Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Merawat Jembatan Panus agar sejarah tak terputus

Merawat Jembatan Panus agar sejarah tak terputus Jembatan Panus di Depok. ©2016 Merdeka.com/ Nur Fauziah

Merdeka.com - Deru suara tank pasukan tentara Belanda sudah terdengar dari arah Buitenzorg (Bogor). Mereka berbondong-bondong melintasi jembatan baru dibangun seorang insinyur asal Belanda, Andre Laurens, untuk menuju Batavia (Jakarta). Tanpa keraguan, mereka melewati jembatan menggunakan kendaraan dengan berat hingga puluhan ton.

Keberadaan jembatan sepanjang 65 meter dengan lebar 5 meter ini menjadi penting pada masa kolonial Belanda. Mereka tidak perlu lagi berputar jauh untuk menuju Batavia dari arah Buitenzorg, maupun sebaliknya. Masyarakat sekitar juga terbantu dengan kehadiran jembatan ini.

Jembatan Panus. Begitu biasanya masyarakat di Kota Depok, Jawa Barat, menyebut jembatan dibangun pada tahun 1917 itu. Nama Panus diambil dari Stephanus Leander, seorang penjaga jembatan tersebut. Penyebutan Panus sendiri dikarenakan pada masa itu masyarakat lokal sulit melafalkan nama sang penjaga.

Masyarakat Depok pada masa itu benar-benar terbantu kehadiran Jembatan Panus. Meski dirundung ketakutan pada masa penjajahan, namun secara perekonomian para masyarakat bisa bernapas sedikit lega.

"Dulu tank saja lewat. Ini juga sangat penting bagi perekonomian masyarakat karena pada masanya itu akses satu-satunya warga Depok untuk ke Jakarta maupun ke Bogor," cerita Koordinator Bidang Harta Milik Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Ferdy Jonathans kepada merdeka.com, Minggu (20/11).

Ferdy mengaku masih terheran-heran dengan kekuatan jembatan berada 15 meter di atas aliran Sungai Ciliwung itu. Padahal konstruksi pembuatan jembatan hanya berupa bata, batu, pasir dan tidak terlalu banyak campuran semen. Namun, truk hingga tank tentara tetap aman saat melintas.

Sebelum adanya jembatan ini masyarakat lebih sering menggunakan perahu kayu (getek) yang bermanuver di Sungai Ciliwung. Buah karya insinyur Andre Laurens kini sudah dirasakan sebagian besar masyarakat Kota Depok hampir satu abad.

Seiring pembangunan Kota Depok, Jembatan Panus tidak lagi menjadi akses utama bagi masyarakat. Jembatan ini hanya menjadi penghubung antara Jalan Tole Iskandar dan Kompleks Perumahan Villa Bukit Novo. Meski begitu, Jembatan Panus masih memiliki fungsi penting lainnya. Selain sebagai penghubung, ini juga sebagai pemberi informasi ketinggian air Sungai Ciliwung.

Rapuhnya kondisi Jembatan Panus baru diketahui belakangan ini. Ferdy menyebut kondisi situs sejarah peninggalan Belanda di Kota Depok itu masuk kategori membahayakan. Jembatan sepanjang 65 meter itu hanya ditopang satu tiang beton sebagai penyangga. Sementara tiang penyangga lainnya sudah mengapung di atas Kali Ciliwung.

Lubang berukuran besar menganga di salah satu tiang penyangganya. Lubang atau rongga itu terbentuk akibat terkikis air sekaligus sampah Sungai Ciliwung. "Kita pernah turun ke bawah dan melihat rongga sangat besar. Seharusnya tiangnya kan tertanam di bawah. Nah, pas kita lihat itu mengambang," ungkap Freddy.

Bagi Freddy dan yayasan yang berkonsentrasi mengurus situs sejarah Kota Depok, Jembatan Panus merupakan aset berharga yang merekam sejarah penting daerah penyangga ibu kota itu. Tahun depan jembatan itu genap berusia 100 tahun. Namun, selama itu tidak pernah ada perbaikan dan pemeliharaan.

Dengan sisa satu tiang penyangga otomatis membuat jembatan terasa sedikit bergerak bila ada kendaraan yang melintas di atasnya. Secara kasat mata jembatan itu memang masih terlihat kokoh, namun sesungguhnya bahaya mengancam. Jembatan itu rawan ambruk lantaran hanya memiliki satu tiang penyangga.

"Sekarang saja kalau lewat terasa goyang. Makanya truk tidak boleh lewat sekarang, hanya motor saja," ujarnya.

Tidak ada pihak yang secara tegas menyatakan tanggung jawabnya memelihara jembatan bersejarah ini. Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Depok menyebut bahwa perbaikan jembatan bersejarah itu merupakan wewenang pemerintah pusat. Belakangan mereka mengalah dan menggunakan anggaran Kota Depok untuk memperbaiki. Langkah ini diambil agar kerusakan Jembatan Panus tidak semakin parah dan menyebabkan korban jiwa.

"Kita pakai dana APBD Depok," ungkap Kadis BMSDA Depok, Manto beberapa waktu lalu.

Kondisi jembatan memang sudah parah. Perbaikan dilakukan dengan membersihkan tanaman liar maupun pohon sekitar jembatan. Sebab itu dikhawatirkan merusak konstruksi jembatan. Kini Jembatan Panus telah memasuki masa perbaikan. Segudang harapan dipanjatkan agar jembatan ini kembali kokoh dan perannya kembali penting sebagai penghubung untuk mempermudah aktivitas masyarakat. (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP