Meski monorel buatan Kusnan Nuryadi sudah berbentuk prototipe dan bisa dibuat massal, ternyata tidak mudah meyakinkan pemerintah menggunakan produknya. Apalagi, meyakinkan investor untuk membiayai. Namun, hal itu tidak membuat Kusnan dan perusahaannya berhenti terus memperbaiki sistem-sistem kecil untuk monorel hasil desainnya.Untuk biaya penelitian dan pembuatan prototipe monorel, perusahaannya, PT Melu Bangun Wiweka (MBW) mengeluarkan dana sendiri. Beruntung perusahaannya berpengalaman dalam bidang pembuatan peralatan mesin dan sistem otomasi. “Yang banyak membiayai untuk penelitian dan pembuatan monorel ini dari hasil penjualan mesin pembuat aspal hotmix,” kata Kusnan kepada merdeka.com Selasa siang pekan lalu di kantornya, Tambun, Bekasi, Jawa Barat.Kalau tidak begitu, menurut Kusnan, usahanya membuat monorel tidak akan pernah tercapai. Kusnan bukanlah orang kemarin sore dalam dunia rancang bangun konstruksi. Dia adalah salah satu desainer garbarata atau lebih dikenal dengan 'belalai gajah'. Alat yang digunakan sebagai jembatan penghubung dari pesawat ke terminal bandara. Alat itu sudah melanglang buana di berbagai bandara internasional dan diakui dunia. Kusnan belajar banyak dari pembuatan garbarata itu. Meski secara kualitas sudah bagus, tapi menurut dia, mulanya pemasaran alat itu begitu sulit. Demikian juga soal pembuatan protipe monorel. Akhir bulan lalu, prototipe monorel rancangan Kusnan dikunjungi Jokowi dan Jusuf Kalla. Dari lawatan itu, Kusnan berharap monorelnya bisa dijadikan pilihan untuk mengurai kemacetan Jakarta. Dia optimistis saat ini sudah ada beberapa calon investor sanggup membiayai produksi massal. Rencana produksinya dilakukan oleh PT Flobbus Indonesia berlokasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat. “Kemarin Pak Jusuf Kalla tertarik membuat monorel di Makassar.” Lalu apakah sudah ada investor masuk hendak membangun monorel di Jakarta? "Sekarang masih menunggu pesanan. Kalau ada pesanan, produksi baru bisa dilakukan,” tuturnya.Kusnan menuturkan dia bersama MBW sudah meneken kontrak untuk membangun monorel di Makasar, Sulawesi Selatan. Dia memperkirakan pembangunan infrastruktur di Makasar berlangsung mulai tahun depan. Sedangkan untuk pembangunan seluruh infrastruktur monorel, Kusnan menghitung, membutuhkan waktu dua tahun. Di sisi lain, prototipe monorel buatan Kusnan hingga kini juga belum mengantongi sertifikat hasil uji kelayakan resmi dari pemerintah. Apalagi mematenkan desain teknologi. Sebab itu, dalam waktu dekat dia hendak bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Setelah itu baru produksi bisa dilakukan, tentunya bila ada pesanan.