Berlomba buat alat deteksi

Sejumlah perguruan tinggi ikut mengembangkan alat pendeteksi longsor.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Berlomba buat alat deteksi
Alat pendeteksi longsor dari UGM. ©Dwikorita Karnawati dan Faisal Fathani

Wajar para ilmuwan berlomba-lomba mencari solusi tepat membuat alat pendeteksi longsor. Sebab bencana ini memang kerap terjadi. Tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, melainkan juga memakan banyak koban jiwa. Apalagi memprediksi kapan longsor muncul sulitnya minta ampun.Sebenarnya alat pendeteksi longsor ini sudah dibuat di beberapa negara, misalnya Jepang, Australia, dan Filipina. Jepang sempat membekali satu paket alat kepada empat mahasiswa program master dan doktor se-Asia Tenggara ketika meneliti longsor di Indonesia. Penelitian itu dibimbing Dwikorita Karnawati, dosen Teknil Sipil di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.Selepas penelitian itu, Dwikorita dibantu koleganya Faisal Fathani segera merancang sendiri alat itu. Pertimbanganya, alat buatan Jepang ribet, harganya mahal. Lalu pada 2007 alat pendeteksi dini pertama dikenalkan oleh Dwikorita dan langsung diuji coba di Desa Ledok Sari, Kecamatan Tawang Mangu, Karanganyar, Jawa Tengah.Lalu setelah dua dosen itu, bagaimana perkembangan alat ini? Rupanya beberapa perguruan tinggi mulai mengembangan alat serupa. Misalnya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada 2010. Kampus itu mengembangkan teknologi alat pengintai longsor tanpa kabel. “Nama alatnya inklinometer”.Dua tahun kemudian giliran mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Herjuna Sandra Darnasatri. Dia berhasil menciptakan alat deteksi longsor tepat guna bersensor cahaya. Seperti dikutip dari situs Humas UMY, dengan alat ini tanda-tanda bencana itu bisa diketahui dari nyala lampu dan bunyi sirine ketika tanah bergeser.Herjuna mengatakan beberapa alat pendeteksi longsor diciptakan menggunakan potensiometer. Namun alatnya cukup memakai sensor cahaya, yakni LDR (light dependent resistor) dan LED (light emitting diodes). Potensiometer bila digunakan terus menerus dalam jangka waktu tertentu akan rusak. ”Berbeda dengan sensor cahaya karena lebih stabil dan mudah pembuatan mekanik dan kalibrasi alat.”Ihwal pengembangan alat-alat pendeteksi longsor ini, Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sempat mengatakan sebagai langkah antisipasi memasang alat pendeteksi memang penting. Namun solusi alat pendeteksi bukan satu-satunya. “Tingkat kepercayaan warga terhadap alat-alat itu sudah mulai menurun,” kata dia.Sutopo menjelaskan alat-alat pendeteksi selama ini terlalu sensitif, setiap hujan lebat dan sedikit saja muncul retakan, sirine tanda bahaya langsung berbunyi. Ketika sirine berbunyi, warga menjadi panik. Tapi kenyataannyalongsor tidak terjadi.

Rekomendasi