Kabar Kepergian itu Datang Setiap Hari

Rabu, 7 Juli 2021 06:05 Reporter : Syifa Hanifah
Kabar Kepergian itu Datang Setiap Hari ilustrasi kabar duka. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Kabar hari terakhir mereka disampaikan melalui sebaris pesan. Lalu duka menyusul kemudian. Tak pernah diharapkan. Menyelinap dari balik layar telepon genggam. Kesedihannya menusuk lubuk hati paling dalam. Sampai kapan kabar duka itu berhenti datang?

"Setiap hari selalu ada kabar yang meninggal karena Covid," kata seorang pria setelah menerima kabar duka dari rekannya.

petugas makamkan korban covid 19 di tpu rorotan

Senyum dan kehangatan itu sudah hilang. Beriringan dengan datangnya sebuah pesan. Keluarga Aidil diliputi awan hitam. Hari itu Senin pagi, tanggal 5 Juli 2021. Tantenya pergi. Setelah cukup lama berjuang. Melawan virus ganas, bernama Covid-19.

"Dikabarin anak-anaknya, disuruh ke RS sekitar jam 7 pagi," ujar Aidil berbagi cerita dengan merdeka.com, kemarin.

Saat takdir itu datang, tantenya berbaring di ruang perawatan. Tangis keluarga memecah keheningan. Aidil merangkul sepupunya yang tak kuasa menahan kepedihan. Mengetahui sang ibu pergi meninggalkannya selamanya. Kedua tangannya memeluk erat kerabat. Mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan. Hanya satu kata yang disampaikan. Ikhlaskan. Untuk membuka jalan menuju Tuhan.

"Saya cuma bilang istigfar, ikhlaskan," kata Aidil.

Baru dua pekan lalu Aidil bertemu tantenya. Ketika Aidil baru kembali dari Yogyakarta. Dibawakannya buah tangan sederhana. Daster bermotif batik. Hari itu keceriaan dan kehangatan masih terasa. Guyonan dan tawa menghiasi suasana.

Keadaan tak selalu sama. Tantenya beberapa kali pingsan di rumah. Hingga harus dilarikan ke ruang perawatan sebuah Rumah Sakit swasta di Jakarta Selatan. Kondisinya tidak stabil. Sempat berada di titik nadir. Keluarga hanya mendapat kabar dari pihak rumah sakit. Tak banyak yang bisa diperbuat. Lantunan doa tak pernah putus. Aidil terpukul. Melihat tantenya pergi, membawa bekal yang dihadiahkannya.

"Dia pakai daster dari saya pas masih di rumah sakit," kenang Aidil.

tpu srengseng sawah 2

Jalannya 'Pulang'

Randy juga merasakan pedihnya kehilangan. Kekecewaan masih membayangi hari-harinya. Merasa tidak berguna. Neneknya pergi menghadap sang khalik, sebelum mendapat perawatan terbaik. Suara lirih terdengar dari ujung telepon. Memberi kabar tentang kepergian.

"Ketika ingin disuapi makan, Nenek sudah tidak merespons. Napasnya sudah tidak ada, dokter dipanggil dan dinyatakan meninggal dunia," kata Randy.

Sekuat tenaga. Berusaha tegar menghadapi keadaan. Mengantar sang nenek menuju tempat peristirahatan. Sambil membangkitkan kembali momen-momen kebersamaan. Terekam jauh di ingatan. Randy tumbuh bersama sang nenek. Waktu dan kasih sayang diberikan sang Nenek untuknya.

Nenek yang selalu menitikkan air mata. Ketika mengetahui cucunya terbaring sakit. Air mata yang juga keluar manakala menyaksikan cucunya berjalan menuju pelaminan. Meski bukan air mata yang sama, tapi berasal dari ketulusan hati orang yang disayangi. "Begitulah kedekatan kami."

Hari itu, Randy yang mengeluarkan air mata untuk neneknya. Dia masih ingat upaya terakhir yang bisa dilakukan untuk penyembuhan. Mencoba menghubungi kolega dan semua lingkar pertemanan. Mencari tempat perawatan untuk neneknya. Wisma Atlet tidak memungkinkan. Sudah tak ada ruangan.

Kondisi kesehatan nenek memburuk. Keluarga berkejaran dengan waktu. Berusaha mencari rumah sakit terdekat di Depok, Jawa Barat. Sempat ada harapan. Seorang sahabat memberi kabar. Masih ada tempat di rumah sakit milik pemerintah daerah. Neneknya menolak. Randy membujuknya. Ini jalan terbaik yang bisa diambil. Sesampai di RS, tak sesuai yang diharapkan. Tidak bisa dilayani dengan alasan ketersediaan ruangan.

"Hanya menyiapkan kursi untuk nenek, tak ada jaminan kapan dapat oksigen, kapan ditangani, karena full. Dicek saturasi sudah di bawah 90."

Keluarga memutuskan membawa nenek pulang. Menjaga dan merawat dengan kasih sayang. Tapi takdir itu datang. Keluarga mengikhlaskan. Mengantar kepergian dalam tenang.

"Nenek memang sejak awal tidak mau ke rumah sakit. Beliau takut meninggal di rumah sakit. Mungkin sudah jalannya," tutupnya.

tpu srengseng sawah 2

Doa Bersahutan, Tangis Terdengar

Di ruang tengah sebuah rumah. Keluarga menggelar pengajian. Doa bersahutan. Terkadang tangis terdengar. Nisya melantunkan doa terbaik untuk kakeknya. Sedang berjuang melawan virus Covid-19.

"Berdoa sambil nangis tapi enggak tahu kenapa. Flashback semua kebaikan Uwa (kakek)," kata Nisya dengan suara bergetar menahan tangis.

Pengajian rutin dilakukan sejak awal Kakek menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hanya doa yang bisa diantarkan. Menembus ruang ICU. Nisya tak kuasa membendung air mata malam itu. Dia dan keluarga dirundung ketakutan. Kehilangan, kata yang tak ingin didengar. Kabar datang dari ruang perawatan. Kondisi kakek menurun.

Duka menghampiri pagi hari. Seusai Nisya terbangun dari mimpi. Ibunya berbisik pelan. Kakek pergi tanpa pesan. "Hancur begitu saja," kenangnya.

Kepergian itu meninggalkan jejak kenangan. Terpatri dalam hati. Tak ada lagi sapaan hangat ketika melihat Nisya mempersiapkan makanan. Kakek yang menghadirkan tawa ketika menyapa dengan bahasa sunda. Membekas dan tak pernah terlupakan.

Setangkai melati menjadi saksi. Kebiasaan kakek yang diwarisi. Memetik melati. Menyimpannya di atas meja. Begitulah cara Nisya. Agar kakek tetap 'hidup', meski raga tak lagi bersama. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini