Serasa di hotel berbintang

Fasilitas kelas satu Titanic dirancang seperti hotel mewah Ritz Carlton di Ibu Kota London, Inggris.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Serasa di hotel berbintang
Kondisi ruang merokok di kapal Titanic. (gpsed.com)

Kapal pesiar mewah Titanic merupakan gagasan Perusahaan White Star Line asal Inggris milik J. Bruce Ismay. Pria itu menyematkan nama dewata buat kapal itu. Titan adalah nama dewa-dewi Yunani yang dipercaya menciptakan alam semesta.Agar sesuai nama itu, Titanic akhirnya dirancang memiliki fasilitas termewah pada masanya. Ismay menginginkan kapal ini serupa hotel bintang lima yang mengapung di air. Deskripsi fasilitas Titanic ini bersumber dari liputan khusus sejarah nahas Titanic yang dilansir surat kabar the New York Times, 8 April 2012.Awalnya, Ismay hanya ingin menyasar penumpang dari kalangan berduit. Namun, melihat animo masyarakat amat tinggi setelah kabar pembuatan kapal ini menyebar, dia memutuskan membuka pula kelas ekonomi di bagian paling bawah.Sehingga Titanic dapat menampung manusia terbanyak zaman itu, mencapai 3.339 penumpang. Buat orang berduit terdapat dek kelas satu untuk 739 orang. Kelas dua 674, dan sisanya, 1.026 jatah buat penumpang kelas tiga.Kamar buat kelas satu amat mewah. Ada dekorasi di dinding, kasur berkelambu, dan kursi kayu mahal. Ismay meminta perancang kapal meniru wujud kamar di Hotel Ritz Carlton, London, sebagai acuan.Fasilitas utama paling menonjol di Titanic adalah tangga utama di Dek D. Bentuknya mewah dan menyerupai tangga hotel berbintang. Ada juga perpustakaan, tempat cukur rambut, sampai restoran dengan sajian masakan Italia mahal di bagian Dek B. Semua itu khusus buat penumpang kelas satu. Bila ingin berolahraga, penumpang Titanic bisa mendatangi pusat kebugaran, kolam renang dalam ruangan. Puas berolahraga, mereka bisa berkunjung ke pemandian air panas.Penumpang kelas dua bisa mengakses beberapa fasilitas yang belum pernah ada di kapal lain saat itu. Bedanya, mereka tidak mendapat sajian masakan enak bila datang ke restoran, kecuali bayar sendiri.Paling apes penumpang kelas tiga yang jumlahnya mayoritas. Mereka hanya berhak ke perpustakaan, pusat kebugaran, dan tukang cukur. Kolam renang dan restoran tentu saja tidak masuk jatah mereka. Kamar mandi mereka juga dibikin per dek, tidak di tiap kamar tidur. Menurut beberapa kesaksian penumpang selamat, wujudnya seperti pemandian umum.Meski ada perbedaan fasilitas, selama pelayaran para penumpang membaur satu sama lain di dek terbuka atau di kanopi kapal. Semua asyik membicarakan kemewahan Titanic sesuai janji Ismay. Seluruh kemewahan itu tidak ada bekasnya setelah tabrakan dengan gunung es pada 14 April 1912 tengah malam. Hanya dalam dua jam, setelah berganti hari, semua fasilitas itu ikut tenggelam bersama sang kapal nahas ke dasar laut.

Rekomendasi