Pengungsi Rohingya, malam di penampungan siang di rumah kontrakan

Selasa, 12 September 2017 07:00 Reporter : Yan Muhardiansyah, Masfiatur Rochma
Pengungsi Rohingya di Sumatera Utara. ©2017 merdeka.com/yan muhardiansyah

Merdeka.com - Muhammad Abdullah terpaksa bolak-balik dari tempat pengungsian menuju rumah kontrakan. Setiap hari. Semua rela dilakukan. Agar tetap bersama sang istri, Rizka Khoiriyah Siregar. Lebih kurang setahun pernikahan mereka berjalan. Dua keluarga setuju. Tetapi negara menghalangi. Bukan karena faktor beda iman. Mereka terkendala masalah peraturan.

Status pengungsi asal Rohingya melekat di tubuh pemuda 28 tahun itu. Dia selama ini berada dalam penampungan di wilayah Medan, Sumatera Utara. Tinggal bersama pengungsi lainnya. Namun, dia beruntung. Berhasil menggaet hati wanita Indonesia. Akhirnya pasangan ini resmi menikah. Wanita berusia 24 tahun itu luluh dengan kegigihan sang suami. Meski sadar masalah di depan telah menanti.

Sulit bagi Abdullah jauh dengan istri tercintanya. Larangan keras diterapkan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), organisasi internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ditambah adanya peraturan dari pemerintah Indonesia. Intinya, Abdullah tidak bisa bekerja maupun pindah warga negara. Bahkan tidak boleh keluar lebih dari pukul 8 malam. Dia harus tunduk aturan.

Soal masalah hati, ini tidak bisa ditahan. Sebagai pemuda dewasa, dia merasa sudah mantap dengan pilihan. Rizka dipilih menjadi istri. Namun aturan membuatnya harus putar otak. Alhasil, istrinya disewakan kontrakan di kawasan Amplas. Persis dekat pengungsian. Harga sewanya lumayan murah. Mereka cuma bayar Rp 4 juta per tahun. Sehingga mudah bolak-balik. Ketika siang berada di pelukan sang istri, sedangkan malam terpaksa tidur dengan rekannya sesama pengungsi.

Rizka tak masalah dengan cara ini. Sang suami semakin membuatnya kuat. Menjalani kehidupan sendiri tiap malam. Tak ada suaminya di tengah ranjang. Meski begitu, perempuan asal Sibuhuan, Padang Lawas, itu bisa lega. Dukungan keluarga begitu besar. Ayahnya saja sampai turun tangan urus pernikahan. "Yang menikahkan langsung ayah saya, cuma pakai surat keterangan bermeterai," kata Rizka kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Perjalanan cinta mereka cukup unik. Perkenalan bermula dari Facebook pada tahun 2013 lalu. Dua tahun berkomunikasi via media sosial, mereka akhirnya bertemu di Pinang Baris. Saat itu Rizka berlibur di rumah kerabatnya. Komunikasi semakin intensif. Hingga tahun berikutnya mereka menikah.

Hasil pernikahan Abdullah dan Rizka telah dianugerahi buah hati. Seorang bayi laki-laki berusia 7 bulan, bernama Muhammad Rayyan Al Ghaffari. Kehadiran bayi lucu ini justru menjadi polemik. Di satu sisi mereka bersyukur. Sedangkan di sisi lain, timbul kekhawatiran. Terutama status kewarganegaraan sang anak. Padahal persoalan pernikahan mereka belum juga tuntas.

Abdullah bukan satu-satunya pengungsi telah menikah dengan wanita Indonesia. Tercatat ada 14 pengungsi Rohingya di Hotel Pelangi telah menikah dengan warga negara Indonesia. Untuk itu, dirinya berharap cepat mendapat kepastian. Semenjak punya anak, tampaknya dia lebih pasrah. Sehingga tidak lagi mempersoalkan apakah diberangkatkan ke negara ketiga atau tidak. Dia hanya berharap ada kejelasan status. "Saya tidak masalah di mana saja, yang penting saya ada status," sebut Abdullah.

Kepasrahan juga disampaikan Muhammad Yunus. Pengungsi Rohingya yang ditampung di Wisma YPAP I. Setelah mempersunting Miftahul Zannah (23), perawat asal Batubara, Sumut. Pria 31 tahun itu bahkan menyatakan siap menjadi warga negara Indonesia. Nasibnya dalam pernikahan mirip dengan Abdullah. Bahkan koceknya lumayan besar. Dia harus mengeluarkan biaya Rp 10 juta setahun dekat lokasi penampungan Wisma YPAP I.

"Kami punya anak satu. Saya sudah siap, tidak seperti yang lain, saya yakin punya pekerjaan di sini," ucap Yunus. Dia mengaku tiba di Indonesia sejak 2009 ini.

Walau begitu, harapan Yunus dan Abdullah masih bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak diizinkan. Dilarang menjadi warga negara Indonesia. "Itu masalahnya belum bisa kita bicarakan. Itu ada undang-undangnya, pencari suaka tidak mungkin menjadi warga negara Indonesia. Tapi kalau anak dia mungkin ada kebijakan dari pemerintah, tapi kalau yang bersangkutan enggak bisa," jawab Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Medan, Abdul Karim.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Polonia, Ekjon Warman Lingga, menyampaikan hal senada. Dia menyebut belum ada aturan perkawinan antara warga Indonesia dengan para imigran pencari suaka. "Sampai saat ini belum ada peraturan yang mengatur."

Walau sulit masalah pernikahan, justru berbanding terbalik dengan masalah pendidikan. Abdul Saleh (10), tampak bersemangat. Mengenakan seragam putih merah khas siswa sekolah dasar (SD). Tinggal di pengungsian tidak membuatnya menyerah untuk mendapat pendidikan. Bocah itu gigih. Kini bersekolah duduk di kelas I SD Swasta Cerdas, Jalan Flamboyan Raya Gang Suka Sama, Tanjung Selamat, Sumut.

Anak-anak ini fasih berbahasa Indonesia. Bahkan lebih lancar dari pengungsi dewasa. Beberapa bahkan sudah memiliki logat orang Medan. Sebagian siswa membawa bekal ke sekolah. Mereka mengaku ingin berhemat.

Wajar. Jika mereka pilihannya berhemat. Sebab, sekolahnya tidak gratis. "Uang sekolah SD Rp 100 ribu per bulan, kalau TK Rp 150 ribu per bulan. Di luar itu ada saja pengeluaran dalam sebulan," ungkap Shofi Alam (32), pengungsi dengan dua anak sekolah di SD Swasta Cerdas.

Kata Shofi, bukan hanya biaya bulanan. Uang harus dikeluarkan saat anaknya pertama kali sekolah hampir Rp 1 juta. Tiap tahun ajaran baru hampir Rp 600 ribu. "Jadi uang bantuan yang didapat anak-anak habis untuk sekolah saja," sebutnya.

Kondisi kentara berbeda untuk pengungsi Rohingya di Sidoarjo. Peraturan ketat benar-benar diterapkan. Di sana lebih kurang diisi 13 orang pengungsi. UNHCR menampung mereka di Apartemen Sederhana (Aparna). Berlokasi di komplek Puspa Agro Sidoarjo.

Mereka mendapat fasilitas lumayan lengkap. Kelengkapan itu justru ada larangan berat wajib diterapkan. Mereka dilarang menikah. "Bahkan selama ada di Aparna juga tidak Boleh menikah. Mungkin juga berlaku bagi para imigran lain di Indonesia," kata Mohamad Suaib kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu. Pemuda ini salah satu pengungsi Rohingya tinggal di Aparna, Puspa Agro Sidoarjo.

Kendari begitu, warga sekitar lokasi pengungsian tidak merasa risi. Para pengungsi Rohingya ini menghormati warga pribumi. Seperti diutarakan salah seorang pemilik warung, Kusniyah (45). Menurutnya, para pengungsi khususnya warga Rohingya itu cukup sering berkunjung ke warungnya. Mereka datang bergerombol. Banyak pula mereka datang sendiri. "Sekedar ngopi atau ketemuan sama pacarnya," terang Kusniyah. "Tapi gak boleh dibawa masuk ke Aparna karena dijaga ketat," tambah dia.

Kegiatan dilakukan para pengungsi juga santai. Setiap pagi, kata Kusniyah, saat berolahraga para pengungsi sering menyapa warga sekitar. Saking akrabnya, banyak pengungsi mulai lancar berbahasa Indonesia. Kondisi ini dikhawatirkan membuka mereka kembali menggaet para wanita Indonesia. Mudahnya komunikasi menjadi kuncinya. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.