnya melawan ideologi fasis militeristik rezim Orde Baru. Sejak menjadi Marjinal, mereka mencoba berbaur ke tengah masyarakat, belajar dari keseharian sekaligus menjadikan inspirasi untuk menciptakan lagu-lagu. Lirik-lirik lagu Marjinal mengangkat persoalan tetangga, kawan, dan masyarakat. Mereka mengambil apa yang menjadi kegelisahan di tengah masyarakat. Lagu berjudul Marsinah menjadi contoh penderitaan buruh saat itu. Marsinah tewas setelah dia mencoba menyuarakan hak-haknya di tempat dia bekerja. "Kita cuma jadi cermin merefleksikan segala yang dirasakan masyarakat," kata Mike.Selama 16 tahun berdiri, Marjinal menelurkan lima album, yakni Ditindas atau Bangkit Melawan, Anti Military, Termarjinalkan, Predator, dan Partai Marjinal dirilis saat Pemilu 2009. Hingga saat ini lagu-lagu mereka kesohor sebagai bentuk perlawanan, kritik atas sistem salah dari negara ini.

Rekomendasi