Bikin pedas dunia maya

Tarif sekali kencan dengan cabe-cabean dipasarkan lewat media sosial Rp 3,5 juta.

Arbi Sumandoyo
Oleh Arbi Sumandoyo - Reporter
Bikin pedas dunia maya
Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com

Setelah muncul istilah jablai alias jarang dibelai, fenomena baru masih hangat di kalangan gadis remaja di Jakarta muncul istilah cabe-cabean. Nama itu muncul lantaran cabe-cabean kerap dipakai sebagai taruhan dalam balapan motor liar. Bagi pelacur berusia 13 tahun sampai 16 tahun kini menyandang predikat cabe-cabean memiliki nilai jual tersendiri. Pasarannya naik menyaingi para pelacur di tempat prostitusi berkedok spa. Sekali main tarifnya Rp 1 juta sampai Rp 3 juta. Jenis ini masuk kategori cabe ijo.EZ alias Kampleng, penyedia jasa cabe-cabean di Jakarta Barat, menangguk untung. Saban hari ada saja pesanan masuk di telepon selulernya. Saban cabe-cabean binaannya dipesan orang, dia mendapat Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.EZ bukanlah germo pengikat. Dia hanya diminta memasarkan temannya. Untuk bertransaksi, EZ biasanya menunggu di sekitar Kembangan, Jakarta Barat. Selain itu, dia memasarkan melalui telepon seluler dengan orang tertentu."Ada usianya 16 tahun, harganya Rp 700 ribu tapi nggak bisa malem," kata EZ kepada merdeka.com akhir bulan lalu. Pelacur cabe-cabean dagangan EZ tidak beroperasi malam karena masih beratus anak SMA di Jakarta Barat. Dia hanya menyanggupi pesanan cabe-cabean buat dipakai siang. Bagi kalangan anak motor balap liar di Jakarta Barat, nama EZ memang dikenal memiliki banyak stok cabe-cabean. Bisnis itu dilakukan lantaran butuh untuk merombak sepeda motor.
Seperti pengakuan B, seorang joki balap liar. Uang hasil menjual cabe-cabean buat memodifikasi sepeda motornya. "Uangnya kembali lagi ke jalan," kata B.Sejalan dengan itu, fenomena cabe-cabean juga marak di jejaring sosial. Tarif mereka meroket. Jika pasaran cabe-cabean di Jakarta Barat paling kecil Rp 500 ribu. Melalui Twitter, seorang germo membanderol cabe-cabean hingga Rp 3,5 juta sekali kencan.Seorang germo mengaku bisa menyediakan cabe-cabean dari kalangan SMA. Di akun jejaring sosial miliknya dia menyertakan pin BlackBerry untuk bertransaksi. Tak lupa, foto tanpa busana cabe-cabean juga dipajang. "Nih yang mau cabe-cabean, add pin gue atau DM ya," tulis akun Twitter seorang germo.Pengamat kejahatan dunia maya Judith MS mengatakan saat ini pelacuran melalui jejaring sosial makin meningkat. Polanya kebanyakan pelacuran di bawah umur menggunakan Facebook dan Twitter. Kementerian Komunikasi dan Informasi telah menutup sejumlah akun penyedia pelacur. Namun para pelaku menggunakan forum untuk bertransaksi.Perlu mendaftarkan surat elektronik jika ingin masuk ke forum tersebut. Isinya jual beli pelacur di bawah umur hingga dewasa. "Satu diberantas dan tumbuhnya makin banyak," kata Judith melalui pesan BlackBerry.

Rekomendasi