Setelah terbang hampir delapan jam dari Papua dan menggelar konferensi pers di Jakarta, Ajun Inspektur Satu Labora Sitorus, pemilik dana Rp 1,5 triliun di rekeningnya, ditangkap di kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jalan Tirtayasa, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tepat di depan kantor Komisi kepolisian Nasional. Dia dibekuk usai melapor ke komisi itu. Juru bicara Kepolisian Daerah Papua Barat Komisaris Besar I Gede Sumerta Jaya mengatakan pihaknya terus mendalami jumlah transaksi di rekening Sitorus. “Yang pasti dia tidak dalam jajaran perusahaan diduga menyelundupkan BBM (Bahan Bakar Minyak),” katanya saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya Jumat pekan lalu. Sumerta menjelaskan hasil penelusuran sementara menunjukkan Sitorus tidak terikat dengan perusahaan itu. Tidak ada dokumen menyebutkan dia memimpin PT SAW. Meski begitu, polisi telah menyita satu kapal, 1.500 batang kayu merbau, 115 kontainer buat mengangkut kiriman kayu, dan dokumen transaksi.Kuasa hukum Sitorus, Azet Hutabarat, menampik dugaan rekening gendut milik Labora berasal dari pembabatan hutan. Dia menyatakan dana kliennya berasal dari perusahaan keluarga. Untuk membuktikan, dia meminta polisi menyelidiki direksi dari PT Rotua dan PT SAW.Dia menjelaskan Sitorus tidak termasuk dalam dewan direksi perusahaan berbisnis kayu dan minyak bumi. "Uang itu diletakkan ke rekening LS karena dinilai lebih aman. Juga karena dia merupakan polisi," ujarnya. Pimpinan Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Bustar Maitar mengatakan Sitorus adalah contoh kecil keterlibatan aparat dalam pembalakan liar di Papua. Hal ini terjadi karena minimnya pengawasan aparat. “Kalau ditelisik lebih dalam, banyak aparat juga terlibat. LS ini contoh kecil banget,” katanya.Dia mengatakan kerusakan hutan Papua sudah bisa terlihat dari udara. Luas hutan digunduli saban tahun mencapai 300 ribu hektar. Luas hutan Papua 45 juta hektar. Kayu paling banyak diambil saat ini adalah kayu merbau atau sejenis meranti di Kalimantan. Kayu-kayu ilegal ini dikeluarkan hampir setiap hari dari Papua melalui berbagai celah, bukan hanya dari Sorong. “LS bukan hanya beking, kalau dilihat dia adalah pelaku."Kayu-kayu itu, menurut Bustar, diolah setengah jadi sebelum dikirim ke luar atau dalam negeri. Areal dirambah terus meningkat seiring dibukanya akses jalan di Papua atau Trans Papua mencapai ribuan kilometer.