Magnet gang sempit Pasar Kembang Jogjakarta

Rabu, 13 April 2016 06:07 Reporter : Hery H Winarno
Magnet gang sempit Pasar Kembang Jogjakarta sarkem. malesbanget.tk

Merdeka.com - Jam dinding sebuah hotel kelas melati di kawasan Jalan Sosrowijayan, Malioboro baru menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun suasana para pelancong di tersohor dikenal Kota Pelajar itu tak pernah surut. Di jalan-jalan kota, pelancong lokal maupun internasional masih terlihat mondar mandir. Padahal malam itu suhu udara kurang bersahabat. Rasanya seperti siang bolong. Gerah.

Mark, 23 tahun, dan Smack, 22 tahun, pelancong asal Swiss kebetulan sedang berlibur ke Jogja. Dia sudah tiga hari berada di sana dan menginap di salah satu Motel dekat kawasan Malioboro. Keterbatasan bahasa bagi Mark dan Smack, bukan menjadi halangan untuk berkunjung ke Jogjakarta. Dengan pemahaman bahasa Indonesia sebisanya, dia datang untuk mengenal daerah Jogjakarta.

Saat merdeka.com menemui keduanya, kebetulan Mark dan Smack sedang bertanya kepada warga jalan pintas menuju Stasiun Tugu. Mereka berada di antara Jalan Pasar Kembang dan Jalan Sosrowijayan. Kedua jalan itu memang dibelah oleh gang sempit. Mark dan Smack kebetulan akan membeli tiket menuju Jakarta.

Dengan bahasa seadanya, sang penjaga motel berusaha menerangkan jalan pintas kepada Mark dan Smack. "Turn left, turn right dan go," begitu sang penjaga menerangkan kepada keduanya. Mike dan Smack pun mengangguk. Mereka segera bergegas menuju arah Stasiun Tugu.

Keluar dari gang yang dipenuhi motel, kedua bule itu lalu menelusuri Jalan Sosrowijayan. Mereka belok kanan di gang sempit samping Hotel Grage menuju arah stasiun. Keduanya lalu masuk ke dalam gang yang hanya diterangi lampu temaram. Di ujung gang banyak motor terparkir menyerong. Namun baru masuk sekitar 30 meter di ujung gang, kedua pelancong itu diberhentikan dua pria. Mereka duduk menghadap meja dengan kotak mirip keropak dengan tulisan 'Dana Kebersihan'.

"You must pay.. You must pay in here.." ujar pria berjaket jeans setengah memaksa sambil berdiri. Mark dan Smack pun saling pandang. Keduanya tak mengerti maksud dari dua lelaki itu. Apalagi kedua pria itu meminta bayaran ketika ketika melintasi gang tersebut.

"How much?" ujar Mark dengan nada tinggi.

"Just dua ribu mawon. Dua ribu..," jawab pria berlagak preman itu sambil tersenyum begitu mengetahui bahwa kedua bule itu memilih jalur 'damai'. Dia pun mengacungkan dua jari untuk memperjelas maksud dua ribu kepada kedua 'mangsanya' itu.

Tak mau banyak berdebat, keduanya menyerahkan selembar uang pecahan lima ribu rupiah. Mereka kemudian dipersilakan melintasi yang jalannya semakin mengerucut."Jangan cuma lewat, mampir juga boleh sir. Hahahahaha," ujar pria satu lagi yang memegangi kotak tempat uang tersebut.

Gang sempit itu memang mewajibkan setiap pria dewasa yang lewat mbayar sebesar Rp 2 ribu. Uang retribusi liar itu berlaku hanya pada malam hari bagi setiap pejalan kaki yang lewat. Untuk mengelabui, mereka biasanya menyebut uang kebersihan. Entah apa maksudnya, namun setiap pejalan kaki pasti dipaksa untuk memberikan uang. Orang yang pertama kali datang baru tahu fungsi uang kebersihan itu bila sudah masuk sekitar 50 meter di mulut gang setelah melewati belokan.

Begitu masuk lebih dalam tampak wanita-wanita dengan pakaian seksi duduk di selasar pintu atau jendela-jendela rumah. Musik dangdut dan pop saling bersahutan di pintu-pintu kamar. Di kamar-kamar itu pula mereka memajang wanita. Kepada pria-pria yang lewat, wanita-wanita itu mengumbar senyum. Ajakan untuk mesum justru datang dari pria-pria yang bertugas sebagai muncikari.

"Mampir Mr. Cakep-cakep, very beautiful. You must like. Mampir dulu, lihat-lihat dulu," ujar seorang pria seraya menemani berjalan ke dua bule itu. Namun Mark dan Smack tak menggubris. Keduanya malah mempercepat langkah kakinya.

Keluar dari mulut gang dan tiba di Jalan Pasar Kembang, keduanya seolah lega dan menghirup napas dalam-dalam. Setengah bercanda keduanya lalu bergegas menuju Stasiun Tugu. Gang-gang sempit di antara Jalan Sosrowijayan dan Pasar Kembang itu memang tidak seramai dulu. Secara perlahan prostitusi di Sarkem memang hampir mati. Meski demikian geliatnya hingga kini masih ada.

"Sudah ndak banyak, ndak sampai 40 PSK di gang-gang itu. Kalau dulu malah tidak di Gang, di Jalan Pasar Kembang ini. Makanya disebut Sarkem, Pasar Kembang," ujar Nardi, seorang tukang becak biasa mangkal mencari penumpang di Jalan Pasar Kembang.

Menurut Agus, warga di salah satu gang tersebut, keberadaan hotel berbintang lambat laun justru mematikan geliat prostitusi di Sarkem. Dulu ketika dia masih kecil, di Jalan Pasar Kembang justru ramai hotel-hotel kelas melati yang dijadikan tempat 'eksekusi'. Namun kini banyaknya hotel berbintang dengan bangunan yang menjulang malah membuat geliat Sarkem meredup.

Kesan Sarkem kumuh, kotor, jorok dan negatif dikikis dengan keberadaan hotel-hotel elite itu. Mahalnya tarif hotel di Jalan Pasar Kembang membuat lokasi prostitusi ini mulai ditinggalkan pelanggannya.

"Nek saya sih seneng dihapus saja (prostitusi di Sarkem) biar sehat mas. Wong saya juga enggak kerja di sana, enggak dapat duit dari Sarkem. Justru malah kena getahnya mentang-mentang tinggal di daerah sini. Malu juga kalau punya pacar terus ditanya alamatnya, ternyata di Gang Sarkem," ujarnya.

Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta sudah diminta menyiapkan data permasalahan dan kajian solusi oleh Kementerian Sosial. Hal ini terkait rencana Kemensos menutup Sarkem.

"Tahun ini, kami diminta melakukan pendataan dan masalah-masalah yang ada di lokalisasi ini. Kajian solusi akan diusulkan pada tahun depan," kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta Hadi Muchtar pertengahan tahun lalu.

Menurut Hadi, permintaan itu berkaitan dengan rencana Kementerian Sosial hendak menutup 167 lokalisasi tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Lokalisasi Pasar Kembang, lanjut dia, memang berstatus tidak resmi sehingga tidak masuk dalam prioritas penutupan oleh kementerian.

Namun demikian, mereka harus bersiap. Hadi menambahkan, pihaknya akan melibatkan warga sekitar dalam proses pendataan masalah dihadapi di Pasar Kembang, sehingga solusi nantinya diterapkan bisa bersifat menyeluruh.

"Dari beberapa kegiatan pendampingan yang dilakukan selama ini, banyak penghuni yang berharap bantuan modal sehingga mereka tidak lagi menjalani profesi itu," ujar Hadi.

Namun hingga kini kabar penutupan Sarkem kembali meredup. [arb]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini