Pengusaha Johanes Paulus: Berkah musim hujan di bisnis payung

Sabtu, 10 Februari 2018 08:00 Reporter : Syakur Usman
Pengusaha Johanes Paulus. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Musim hujan telah tiba. Curah hujan tinggi sepanjang Februari ini. Bagi kebanyakan orang, musim hujan merepotkan karena harus sedia payung atau jas hujan. Tapi bagi sedikit orang malah membawa keuntungan ganda. Terutama bagi pengusaha payung.

Seorang yang sedikit itu adalah Johanes Paulus (36), pengusaha sekaligus pemilik toko Istana Payung yang dirintisnya sejak 2008. Uniknya, toko ini adalah hanya menjual kebutuhan khas musim hujan, yakni payung dan jas hujan. Tidak ada barang lain yang dijual selain payung dan jas hujan.

Di musim hujan seperti sekarang, menjadi berkah tersendiri baginya. Sebab, penjualan payung akan melonjak tajam. Diakui Johanes, rerata penjualan payung per bulan antara 1.000 dan 10.000 payung.

Konsumennya pun tersebar di berbagai daerah di Tanah Air, bahkan luar negeri, seperti Singapura dan Maldives. Sementara harga payung yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp 17,5 ribu per unit hingga Rp 250 ribu. Sedangkan jas hujannya juga menawarkan harga terjangkau. Mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 200 ribu per unit.

Saat ini, Johenes mengaku Istana Payung mampu meraih omzet Rp 50-100 juta per bulan. Untuk menjalankan bisnisnya, dia dibantu oleh 10 karyawan.

"Untuk pasar mancanegara, paling banyak kami kirim ke Maldives. Pasar Singapura juga cukup baik," ungkap sarjana ekonomi jebolan Universitas Bunda Mulia ini pada merdeka.com, beberapa waktu lalu.

Menurut pengusaha yang jago bermain musik ini, tokonya menjual sekitar 100 merek payung dari berbagai negara. Modelnya pun beragam, mulai dari payung lipat, payung panjang, payung golf, hingga payung mobil. Produksinya pun beragam, ada buatan lokal hingga buatan asing, seperti payung merek Rosida dan Jope asal Taiwan dan Jerman yang dikenal dengan kualitasnya. Sebagai toko spesialis payung, Johanes menyiapkan stok dalam jumlah besar; sekitar 1.000 lusin atau setara 12 ribu unit payung.

Bagaimana caranya menyiasati pasar di musim panas?

Johanes mengaku mengalihkan pasarnya ke pasar korporat yang memerlukan payung sebagai media promosi dan suvenir. Bahkan segmen pasar ini prospeknya cukup baik.

"Untuk payung promosi dan suvenir itu kustom, dengan minimal pemesanan sebanyak 10 lusin. Harga paling murah bisa Rp 25 ribu per buah dengan logo satu warna," ujarnya.

Selain menggarap pasar offline, sesuai zaman now, kini dia juga mengembangkan diri dengan membidik pasar online melalui website, media sosial, dan marketplace.

"Selain memperkuat pasar offline, saya ingin memperbesar pasar online agar kami tetap bertahan dan dicintai konsumen, selain tetap menjaga kualitas produk. Lantaran kami fokus di bidang ini, menjadikan kami lebih tahu barang yang bagus dan warna yang paling disukai oleh konsumen. Dengan fokus menjadikan kami lebih tahu produk yang disukai oleh pasar," ungkapnya.

Toko Paman

Johanes mengaku salah satu kunci sukses di bisnis ini adalah fokus dan konsistensi, sehingga tahu produk terbaik di bidang tersebut. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Johanes, yang konsisten membangun Istana Payung terkenal sebagai toko payung dan jas hujan, meski di musim panas sekalipun.

Istana Payung dibangunnya pada 2008, setelah sebelumnya menjajal berbagai profesi, seperti agen asuransi, salesman, hingga pegawai bank. Inspirasinya datang ketika 'bekerja' di toko payung milik pamannya selama empat tahun, yang dilakoninya sambil kuliah saat itu. Karakternya yang ulet dan pekerja keras membuatnya dapat melakoni dua peran sekaligus; sebagai mahasiswa dan pekerja. Untuk pilihan itu, dia pun harus memupuskan cita-citanya menjadi musikus.

"Hobi saya ini bermain musik. Saya bikin band bersama teman-teman. Tapi setelah kuliah, ada yang kerja dan bisnis, bubarlah band kami. Saya pun akhirnya lebih memilih kerja yang fleksibel. Jadi saya belajar bisnis payung di toko paman," ungkapnya sambil tersenyum.

Bermodal dana sekitar Rp 50 juta, Johanes memberanikan diri menyewa sebuah toko untuk menjajakkan payung-payungnya. Pengalaman bekerja di toko paman, membuatnya yakin bisnis payung masih memiliki prospek cukup bagus. Sebab Indonesia memiliki iklim tropis dan bisnis payung sangat bergantung pada cuaca hujan.

"Prospeknya bagus, apalagi kalau musim hujan. Saya satu-satunya toko yang sepanjang tahun hanya menjual payung. Sementara toko lain, ketika masuk musim kemarau, mereka beralih dengan menjual produk lain, seperti sandal, buku, petasan, dan lainnya. Saya sih tetap konsisten menjual payung. Jika kemarau toko sepi, itu risiko," katanya mantap.

Fokus dan konsistensinya di bisnis payung membuahkan hasil positif pada perkembangan bisnisnya. Sebab, dia semakin dikenal ke berbagai penjuru Tanah Air sebagai penjual payung yang tak kenal musim. Tak heran bila konsumen dari mana pun, yang mencari payung, tak segan-segan langsung datang ke tokonya yang berada di kawasan Perniagaan Timur, Jakarta Barat. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Musim Hujan
  2. Wirausaha
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini