Hidup mantan napi teroris

Senin, 11 Juni 2018 06:00 Reporter : Angga Yudha Pratomo, Anisyah Al Faqir
Mantan teroris Sofyan Tsauri. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Isi pesan Sofyan Tsauri pada Sabtu malam itu membuat kami bertanya-tanya. Dia meminta kami tak bertanya kepada para tetangga dekat rumahnya. Sofyan hanya memberi patokan kediamannya dekat masjid. Kami setuju. Lalu dia mengirim peta lokasi dari Google Maps. Setelah membuat janji untuk wawancara pada esok paginya.

Kami memenuhi janji. Besok harinya, sekitar pukul 8 pagi kami tiba di lokasi. Kediamannya di kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Lalu memberi kabar bahwa kami sudah sampai masjid dekat rumahnya. Sofyan menelepon. Dari situ dia mengarahkan kami. Rumahnya ternyata hanya sekitar 20 meter dari masjid. Dia melihat kami. Melambaikan tangan ke arah kami dari teras rumah. Semakin bergegas kami menemui.

Sampai di teras rumah, Sofyan langsung meminta kami masuk. Tak lama, pintu langsung ditutup. Rapat-rapat. Lalu mempersilakan duduk di atas karpet pada ruang utama berukuran sekitar 2 x 2 meter. Di ruang itu hanya ada rak buku dan motor matik. Dari situ kami baru tahu maksud bekas anggota polisi pernah terlibat terorisme dalam jaringan Al Qaeda Asia Tenggara tersebut. Dia sedang merasa tak nyaman. Lantaran terancam bakal diusir dari lingkungan.

"Tadi enggak tanya orang kan rumah saya di mana? Ini saya kayaknya bakal diminta pindah," ujar Sofyan kepada kami. Ekspresinya terlihat kecewa.

Kekecewaan Sofyan cukup mendasar. Dia menyebut akibat ulah wartawan dari salah satu media nasional. Dua hari sebelum kami bertemu, dia mengaku melakukan wawancara dengan wartawan di kediamannya. Usai melakukan tugas jurnalistik, kata dia, sang pewarta ternyata mewawancara tetangga sebelah rumah kontrakannya. Meminta tanggapan tentang hidup bertetangga dengan mantan teroris.

Selama empat tahun tinggal, banyak tetangganya tidak mengetahui bahwa dia merupakan mantan teroris. Termasuk tetangga sebelah rumah. Akibat ulah wartawan itu, ternyata tetangga rumahnya melaporkan kepada aparat setempat. Sampai akhirnya anggota kepolisian menyambangi kediamannya. Memberi tahu bahwa warga sekitar memintanya untuk pindah.

"Polisi ke rumah. Kebetulan kenal. Satu leting dulu sama saya. Kasih kabar tentang kondisinya saya sepertinya diminta pindah," ucap Sofyan. Bila benar pindah, ini merupakan ke-6 kalinya dia pindah tempat tinggal.

Kekhawatiran para tetangga diduga juga dipicu adanya insiden ledakan tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, beberapa pekan sebelumnya. Penyerangan itu dilakukan satu orang keluarga. Mengajak serta anak dan istrinya. Sampai menewaskan banyak orang.

Selama ini Sofyan sebenarnya sudah menjalani deradikalisasi dari pemerintah. Itu setelah dia bebas dari penjara. Dari situ dirinya sudah sadar. Selama ini salah terlibat dalam jaringan terorisme. Dan kini sudah kembali mencintai NKRI.

Dalam rekam jejaknya, Sofyan pernah berdinas sebagai Polisi Sabhara Aceh. Pada saat di sana, dia terpapar pemahaman radikal Aman Abdurrahman dan kemudian bergabung jaringan terorisme. Lalu dia menjadi pemasok senjata untuk latihan para militer di Jantho, Aceh pada 2010.

Sofyan lolos dari Aceh dan ditangkap di rumahnya di Bekasi pada 6 Maret 2010. Setelah menjalani proses hukum, dia dituntut sepuluh tahun penjara. Dia sudah menjalani enam tahun penjara. Sekarang bebas lantaran beberapa kali mendapat remisi.

Program deradikalisasi selama ini gencar dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sofyan bersyukur sudah mengikuti. Namun, masih banyak hal perlu dikritisi dan diperbaiki. Sebab, program itu dirasa masih belum kuat bila hanya mengubah cara pandang saja. Sebab masih banyak faktor di luar itu masih memberatkan para eks narapidana teroris (napiter). Salah satunya kenyamanan untuk kembali ke masyarakat.

Termasuk untuk memperoleh pekerjaan. Sofyan sampai sekarang sulit mendapat kerja. Beruntung, dia beberapa kali dapat kerja sebagai pembicara. Diundang BNPT untuk sosialisasi mengenai deradikalisasi. Menjelaskan kepada para eks napiter agar meninggalkan jaringan dan sadar bahwa selama ini dilakukannya adalah kesalahan besar.

Sofyan paham betul bagaimana mereka terpapar ajaran teroris. Butuh waktu tidak sebentar. Namun, hadirnya media sosial dirasa membantu penyebaran itu semakin masif. Berbeda ketika dirinya bergabung. Ada pertemuan. Tatap muka dengan petinggi jaringan. Tetapi kondisinya sekarang berbeda. Semua serba instan. Hanya komunikasi menggunakan aplikasi.

Bahkan dia memberikan beberapa ciri untuk mendeteksi secara dini bila seseorang telah terjerat paham radikal. Berikut wawancara jurnalis merdeka.com, Angga Yudha Pratomo, Anisyah Al Faqir dan Zul Atsari dengan mantan anggota teroris, Sofyan Tsauri.

Sepengetahuan Anda, bagaimana pola kelompok jaringan teroris era sekarang dalam melakukan perekrutan?

Ya sebenarnya sama saja, cuma memang medianya berbeda-beda karena berkaitan dengan tuntutan zaman. Dulu zaman kita di era tahu 2000-an, 90-an kita masih ketemu, masih ada kopi darat, masih ada proses-proses literasi dari bacaan lalu taklim-taklim, ketemuan, hubungan antara guru dengan murid, hubungan perkawinan antara saudara, dan hubungan-hubungan dan sebagainya seperti mata rantai kelompok.

Adapun kelompok-kelompok seperti ini mereka sekarang menggunakan sosial media, jadi alat. Makanya kelompok ini tidak pernah terdeteksi karena tidak pernah berhubungan dengan kelompok yang lebih besar. Lone Wolf (istilah pelaku teror individu) ini memang agak sulit, karena biayanya murah dan mereka bisa melakukan apa saja dengan kasus-kasus bom di tahun 2000-an yang melibatkan jaringan yang lebih besar, mereka juga membutuhkan dana yang tidak sedikit karena harus menggunakan biaya seperti mobil dan lainnya. Kalau sekarang tidak, bahkan lebih murah menurut saya. Makanya jadi ancaman yang cukup serius.

Jadi pola perekrutannya hanya menggunakan media sosial saja?

Iya, lewat sosmed saja. Mereka punya pola pikir yang sama, mereka bisa dibaiat di sosmed, ya seperti itu. Karena sekarang lebih mudah dan tidak perlu lagi. Karena mereka menganggap menggunakan sosmed tidak terlalu mahal, bisa lebih berekspresi dan mereka menganggap itu adalah media yang paling aman.

Jadi kalau merencanakan mereka menggunakan telegram karena mereka mempercayai bahwa Telegram (aplikasi mengirim pesan) sulit dienskripsi, sulit dimasukin maka biasanya untuk perintah-perintah amaliyat di Telegram, bukan di WhatsApp. Kalau WhatsApp buat mereka hanya untuk grup-grup saja. Apalagi Telegram grup-grup yang resisten sudah banyak ditutup. Nah, kalau WhatsApp ini enggak bisa ditutup. Sampai kapanpun tidak akan. Tapi di grup-grup ini bisa dipantau, dienskripsi. Itu medianya seperti itu.

Benarkah prosesnya menjadi lebih cepat?

Iya, prosesnya akan lebih cepat, instan banget. Mereka yang punya ide yang sama, punya buku-buku keagamaan.

Berapa lama proses Anda dulu bisa sampai terpapar paham radikalisme?

Lama. Butuh waktu 5 tahun untuk saya bisa terpapar dan itu prosesnya sangat panjang dari bacaan dan taklim-taklim.

Bila dibandingkan jaringan teroris sekarang bagaimana?

Ya sekarang kalau saya lihat setahun dua tahun sudah jadi. Karena kita memang, kalau lewat sosmed seperti kucing dalam karung. Berhubungan dengan yang mereka ini intel apa bukan. Mereka sudah enggak pikir itu, mereka fokus sama amaliyat, kalau mereka setuju mereka segera amaliyat, yang enggak setuju ya mereka vakum saja. Tapi mereka masih coba-coba, mereka masih takut-takut. Tapi masih ada dalam grup itu, kalau dia enggak tahan dia akan keluar dari grup itu. Dan saya melihat dari grup-grup ISIS ini banyak yang keluar, hampir tiap hari ada yang keluar. Tapi tiap hari juga ada yang masuk.

Lalu bagaimana ciri-ciri orang terpapar paham radikalisme itu sendiri?

Pertama, kehidupan sosial mereka mulai terganggu. Mereka jadi enggak ramah dengan lingkungan karena mereka menganggap lingkungan rumahnya ini lingkungan yang rusak, lingkungan yang jahiliyah. Ketika mereka terisolisasi dari lingkungan sosial maka sebetulnya itu sudah tanda-tanda mereka sudah terpapar.

Kedua, akibatnya pemahaman mereka terisolir dampaknya sampai mereka tidak mau menjawab salam. mereka pelit, padahal menjawab salam itu wajib hukumnya karena mereka menganggap di luar kelompoknya bukan orang Islam. Menjawab salam orang kafir itu enggak boleh kata mereka. Mereka tidak akan menjawab salam dari kelompok yang mereka kenal. Apalagi ketahuan kelompok itu bermusuhan dengan dia, dia tidak akan menjawab salam.

Ketiga, mereka juga enggak mau salat di masjid biasanya. Karena mereka menganggap masjidnya adalah masjid yang dikuasai oleh orang-orang munafik, makanya kita lihat dalam beberapa hal mereka kesulitan salat di masjid karena enggak sepaham dengan ini.

Keempat, mereka banyak melakukan pernikahan tanpa wali. Karena mereka menganggap orangtuanya itu murtad dan sebagainya. Sehingga orangtua wanita ini tidak berhak menjadi wali dalam kelompok mereka, akhirnya mereka banyak melakukan kawin lari istilahnya, atau kawin tanpa wali dan mereka menjadikan wali hakim sebagai walinya. kelompok mereka seperti itu.

Kelima, mereka tidak mau makan daging sembelihan karena daging sembelihan yang disiapkan dan dipotong oleh pasar-pasar itu disembelih oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang muslim. sehingga mereka menganggap itu adalah bangkai.

Sebenarnya mudah menandai kelompok-kelompok seperti ini, kalau sudah ada di lingkungan kita berpikir seperti itu, ketahuilah bahwa mereka sudah terpapar. Nah ini jadi identifikasi awal bagi kita. Instrumen ini penting sehingga kita bisa lebih punya deteksi dini terhadap pemahaman seperti ini.

Apakah orang yang sudah terpapar paham radikal bisa kembali dengan cara deradikalisasi?

Deradikalisasi ini belum menyentuh hal-hal yang sifatnya ideologi menurut saya. Makanya kemudian ini menyebabkan upaya deradikalisasi ini agak kurang maksimal, karena kalaupun ada kontra narasi atau kontra ideologi itu hanya bersifat orang-orang yang tidak kompeten di dalam membahas masalah-masalah itu. Karena mereka enggak paham apa itu takfiri dan menurut saya ini ada kesalahan untuk orang-orang ini.

Adakah cara lain untuk mengembalikan orang-orang yang terpapar radikalisme?

Ya menurut saya seharusnya sejak pendidikan awal itu harus sudah ada punya baik Densus 88 atau stakeholder lainnya yang berkompeten dalam masalah ini sudah punya assesmen tentang kelompok atau orang-orang yang profiling tentang jaringan, kadar radikalisasi, sehingga nanti bisa ditentukan obatnya seperti apa. Nah obatnya ini siapa yang simpatisan saja, mana yang radikal saja, mana yang ideolog saja, dan ini harus dipisahkan, jangan dicampur. Karena mereka kalau dikumpulkan jadi satu bisa jadi madrasah, universitas, kalau dipisah mereka jadi virus.

Maka sebetulnya menurut saya, menangkap teroris harus diiringi juga dengan semangat membangun infrastruktur. Penjara maksimum sekuriti dan sebagainya. Ini harus dibuat, kalau tidak ya kita hanya memproduksi saja. Akhirnya program-program deradikalisasi jadi tumpul ketika mereka sudah di lapas karena baik di luar maupun di dalam lapas mereka sudah punya imun untuk menolak kelompok-kelompok seperti itu. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini