Mildreport

Menguji Khasiat Vaksin Nusantara

Kamis, 29 April 2021 17:06 Reporter : Supriatin, Angga Yudha Pratomo
Menguji Khasiat Vaksin Nusantara Aburizal Bakrie Disuntik Vaksin Nusantara. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Siti Fadilah tampak bugar. Terutama dalam sepekan ini. Setelah mendapat Vaksin Nusantara pada 23 April 2021, dia merasa tidurnya lebih nyenyak. Meski begitu, bukan berarti bahwa proses vaksinasi buatan Letjen TNI dr Terawan Agus Putranto ini sudah dianggap berhasil.

Kedua mantan menteri kesehatan (menkes) itu memang dikenal akrab. Keduanya kerap berkomunikasi. Termasuk tentang vaksinasi hingga masalah Covid-19 yang tengah melanda dunia ini.

Berawal dari komunikasi itu, Siti Fadilah kemudian memberanikan diri menjadi relawan Vaksin Nusantara fase 2. Sekitar 16 April 2021, ibu berusia 71 tahun itu mendatangi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Setiba di lokasi, mantan menkes era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu langsung disambut dengan Terawan.

Tahapan dimulai dengan penjelasan tentang proses vaksinasi. Kemudian Siti Fadilah diminta melakukan tahap screening dengan mengisi formulir. Dalam tahap ini, dia mengaku memiliki komorbid. Beruntung masalah itu bukan menjadi halangan. Terawan dan tim RSPAD tetap mengizinkan Siti Fadilah menjalani proses vaksinasi.

"Komorbid saya sangat cocok sekali dengan teknologi dari Terawan. Karena saya tidak mungkin bisa divaksin dengan Sinovac maupun Pfizer dan Astrazeneca," kata Siti Fadilah ketika berbincang dengan merdeka.com Selasa, 27 April 2021.

infografs vaksin nusantara

Dalam proses vaksinasi menggunakan Vaksin Nusantara, tiap relawan akan diambil darah sebayak 40cc. Kemudian darah tersebut dipisahkan dan hanya diambali sel dendritik menggunakan teknologi yang dikembangka Terawan di RSPAD.

Setelah sel dendritik berhasil dipisahkan, kemudian akan dipertemukan dengan antigen SARS CoV-2 (virus Covid-19). Pertemuan itu berguna untuk merangsang kekuatan sel dendritik. Ada pula beberapa zat ditambah guna semakin memperkuat sel yang berperan dalam fungsi sistem imunitas tubuh.

Kurang lebih selama 8 hari keduanya menjalani masa inkubasi hingga sel dendritik dinyatakan kuat. Bila sel dendritik dianggap sudah mampu, kemudian relawan diminta datang untuk disuntikkan kembali ke tubuh.

Kini semua tahap penyutikan Vaksin Nusantara sudah dilalui Siti Fadilah. Tidak ada efek samping dirasakan dalam tubuhnya. Justru dia merasa lebih segar dan bugar. Kemudian dia diminta kembali lagi untuk memeriksa kekuatan sel dendritik pada 21 Mei 2021 nanti.

"Dengan teknologi dari Terawan, saya jadi tahu sel dendritik saya ternyata kuat," ujar Siti Fadilah.

Bukan hanya Siti Fadilah, sejumlah anggota DPR juga disuntik Vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis pekan lalu. Mereka yang divaksinasi yakni Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Fraksi PAN Saleh P Daulay, Anggota Komisi IV Firman Soebagyo, Wakil Ketua Komisi IX Melki Laka Lena, Nihayatul Wafiroh, Anggota Komisi IX Anas Tahir, Arzeti Bilbina, Saniatul Lativah, Sri Meliyana, Robert Kardinal, Adian Napitupulu.

"Komisi lX berproses dari awal membahas memutuskan dan menjadi bagian dari relawan vaksin nusantara bersama pimpinan DPR RI dan teman-teman komisi lainnya," kata Melki.

Usai divaksinasi, kata Melki, para anggota DPR tidak mengalami efek samping apapun. "Semua teman-teman dan pimpinan DPR RI sejauh ini semua baik baik saja," kata Melki.

Sekitar pertengahan April 2021, mantan Menkes Terawan pernah menjelaskan tentang Vaksin Nusantara di depan anggota DPR. Awalnya penelitian vaksin ini dikembangkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi, Semarang.

Terawan menjelaskan vaksin yang disebut AV-Covid-19 ini merupakan solusi bagi para pengidap komorbid berat. Karena sel dendritik bersifat personalized atau menyesuaikan kondisi setiap pasien. Sehingga dia mengklaim Vaksin Nusantara aman karena sifatnya individual.

Hasil penelitian sejak 2015 di RSUP dr Kariadi juga sudah diunggah ke Jurnal Internasional. Namun pada saat itu dikembangkan dan diteliti untuk penyakit kanker.

"Ini terus berkembang, lalu ketika ada ide dendritik vaksin untuk Covid-19, kami lakukan uji binatangnya melalui pihak ketiga di Amerika sehingga ini bisa berjalan baik dan membuat kami mantap (untuk kembangkan)," kata Terawan.

Terawan mengatakan vaksin yang merupakan hasil kerja sama Aivita Biomedical dari Amerika Serikat, Universitas Diponegoro dan RSUP dr Kariadi Semarang ini sudah melewati uji klinis tahap pertama.

eks menkes siti fadilah disuntik vaksin nusantara

Mantan Menkes Siti Fadilah mendapat Vaksin Nusantara dari dr Terawan ©2021 Merdeka.com

Kehadiran Vaksin Nusantara memang sempat disorot BPOM. Menurut Kepala BPOM Penny Lukito, prosedur Vaksin Nusantara belum sesuai standar internasional yang berlaku. Untuk itu, perlu ada pembahasan khusus untuk jenis vaksin buatan mantan Menkes Terawan ini.

"Setiap pengembangan vaksin apapun harus mengikuti standar yang sudah ditetapkan secara internasional," ujar Penny kepada merdeka.com, Rabu kemarin.

Untuk melanjutkan penelitian Vaksin Nusantara, BPOM telah menandatangani nota kesepamahaman dengan Kementerian Kesehatan dan TNI AD. Dalam kesepakatan itu menyetujui bahwa Vaksin Nusantara kini bersifat penelitian berbasis pelayanan. Adapun peran BPOM kini hanya memberikan pengarahan terkait proses penelitian sesuai dengan kaidah saintifik dan standar yang berlaku.

Dukungan dari Kemenkes

Nota kesepamahaman "Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik" antara Kemenkes, BPOM dan TNI AD dilakukan pada Senin, 19 April 2021 di Markas Besar TNI AD, Jakarta. Penandatanganan juga dihadiri langsung Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhajir Effendy. Kesepakatan ini sebagai upaya untuk meningkatkan imunitas terhadap Virus SARS-CoV-2 atau Covid-19.

Penelitian dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto ini selain mempedomani kaidah penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan, juga bersifat autologus yang hanya dipergunakan untuk diri pasien sendiri. Sehingga tidak dapat dikomersialkan.

Juru Bicara Vaksinasi, dr Siti Nadia Tarmizi, menegaskan Kementerian Kesehatan sebagai pihak yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan akan mendukung proses pengembangan Vaksin Nusantara. Keputusan ini tentu sambil menunggu tahapan uji klinis fase 1 yang harus memenuhi beberapa kriteria.

"Pelayanan menggunakan sel dendritik berdasarkan nota kesepamahaman, saat ini sebagai alternatif untuk meningkatkan imunitas," kata Nadia kepada merdeka.com, Selasa lalu.

Untuk pengawasan, kata Nadia, tentu ini akan menjadi perhatian khusus. Nantinya jika ditemukan pasien yang mengalami hal yang tidak diinginkan, Kemenkes segera turun tangan untuk dilakukan audit.

Sementara itu, Ahli Virologi Universitas Udayana Bali Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika, melihat vaksinasi menggunakan sel dendritik tidak bisa digunakan secara massal. Ini dikarenakan sumber sel dendritik hanya bisa diberikan kepada sumber sel itu berasal.

Selain itu, biaya yang dikeluarkan melalui proses pembuatan Vaksin Nusantara juga diperkirakan akan sangat besar. "Setiap orang akan mengalami proses yang berbeda dan itu sangat tidak mungkin dilakukan dengan cepat," kata Prof Kade Mahardika kepada merdeka.com.

Sepengetahuan dia, sel dendritik memang mampu memicu kekebalan tergantung virus yang dihadapkan. Misalnya dihadapkan dengan virus Influenza maka setelah disuntikkan, seseorang hanya akan kebal terhadap virus itu saja dan tidak terhadap Covid-19.

Teknologi pemisah sel dendritik digunakan Terawan, kata dia, selama ini bukan penemuan baru dalam dunia kesehatan. Sebab selama ini sudah dipakai untuk kanker dan penyakit lain terkait metabolisme.

"Memang banyak peneliti tidak begitu puas dengan hasilnya. Karena tadi saya bilang induksi di luar tubuh itu pasti jauh kurang sempurna dengan induksi di dalam tubuh," ujar dia menjelaskan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini