Menjadi sopir truk di perusahaan ekspedisi butuh pengorbanan. Jauh dari keluarga, jarang menyentuh istri. Seperti itu perasaan Mudji, 40 tahun, sopir truk perusahaan ekspedisi otomotif. Sebab itu, dia merasa terhibur oleh rombongan-rombongan biduan biasa beroperasi di sekitar garasinya, Jalan Raya Tugu, Koja, Jakarta Utara, dekat simpang lima Semper. Hiburan dangdut jalanan itu sudah cukup mengusir rasa capek setelah dua hari penuh bekerja. "Kita sudah kerja jauh dari keluarga, capek butuh yang segar biar semangat terus. Kalau ada biduan-biduan itu lumayan menghibur," kata lelaki asal Cirebon ini saat ditemui merdeka.com di garasi perusahaannya Rabu pekan lalu. Dia merasa tidak perlu melemaskan otot meski sejumlah pengamen perempuan itu bisa melayani permintaan seks. Menurut ayah tiga anak ini, hal itu cuma menghamburkan fulus dan mengotori niatnya bekerja buat keluarga di kampung. Lain dengan Rahmat, lajang 23 tahun menjadi kernetnya. Dia lebih kesengsem goyangan biduan jalanan itu di kolong truk. Setelah menuntaskan libidonya, dia bisa tidur seraya tersenyum. "Biar pules tidur saja, lumayan hilangin capek. Kalau dia (Mudji) setahu saya enggak pernah sampai main, paling cuma ikut nyanyi-nyanyi saja," ujar pemuda akrab disapa Mamat ini. Tidak semua sopir dan kernet truk menganggap biduan-biduan itu sebagai mainan. Mamat mengungkapkan ada temannya sesama kernet mengawini seorang di antara mereka. Dari pernikahannya itu, dia telah dikaruniai dua anak. Begitu juga, tak semua biduan perempuan gampangan, terutama yang masih muda. "Banyak juga kok yang enggak mau, apalagi ada juga yang masih muda," tutur Sutrisno.