Wawancara Khusus

Nagara Rimba Nusa, Konsep Masa Depan Ibu Kota Baru RI

Rabu, 25 Desember 2019 07:03 Reporter : Anisyah Al Faqir
Nagara Rimba Nusa, Konsep Masa Depan Ibu Kota Baru RI Pemenang desain ibu kota baru. ©istimewa

Merdeka.com - Desain Ibu Kota Baru Indonesia sudah diketok. Seorang arsitek bernama Sofian Sibarani dipilih sebagai pemenang. Ide ditawarkan bernama Nagara Rimba Nusa. Sebuah perpaduan konsep menarik untuk pembangunan yang ramah lingkungan dan berbasis smart city.

Sofian merupakan pendiri sekaligus arsitek dari Urban+. Kompetisi desain ibu kota negara sengaja diikuti. Bagi dia ini merupakan wadah bagi para ahli untuk menyatukan pikiran membentuk desain ibu kota baru yang bisa dibanggakan.

Lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1997 ini tidak bekerja sendiri membuat konsep desain ibu kota baru. Bersama tim, Sofian kemudian merancang kompleks bangunan yang sengaja saling berdekatan.

Dalam rancangannya, Sofian dan tim juga mengadaptasi prinsip bio mimikri. Lewat pemikiran itu, mereka mencoba menyesuaikan pembangunan dengan karakteristik hutan sehingga tidak menghalangi aliran air dan angin.

Berikut petikan wawancara jurnalis merdeka.com Anisya Al Faqir dengan Sofian Sibarani pada Selasa, 24 Desember 2019:

1 dari 3 halaman

Arti Nagara Rimba Nusa

Bisa diceritakan bagaimana Anda awalnya membuat konsep desain ini bernama Nagara Rimba Nusa?

Nagara Rimba Nusa terdiri dari tiga kata. Nagara artinya suatu pemerintahan, Rimba itu artinya hutan dan Nusa itu artinya pulau. Jadi kami memiliki tiga aspek ini karena mewakili pendekatan kami yang di mana pemerintahan itu ada di daerah Rimba juga terinspirasi oleh Nusantara, hal yang menyatukan kita sebagai bangsa itu salah satunya kita adalah negara kepulauan. Jadi dalam hal yang lebih mikro kita membuat konsep seakan-akan kepulauan ini berada di dalam master plan kita.

Setiap daerah-daerah yang kita bangun itu, kalau pulau-pulau kan itu selalu dikelilingi oleh kalau tidak air dikelilingi oleh sesuatu yang di luar pulaunya sendiri. Nah pulau itu daerah pembangunan kita yang di sekitarnya ada sesuatu. Nah, lautan ini kita buat adalah hutan hijau dan juga lautan biru. Jadi selalu dikelilingi atau dilingkupi oleh, selalu dalam tiap kita jalan beberapa 10 sampai 15 menit akan ketemu beberapa area hijau.

Dari mana inspirasi desain Nagara Rimba Nusa?

Memang kalau saya lihat ada lokasi yang kami pilih adalah daerah bekas perkebunan. Perkebunan itu secara bentuknya kalau dilihat dekat dengan daerah tepian hutan. Daerah perkebunan ini kan polanya yang sangat jelas, bukan pola hutan natural atau alami. Terlihat bentuknya seperti pulau-pulau atau hutan produksi yang monoculture sementara kalau hutan itu kan sangat beragam. Pola itu yang kami ambil sebagai inspirasi karena bentuknya seperti pulau.

Kami hanya mengambil lokasi bekas hutan tersebut, kami revitalisasi menjadi perkotaan atau daerah pembangunan dan mengganti yang memang sebelumnya, istilah kami sudah tidak kompatibel dengan alami.

Bisa dijelaskan bagaimana lokasi yang Anda dan tim Urban+ pilih itu?

Lokasi yang memang kurang kompatibel dengan sistem lingkungan. Kalau sistem lingkungannya itu kan sistem alami itu hutan kebetulan di sana ada hutan bakau hutan alami juga dan kami memang mengambil daerah yang sudah tidak alami lagi karena sudah diisi oleh hutan produksi kebetulan itu hutan kelapa sawit.

Untuk lebih tepatnya nanti akan dibangun di mana lokasi Nagara Rimba Nusa?

Di dekat bukit Sepaku, tetapi mungkin sedikit mengarah ke Balikpapan Bay, di daerah Penajam juga tapi bukan di daerah yang di tinggi. Ini di daerah yang sedikit lebih rendah.

Desain Ibu Kota Baru istimewa

Jika dilihat desain Nagara Rimba Nusa ini berada di kawasan datar bukan berbukit. Bisa dijelaskan tentang kondisi ini?

Sisi bagian atas yang dekat dengan jalan tolnya sudah berbukit tapi menuju ke daerah Balikpapan Bay-nya itu cenderung lebih flat. Daerah ini yang kita ambil kita cek dengan kontur nya memang daerah yang tingginya kelas 10 jadi lebih tinggi dari air. Kalau air itu kan nol, jadi ini sudah lebih tinggi dari pada air harusnya sih aman banjir.

Apakah ada negara lain yang jadi inspirasi desain Nagara Rimba Nusa?

Kami banyak mengambil elemen-elemennya dari berbagai negara tetapi tidak ada satu contoh dari negara kota khusus. Negara lain yang kita pakai jadi template tidak ada. Jadi memang (ide) kita datang dari benar-benar dari lokasi. Tetapi elemen seperti axis bisa kita ambil dari berbagai axis yang ada di kota-kota negara lain. Seperti Paris seperti blue bird farm design, di Washington DC itu ada Washington mall dan itu memang kita ambil dari berbagai kota-kota baik di dunia. Tapi tidak semua karena kita ambil elemen axisnya saja.

Apa yang ingin ditonjolkan dari desain Nagara Rimba Nusa?

Yang kita mau usung adalah bagaimana kita membuat suatu pemodelan kota yang sangat menghormati lingkungan, jadi bagaimana kita memberikan contoh kepada dunia bahwa kita mampu membuat sistem perkotaan yang selaras. Nah salah satu konsep yang kami usung dengan negara rimba Nusa ini adalah belajar dari hutan hujan tropis Kalimantan.

Hutan hujan tropis ini mempunyai layering sistem yang dimana kita mencoba mengikuti cara seperti itu di dalam bentukan kota dan bangunan kami. Teknik ini namanya bio mimikri.

Bio mimicking itu meniru-niru. Misalnya kalau di hutan tropis itu kan mempunyai underlayer. Di paling bawah itu daerah subur, daerah yang paling banyak varietas tanamannya, karena di daerah underlayer itu adanya di bawah. Di situ juga daerah yang paling banyak binatang. Jadi kami berpikir di kota kami buat kalau di level bawahnya itu harusnya tidak banyak bangunan yang kakinya menghujam ke tanah. Supaya air yang mengalir ke bawah itu terserap.

Kemudian angin juga, karena kami berpikir Kalimantan itu kan panas dan pada saat panas itu butuh aliran angin untuk bisa mengurangi temperatur dan juga chip island pulau atau daerah pulau-pulau panas. karena kalau di perkotaan itu pada saat kita sudah banyak bangunan karena tidak adanya angin biasanya akan mengumpulkan zona panas.

Nah kita membuat bangunannya dirate seperti bangunan Indonesia zaman dulu seperti rumah panggung. Rumah panggung itu kan bawahnya selalu terlewati angin. Itu adalah salah satu bentuk ekspresi yang kami lakukan untuk di kota ini jadi dia seperti mengikuti pola di hutan.

Kemudian kita juga menggunakan second layer di atasnya itu untuk green podium.Daerah hijaunya kita naikkan ke atas supaya microclimate yang itu biasanya kena sinar matahari mempunyai kanopi hijau. Jadi kita buat layering di atas supaya ketika orang jalan di lantai 2 pun tidak akan merasa panas.

Lalu di bagian paling atas biasanya hutan itu mencari matahari, yang paling tinggi itu mencari matahari paling terang. Nah itu kami pakai prototipe, jadi bangunan tinggi paling atas kita buatkan panel surya untuk menyerap energi panas. Bangunan seperti ini kan baru jenisnya, belum terlihat. Kita mau ibukota ini mempunyai suatu usaha yang lebih untuk membuat bangunan yang lebih ramah lingkungan dan juga kalau bisa menghasilkan energi sendiri.

Begitu juga air yang datang dari atas. Biasanya kalau di hutan hujan itu selain airnya ditaruh di atas, daun-daunnya memberikan pertahanan supaya airnya yang deras itu tidak langsung jatuh ke bawah.

Kalau kita itu menggunakan layering sistem ini, jadi air yang di atas itu kita collect (kumpulkan) dan kita masukan untuk jadi sumber air alternatif untuk bangunannya. Ditampung supaya bisa dipakai jadi kita tidak mengandalkan sumber air dari pusat yang kalau benar-benar harus minta dari PDAM itu sangat besar bebannya. Daerah Kalimantan ini kan salah satu hal yang diperlukan adalah sumber air yang banyak untuk perkotaan.

2 dari 3 halaman

Tampilkan Smartcity

Apa yang bakal membedakan ibu kota baru sebagai kota masa depan dibandingkan dengan Jakarta sekarang?

Mungkin bukan soal kota masa depan atau bukan tetapi di mana kota itu dimulai dari nol. Jakarta itu tidak memiliki kesempatan itu, karena kita datang diwaktu sejarahnya sudah banyak yang dilakukan yang tidak bisa di-undo. Misalnya jalan-jalan sudah jadi, gorong-gorong sudah dibuat sebesar itu, lebar jalan pun sudah jadi, bangunan sudah ada, kampung sudah terbentuk sehingga sangat sulit untuk membuat kota yang ideal.

Sementara kalau kita mulai hari ini dari tanah yang kosong, kita dikasih kesempatan untuk mencari konsep yang terbaik. Peluangnya sangat besar untuk bisa membuat semua antisipasi. Pembangunan yang dulu tidak bisa punya kesempatan untuk direncanakan lebih baik. Sekarang informasi sudah banyak, kita sudah belajarnya dari banyak sumber, tetapi kesempatan untuk membuat kota yang baik itu sulit dilaksanakan karena kita tanahnya sudah terbatas kalau di Jakarta. Lahannya sudah banyak yang mirip orang lain, kita tidak bisa sembarangan terobos.

Jadi kota masa depan ini menurut saya karena mempunyai titik awal yang masih dari nol, yah kita rencanakan sebaik-baiknya. Kasarnya kalau Jakarta itu sudah kota yang berumur. Kalau orang, ini sudah terbentuk, tapi kalau ibukota baru masih baru lahir dari nol, kita bisa kerahkan, kita bisa bentuk dia jadi kota yang lebih baik karena tidak ada sejarah dan beban masa lalu yang membebani kotanya.

Pada desain Nagara Rimba Nusa, bagian apa yang menunjukkan unsur smartcity?

Nah konsep smart city ini kalau kami dalam bentuk fisiknya tidak bisa diperlihatkan secara gamblang. Sebab smart city itu bukan di dalam bentuk kalau menurut pendapat pribadi saya. Kota yang smartcity seperti apa itu tidak ada bedanya. Kalau menurut saya ya, toh Barcelona juga sekarang kota yang smartcity-nya paling baik. Tapi bentuk kota Barcelona dari ratusan tahun yang lalu, bahkan abad yang lalu sudah seperti itu.

Hanya dia membuat sistem yang tranportasi sangat smart menggunakan kamera dan menggunakan prediktif patterning atau Artificial Intelligence (AI) mapping. Tujuanya supaya mereka secara simultan melihat kalau ada kemacetan di sini, bisa pindah titik kemacetannya, diurai dengan menggunakan sistem lampu merah atau apapun logonya. Misalnya ada tumpukan di sebelah kanan, maka area di sekitarnya akan dibebaskan lebih dulu supaya aliran kemacetan itu bisa mengalir dengan cepat.

Itu hanya bisa dilakukan kalau kita terintegrasi sistemnya yaitu menggunakan CCTV, selalu ada sistem prediktif kognitif atau sistem command Center di pusat yang memberikan suatu respon kepada instruksi transportasi.

Kalau dilihat perbedaan yang masih bisa pelajari, kota yang tidak terlalu bentuknya kompleks atau bisa dibilang kota yang bentuknya sangat standar bentuknya seperti grid. Kota yang lebih mudah dikelola daripada bentuk kota yang melengkung lengkung atau berputar-putar. Logic dari smartcity itu sangat mudah diterapkan di lokasi generic.

Jadi kalau saya, salah satu prinsip yang kita lakukan yaitu, satu kita akan mempunyai command center dan sudah kita tampilkan di salah satu master plan. Command center ini mengatur organisasi terutama penggunaan resources yang ada di kota, traffic yang ada di kota, penggunaan air, kemudian juga sistem pengalihan energi. Misal ada satu zona yang malam hari tidak menggunakan energi, listriknya akan kita matikan dan kita pindahkan ke daerah perumahan yang memang membutuhkan listrik.

Nah itu yang namanya smart grid. Tapi kalau dilihat dari bentuk kota, tidak kelihatan bentuknya karena sistem yang diimplementasikan. Sistem yang diimplementasikan seperti ini harus sistem yang mudah untuk diterapkan dalam bentuk yang paling efisien, yaitu jumlah kabelnya paling pendek.

Lokasi kamera atau reception point yang kita tahu daerah ini sudah tidak dibutuhkan energi. Nah di situ kan bisa terlihat dari sinyal. Sinyal harus ada di tempat yang strategis, mudah dicapai dan bentuknya kalau bisa tidak kompleks.

Jadi menurut saya, smartcity itu harusnya bentuk kota yang tidak terlalu spesifik, seperti burung garuda yang bentuknya sangat spesifik. Sementara kota-kota di dunia itu kebanyakan menggunakan kota blok sistem yang sistemnya grid.

Grid ini sangat mudah untuk dibuatkan aturan logicnya. Jadi smartcity untuk bentukannya kami membuat bentukan yang tidak terlalu sulit. Tetapi di setiap blok-blok tertentu karena kami menggunakan sistem clustering. Setiap cluster itu akan mempunyai radar atau reception point yang bisa dikontrol dari command Center, artinya future ready.

Jadi nanti kalau mau masuk teknologinya tinggal dimasukkan di dalam maindroad utama, di mana sistem informasi teknologi yang bagus itu kita dalam koridor-koridor infrastruktur kita.

Secara fisik, tampilan smartcity akan seperti apa di desain Nagara Rimba Nusa?

Tampilan yang kelihatan itu paling nanti di dalam misalnya jalan kita menggunakan smart electricity atau menggunakan off grid.ini akan mengambil panas matahari dari siang hari dan malam hari dipakai untuk penerangan. Itu kan sudah ada teknologi sistem yang kita pilih. Ada juga command Center seperti di Bandung sudah ada di Balaikota. Nah nanti kita juga akan punya command Center di pusat kota.

Apa yang dimaksud smart intelegentcity di dalam desain Nagara Rimba Nusa?

Sekarang kan sudah zamannya Artificial Intelligence (AI) jadi dia bisa menggunakan predictive patterning untuk melihat kota itu. Misalnya sudah menggunakan konsumsi energi x atau traffic itu selalu terjadi di jam segini di jalan-jalan tertentu.

Intelijen sistem itu dengan menggunakan AI dia bisa menggunakan the best solution algoritma sesuai yang dipakai. Algoritma ini kalau menunjukkan misalnya jam 5 sore kalau sudah ada kemacetan terjadi kita berikan pola-pola transportasi. Misalnya transportasi publik diperketat di sana.

Nah di season itu kadang-kadang kita membutuhkan guidance dan arahan. Intelegensi sistem kota ini sudah memiliki itu. Termasuk teknologi sudah ada. Kita harus adaptasi sistem itu, tetapi harus ada konsultan smartcity untuk menunjukkan sistem terbaik untuk kota ini seperti apa. Kemudian yang mau dikendalikan apa, apakah energi, traffic dll.

Satu lagi adalah smart government. Misalnya kita tahu bis datangnya kapan, lalu izin tidak perlu datang ke kantor, bisa secara online dan bisa diberikan langsung tanpa harus pertemuan fisik muka. Jadi kita tidak perlu datang ke kantor pemerintah misalnya buat bikin SIM urus perpanjangan dan lain-lain.

Intelijen sistem ini sudah harus siap. Untuk ini tinggal masalahnya di budget. Nah itu kan membutuhkan uang berapa yang mau disiapkan untuk sistem smart ini. Tapi infrastrukturnya sudah kita siapkan.

Kalau mau ditanam di dalam integrated panel kita itu sudah disiapkan. Nanti tinggal diadaptasi saja mau pakai sistemnya siapa.

Apakah desain Nagara Rimba Nusa ini ikut mengusung penggunaan energi terbarukan seperti yang sedang digaungkan pemerintah?

Untuk energi terbarukan yang sudah kami dapatkan dari Kementerian PU salah satunya menggunakan tenaga air. Ada beberapa waduk yang sudah makan dicanangkan oleh Kementerian PU. Itu sudah jelas akan jadi PLTA, tetapi memang waduk itu tidak gampang dan mahal pembangunannya membutuhkan dana lumayan besar.

Kedua yang bisa kita gunakan dengan alternatif energi itu menggunakan biomess. Biomess itu dari limbah pertanian atau limbah hutan produksi yang memang sebagian hasilnya akan mereka buang karena sudah jadi ampas. Nah ampasnya itu akan ada yang membelinya tapi dia harus mau beli juga listriknya.

Jadi harus ada agreement dari pihak pemerintah untuk mau membeli energi terbarukan. Sebab energi terbarukan ini sulit ketimbang energi berbasis fosil yang sangat mudah, tinggal gali batubara dan bakar dan menghasilkan listrik. Tapi itu kan tidak terbarukan.

Harga untuk listrik dari energi terbarukan itu yang mungkin jadi ketersediaan energinya. Memang sulit tapi bisa jadi menggunakan biomassa. Kita bisa menggunakan solar surya yang itu juga ada, tapi itu memang membutuhkan capital investment di depan. Satu hal lagi ya memang harus diberikan peluang untuk masuk dan jadi energi yang mungkin jadi yang utama walaupun pada akhirnya memang lebih mahal.

3 dari 3 halaman

Anggaran Pembangunan

Berapa kira-kira anggaran yang diperlukan dari desain Nagara Rimba Nusa?

Ya harusnya seperti itu tapi dalam kompetisi ini didalam KAK-nya kita tidak terlalu spesifik memperhitungkan anggaran. Jadi memang dilepas dulu supaya idenya mengalir besar. Tentunya kalau kita menggunakan teknologi yang lebih mahal anggarannya juga akan lebih tinggi.

Kalau kita banyak menggunakan memotong bukit dan sebagainya itu akan lebih mahal. Kalau kita dekat dengan alam yg seperti ini lebih mahal daripada menggunakan sistem yang konvensional. Sebab kita harus lihat dari industri konstruksi kita.

Industri konstruksi kita menggunakan barang-barang yang sudah ada di sekitar kita karena ini lebih murah. Misalnya kalau mau bikin dengan sistem pabrikasi itu memang lebih murah. Tetapi kalau memang itu tidak cocok dengan alamnya mungkin kita perlu alternatif materi yang lebih ramah lingkungan. Tapi karena mungkin belum pernah ada kita harus memulai dengan standar baru. Kalau memulai sesuatu yang baru, capital investmentnya itu lebih tinggi.

Nah itu mungkin pada saat kompetisi ini, kalau kami melihatnya lebih ke mimpi kota ideal dengan konsep yang diusung adalah konsep lingkungan yang baik. Kemungkinan memang akan lebih mahal. Tapi kami memang belum memperhitungkan berapa mahal dan sebagainya.

Tetapi bukan mengeksplorasi ide-ide lalu terlalu sulit untuk mengimplementasikan. Istilahnya terlalu berangan-angan dengan yang sudah ada, misalnya dari luar negeri yang sudah diterapkan tetapi memang barrier implacationnya belum masuk karena pelaku-pelaku nya belum ada ada. Misalnya panel surya itu tidak banyak di mana-mana karena belum ada demandnya, karena belum ada demand harganya jadi lebih mahal.

Tapi kalau sudah diatur semua listrik yang ada di perumahan di daerah tertentu tidak boleh menggunakan listrik atau dibatasi setiap beberapa ratus wat kalau sudah lewat dari situ dia tidak bisa sa lagi atau harganya jadi naik seperti kalau erp pantul. kalau masuk ke daerah yang mahal parkirnya jadi lebih tinggi nah itu kan ada insentif untuk energi-energi yang alternatif untuk masuk nah di titik itu kita baru bisa industri Surya panel bisa lebih banyak penggunanya. Jadi harus dijalin juga dengan policy jangan asal bangun.

Bappenas membuka peluang bagi para pemenang lomba desain Ibukota Negara untuk bergabung denan pemerintah. Sebagai pemenang, apakah Anda akan mengambil kesempatan itu?

Saya belum tahu yang itu, saya baru dengar. Saya belum bisa jawab karena saya juga belum terbayang sampai ke jauh itu. Saya akan datang dari swasta dan kebetulan kami ini konsultan dan memang ahli dalam bidang tata kota dan merancang kota.

Jadi kami sementara ini bukan masih banyak klien kami yang lain yang harus kami bantu. Mungkin saya bisa belum bisa menanggapi kalau sudah ada pembahasan lebih dalam baru kita lihat peluang nya seperti apa.

[ang]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini