Zainal Abidin, 46 tahun, tidak pernah menyangka keputusannya pulang dari Palembang (Sumatera Selatan) menuju Jember (Jawa Timur) lewat Jakarta membuat dia harus terlunta-lunta di Stasiun Pasar Senen selama dua hari. Sistem penjualan tiket pasca aturan pembatasan penumpang mengakibatkan membuat rencana perjalanannya amburadul dan biaya membengkak. Lelaki berbadan kekar dengan tinggi sekitar 160 sentimeter ini berasal dari Kampung Kepel Ampel, Wuluan, Jember. Sejak awal tahun ini, dia menjadi buruh panen padi di lokasi transmigrasi tetangganya, Kabupaten Banyu Asin, Sumatera Selatan. Setelah lahan garapan selesai dipanen, Zainal bersama Suyitno dan Wahyudi Jumat pekan lalu berangkat pulang kampung. Dari Pelabuhan Merak (Banten), mereka naik bus ke terminal Pulo Gadung lantas lanjut ke stasiun Pasar Senen. Zainal memperkirakan dengan cara estafet itu, dia hanya bakal merogoh kocek kurang dari Rp 200 ribu. Tapi yang terjadi, hingga Pasar Senen, ketiganya sudah keluar hampir Rp 300 ribu, setara ongkos bus Palembang-Jember. Sabtu siang, Zainal tiba di stasiun Pasar Senen. Dia langsung menuju loket untuk membeli karcis kereta kelas ekonomi Kertajaya atau Gaya Baru Malam jurusan Surabaya. Harganya hanya Rp 36 ribu. Sayang, tiket buat hari itu sudah habis, bahkan hingga akhir bulan ini. Dengan langkah gontai dan raut muka kecewa, Zainal meninggalkan loket. Buru-buru sejumlah pria mendekati dirinya. Mereka menawarkan karcis jurusan Surabaya yang tadi dibilang habis. “Mereka menawarkan harga 136 ribu untuk hari itu dan 100 ribu untuk Minggu. Uang saya tidak cukup kalau beli itu,” ujarnya kepada merdeka.com, Ahad (25/3). Zainal masih tidak percaya, tiket kereta ekonomi jurusan Surabaya cepat habis. Dia tidak tahu PT Kereta Api Indonesia telah menerapkan aturan baru yang membatasi penumpang kelas ekonomi dan menghapus penumpang berdiri sejak 1 Oktober 2011. Meski sudah bertanya pada petugas loket dan banyak orang, Zainal tetap tidak percaya. Dia dan dua tetangganya itu memutuskan menginap di stasiun agar saat loket buka pagi langsung dapat tiket ke Surabaya buat Ahad.Hari sudah mulai sore. Zainal dan Suyitno bersama anaknya secara bergantian menuju kamar mandi umum untuk membersihkan diri. Setelah magrib, mereka mencari kardus bekas di sekitar kios stasiun buat alas tidur.Sekitar pukul 21.00, lokasi antrean tiket sudah sepi. Mereka bertiga langsung menggelar kardus di depan loket dengan tas punggung masing-masing sebagai bantal. Ketiganya lantas terlelap karena lelah. Ketika adzan subuh berkumandang, ketiganya lekas bangun, mandi lalu shalat. Sedari jam 06.00, Zainal sudah berdiri di depan loket. Alhasil, dia menjadi orang pertama. Sayang, lagi-lagi petugas memberitahukan karcis jurusan Surabaya buat hari itu habis.Dengan terpaksa, mereka mendekati calo-calo yang kemarin membujuk. Harga tak berubah, Rp 136 ribu per lembar. “Kalau mereka tidak mau 80 ribu per tiket, kita naik bis saja," ujar Zainal. Namun ia masih sangsi. Dia berharap calo-calo itu mau menurunkan tawaran mereka.