Mengungkap Kejahatan Pencurian Pulsa

Selasa, 21 Juli 2020 09:04 Reporter : Wilfridus Setu Embu, Aksara Bebey
Mengungkap Kejahatan Pencurian Pulsa handphone smartphone. shutterstock

Merdeka.com - "Perasaan baru beli pulsa. Sudah habis saja." Mungkin banyak pengguna ponsel selular merasakan demikian. Padahal pulsa telepon minim pemakaian. Bahkan buat orang super sibuk, tak pernah jadi pikiran. Hanya sepintas lalu diabaikan. Padahal bisa saja pulsa mereka mengalami pencurian.

Coba saja cek pesan kontak masuk. Periksa satu-satu. Jika mendapat pesan dari nomor diawali angka 9, sudah harus diwaspadai. Para pengirim pesan singkat itu berasal dari perusahaan penyedia konten digital.

Pesan dikirim perusahaan konten digital itu biasanya memakan pulsa. Memang sedikit. Hanya Rp2.200 untuk tiga pesan per pekan. Tapi biasanya bisa lebih dari satu perusahaan tiba-tiba mengirimkan pesan berlangganan ke kontak masuk.

Kondisi ini dirasakan Tama, seorang karyawan swasta di Jakarta dan pengguna provider XL. Bercerita kepada kami, dia baru menyadari akhir Maret lalu. Ketika menjalai kerja di rumah dan bosan, iseng-iseng Tama memeriksa pesan kontak masuk.

"Saya bingung kenapa ini banyak sekali SMS (pesan singkat) berlangganan," kata Tama bercerita kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Sekitar awal Juli ini pesan berlangganan ada lagi di kotak masuk ponsel Tama. Berasal dari 93639. Tulisan pesan itu menyatakan bahwa dirinya berlangganan konten NGOPER. Untuk berhenti pelanggan diminta mengetik UNREG.

Tama sempat memeriksa dalam aplikasi pelacak nomor. Bukan kepalang dia kaget. Kode 93639 milik PT Kreasindo Digital Konten banyak disimpan dengan nama, "Pencuri Pulsa."

Padahal Tama merasa tidak pernah mendaftar. Memeriksa kotak masuk pun jarang. Di zaman moderen ini, semua pesan dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Memanfaatkan pulsa paket data. Lebih praktis dan semua terjaga.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, konten digital berlangganan itu segera Tama setop. Tak mau lagi pulsa teleponnya disedot tanpa izin. Dia kini jadi lebih waspada.

Kami mencoba memeriksa nomor pencuri pulsa Tama. Dalam situs kementerian komunikasi dan informatika (Kominfo), kode 93639 tercatat atas nama PT Kreasindo Digital Konten (Kreadik). Bahkan resmi memiliki lisensi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo.

perusahaan pencuri pulsa

PT Kreasindo Digital Konten (Kreadik) ©2020 Merdeka.com

Dalam situs ahu.go.id milik kementerian hukum dan HAM, PT Kreasindo Digital Konten tercatat beralamat di Jalan Bojong Soang Komplek Buah Batu Centrum Blok A 36, Lantai 2, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka bahkan terdaftar dalam berita negara dengan nomor SK: AHU-0061136.AH.01.01.TAHUN 2018 dengan Notaris atas nama Rita Evryani.

Alamat tersebut sesuai dengan yang ada di situs kreadik.com. Perusahaan ini juga menjelaskan bergerak di bidang telekomunikasi yang buka jasa penyedia konten melalui jaringan seluler.

Dalam situ juga terpampang bahwa Kreadik memang sedang menjalankan program NGOPER. Mereka banyak menawarkan hadiah. Berupa saldo digital maupun ponsel pintar keluaran terbaru.

Kami mencoba mendatangi kantor Kreadik di Bandung. Berada di kompleks ruko, posisinya sesuai alamat tercatat. PT Kreasindo Digital Konten berada di lantai 2. Plang perusahaan cukup besar tepampang di atasnya. Sedangkan di bawah kantor itu terdapat sebuah perusahaan lain bernama PT Digital Solusindo Bestama.

Suasana sekitar ruko sepi. Masih banyak ruko belum berpenghuni. Sedangkan di depannya kantor Kreadik berjejer banyak kendaraan motor. Kemudian seseorang memberikan kami kontak. Tercatat nama Tera Kreadik. Beberapa kali kami menghubungi, sayangnya tidak ada jawaban sampai saat ini.

Ketika masuk ke lantai dua, hanya ada seorang pekerja pembersih ruangan sedang masuk hari itu. "Masih banyak yang kerja di rumah," ujar dia.

1 dari 1 halaman

Modus Lama

Kasus pencurian pulsa sebenarnya sudah lama terjadi. Ramainya di tahun 2011. Ketika itu kasusnya sampai ditangani Mabes Polri. Kerugian dialami para pengguna telekomunikasi ditaksir mencapai Rp1 triliun.

DPR saat itu sampai turun tangan. Komisi I DPR bahkan membentuk Panitia Kerja (Panja) Pencurian Pulsa bagian dari aduan masyarakat. Mereka mendesak kepada para operator seluler dan content provider memberikan perlindungan kepada masyarakat sebagai konsumen.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengakui masalah pencurian pulsa merupakan kasus lama. Trennya belakangan memang menurun. Meski begitu mereka tetap menyayangkan masih terjadi dan merugikan konsumen.

Dalam kondisi ini, seharusnya provider bisa campur tangan terhadap operator konten-konten digital tersebut. Sayangnya itu masih belum terlihat. Tidak menutup kemungkinan adanya pihak operator selular turut bermain dan bekerja sama dengan penyedia konten digital. Caranya operator menjadi pihak yang mengirimkan konten-konten kepada pelanggannya.

"Yang terjadi adalah konten ini bekerja sama. Operator yang akan mengirimkan kepada para pelanggannya. Mereka ada bisnis di sana. Nanti ada sharing. Kalau dulu itu tergantung jadi sharing-nya ada 60:40, macam-macam," kata Koordinator Hukum dan Pengaduan YLKI Sularsih kepada merdeka.com.

Sampai sejauh ini, pihak XL belum memberikan penjelasan terkait pencurian pulsa yang dialami pelanggannya. Mereka terus menunda jawaban.

Sedangkan, Direktur Pengendalian Ditjen Penyelenggaraan dan Pengendalian Informatika Kementerian Kominfo, Sabirin Mochtar, menjelaskan sebenarnya tidak ada pencurian pulsa. Karena pemotongan pulsa dilakukan setelah layanan dikirim ke pengguna.

Penyedia konten, lanjut dia, melakukan double konfirmasi. Konfirmasi pertama menawarkan konten beserta tarifnya. Kemudian jika calon pengguna menyetujui maka akan ada konfirmasi kedua untuk dilakukan pemotongan pulsa (charging).

Menurut dia, kejadian itu tidak berarti penyedia konten memanfaatkan celah dari banyaknya masyarakat yang makin jarang menengok kotak masuk SMS. "Karena jika SMS tidak dijawab 'Ya', maka layanan tidak akan dilanjutkan," ungkap Sabirin menjelaskan.

[ang]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini