Nadi Pasar Minggu dan Pasar Rebo tak pernah mati

Senin, 6 Februari 2017 09:09 Reporter : Hery H Winarno
Nadi Pasar Minggu dan Pasar Rebo tak pernah mati Pasar Minggu. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pasar Minggu menjadi salah satu pasar terbesar di Ibu Kota. Denyut nadi pasar ini tak pernah mati. Pukul beberapa pun datang ke pasar ini pasti ada aktivitas jual beli. Makin malam justru makin ramai.

Ribuan orang menggantungkan hidup di Pasar Minggu. Pasar ini jadi menyuplai kebutuhan dasar warga Ibu Kota di sebagian wilayah Selatan.

Menurut Rachmat Ruchiat, penulis buku-buku sejarah Jakarta, Pasar Minggu dibuka awal abad ke-19. Dalam penelusuran Rachmat, Pasar Minggu kala itu dikenal dengan nama Tanjung Oost Passer dan dimiliki dua pihak. Dari sumber pertama, dia mengungkapkan tanah kawasan Pasar Minggu milik keluarga Arab bermarga Al-Haddad. Luasnya mulai Pasar Minggu hingga Pancoran. Sedangkan dari sumber lain, dia menemukan Pasar Minggu adalah tanah partikelir. Ini bukan milik pemerintah tapi tanah tak bertuan peninggalan Pangeran Wiraguna yang memanjang dari Ragunan hingga Pasar Minggu.

Dari kedua sumber itu, Rachmat belum bisa memastikan pemilik kawasan Pasar Minggu saat itu. Meski dia juga menemukan masih ada beberapa keluarga Al-Haddad bermukim di Kalibata, pertengahan antara Pasar Minggu dan Pancoran.

Di sebut Pasar Minggu lantaran pasar ini dulunya hanya buka di hari Minggu. Namun fakta soal pasar yang beroperasi berdasarkan pasaran hari tidak banyak diketahui orang. Catatan sejarah yang minim dan perubahan nama seringkali membuat pasar hanya dikenal sebagai tempat belanja kebutuhan. Aspek sejarahnya dinilai tidak penting.

Pasar Minggu ©2017 Merdeka.com

Di era sebelum kemerdekaan, Pasar Minggu dikenal sebagai pasar buah. Pasar Minggu menjadi tempat jual beli buah di Selatan Jakarta. Penjualnya datang dari wilayah, Depok, Citayam, Bojonggede, Bogor hingga Sukabumi.

"Saya jualan di sini (Pasar Minggu) dari kecil. Dulu diajak kakek jualan buah. Kakek dari Sukabumi," ujar Abah Rohim (67), penjual pisang di kios kecilnya di Pasar Minggu.

Jarak Sukabumi dan Pasar Minggu yang jauh membuat kakek dari Abah Rohim memutuskan membeli tanah di Depok. Sang kakek lalu mulai berkebun di Depok dan hasilnya dijual ke Pasar Minggu.

"Dulu mah belum banyak mobil. Dari Sukabumi kakek saya naik delman. Kuda punya sendiri dulu mah. Tapi lama, lewat hutan. Dulu jalan dari Sukabumi ke sini masih banyak hutan," ujarnya sambil memotong bonggol tandan pisang.

Rohim adalah generasi ketiga yang berdagang di Pasar Minggu. Dia tidak ingat betul kapan pertama kali datang ke pasar ini. Sewaktu Abah Rohim masih kecil, sang kakek sering bercerita soal jual beli di Pasar Minggu.

"Kalau kata kakek saya, Pasar Minggu dulunya memang cuma buka di Hari Minggu. Dulu mah pasar itu buka seminggu sekali," ujarnya.

Di awal kemerdekaan, pasar ini dikenal sebagai pusat buah. Dahulu wilayah Jakarta Selatan seperti Tanjung Barat, Lenteng Agung, Ciganjur dan sekitarnya adalah penghasil buah dengan kualitas terbaik. Para petani buah menjualnya di pasar ini.

Pasar Minggu ©2017 Merdeka.com

Dulu malah ada lagunya, "'Buah Pepaya di Pasar Minggu'. Karena memang buah-buahan yang di jual di sini terkenal kualitasnya bagus," ujar Asmen Usaha dan Pengembangan Pasar Minggu, Yusuf Nur (56) di ruangannya di Pasar Minggu.

Kini Pasar Minggu dihuni ribuan pedagang baik yang memiliki kios maupun sekadar lapak bongkar pasang. Tak cuma buah dan satyur, pasar ini juga menyediakan semua kebutuhan hidup mulai dari sembako, pakaian, barang rumah tangga, barang elektronik hingga toko serba ada pun berdiri di sana.

Pemandangan berbeda terjadi di malam hari. Jika malam hingga dini hari, pasar ini menjadi pusat sayur mayur dan buah. Ratusan pedagang tumpah ruah hingga ke area Terminal Pasar Minggu. Aktivitas di malam hari justru semakin hingar bingar.

"Di sini kalau malam ramai sekali. Mau cari sayur apa saja ada. Sayur dan buahnya didatangkan langsung dari wilayah Depok, Bogor dan Sukabumi," kata Yusuf yang juga mantan atlet sepakbola ini.

Pasar Minggu sempat menjadi pasar grosir terbesar di Ibu Kota. Namun sejak dibangunnya Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Minggu mulai kalah pamor di kalangan para grosiran.

Zaenuddin HM, dalam bukunya berjudul '212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,' terbitan Ufuk Press pada Oktober 2012 mengatakan nama Pasar Rebo diambil dari kebiasaan pasar itu buka, yakni setiap Rabu dan hari-hari lain ditutup. Masyarakat, khususnya orang-orang Betawi, menyebut Rabu menjadi Rebo, sehingga akhirnya kawasan tersebut disebut Pasar Rebo.

Pasar Rebo yang kini berada di perempatan Jalan TB Simatupang dan Jalan Raya Bogor lalu dialihkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Tahun 1971 Gubernur Ali Sadikin membuat Pasar Induk Kramat Jati karena wilayah Pasar Rebo sudah tidak cocok lagi dijadikan tempat jual beli. Lokasi Pasar Induk tak jauh dari kawasan Pasar Rebo.

Saat itu Ali Sadikin membangun 10 blok dengan ribuan kios di Pasar Induk Kramat Jati. Area Pasar Induk berada di lahan seluas 14,7 hektare dengan luas bangunan sekitar 83, 605 meter persegi.

"Dulu awalnya Bapak saya jualan di daerah Pasar Rebo, tapi sejak dibangun Pasar Induk terus pindah ke sini. Dulu jualannya sembako, macam toko kelontong. Sekarang kita fokus di sayur," ujar Rahmat, warga Kampung Gedong, Jakarta Timur kepada merdeka.com di Pasar Induk Kramat Jati.

Pasar Induk Kramat Jati ©2017 Merdeka.com

Dari data PD Pasar Jaya, tidak kurang 2.400 pedagang sayur dan buah menggelar dagangannya di Pasar Induk Kramat Jati. Pasar ini juga beroperasi nonstop. Ribuan ton buah dan sayur setiap harinya di hilir mudik di Pasar ini.

"Di sini mah 24 jam. Makin malam malah ramai. Truk-truk yang bawa sayur dan buah datangnya malam. Kalau siang malah agak kurang ramai," ujar Rudi, petugas juru parkir di Pasar Induk.

Geliat perdagangan yang terjadi di Pasar Minggu dan Pasar Rebo (Pasar Induk Kramat Jati) hingga saat ini memang tidak pernah sepi. Meski harga kebutuhan melambung, kedua pasar ini tetap hidup dengan cara mereka. Di saat harga cabai melambung tinggi seperti sekarang, kedua pasar ini tetap bisa memenuhinya.

"Sekilo kita beli Rp 120 ribu cabai rawit merah. Kalau cabai rawit putih Rp 80 ribu. Bisanya kita oplos. Cabai rawit merah dua kilo dan cabai rawit putih dua kilo. Kita jual Rp 110 ribu perkilo. Kalau gak gitu susah jualannya, mahal banget," ujar Warti, penjual cabai di Pasar Minggu saat menunggu penjual cabai langganannya dari Sukabumi. [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini