Eiger: Produk Kami Lebih Mahal Tapi Punya Nilai Lebih

Rabu, 28 Agustus 2019 07:04 Reporter : Tim Merdeka
Eiger: Produk Kami Lebih Mahal Tapi Punya Nilai Lebih COO Eiger Christian Hartanto Sasono. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - "Kita ingin tekankan bahwa orang itu bisa bangga memakai brand Eiger," ujar Christian Hartanto Sarsono, Managing Director Eiger. Memakai kaos polos biru, dia mengajak berkeliling pabrik. Melihat langsung pembuatan tiap perlengkapan outdoor.

Banyak cerita diungkapkan Christian. Dengan gaya santai, dia menjelaskan asal muasal nama Eiger. Sebenarnya itu diambil dari nama sebuah Gunung berketinggian 3970 mdpl. Terletak di Swiss, bahkan masuk dalam kategori gunung ke-3 paling sulit didaki.

Kantor dan pabrik berlokasi di Jalan Raya Terusan Kopo, Kabupaten Bandung. Produk Eiger didirikan Ronny Lukito pada tahun 1979 di bawah naungan PT Eigerindo Multi Produk Industri. Lokasinya masih tetap sampai sekarang.

Awalnya sang pendiri melakukan kegiatan produksi di atas lahan seluas 60 meter persegi dan bermodal dua buah mesin jahit. Bahkan diawali dari industri rumahan. Tas merek Exsport merupakan produk pertamanya. Kemudian muncul Eiger di tahun 1989, dan terakhir merek Bodypack.

Nama besar Eiger memang sudah tak asing di kalangan penghobi kegiatan outdoor, khususnya pendaki gunung. Kami mendapat kesempatan khusus mengunjungi kantor dan pabrik Eiger pada Rabu pekan lalu.

Kedatangan tim merdeka.com pagi itu disambut hangat. Ada pula Hendra Suhendra selaku Marketing Communication, dan Head of Marketing Division PT Eigerindo Multi Produk Industri, Harimula Muharam selaku. Berikut wawancara kami dengan Christian Hartanto:

COO Eiger Christian Hartanto Sasono ©2019 Merdeka.com

Bisa diceritakan bagaimana awal mula Eiger berdiri sampai saat ini?

Eiger ini sudah berdiri dari tahun 1989. Pada awalnya pada tahun 1979 perusahaan kita mengembangkan perusahaan brand exsport, dan 10 tahun kemudian Eiger baru berdiri. Nah konsep awal dari Eiger ini sebetulnya, fokus pada petualangan dan saat ini difokuskan pada petualangan di area tropis.

Kenapa memilih nama Eiger?

Kalau orang bicara Eiger berasal dari nama gunung di Swiss. Sebetulnya yang kita ambil itu semangatnya. Karena Eiger ini kalau kita beri singkatan sebetulnya E.I.G.E.R. "E" yang pertama itu adalah education berarti tentang pendidikan. "I" inspiration. "G" itu green life. "E" nya adalah experiential dan "R" adalah responsibility.

Semangat 5 ini yang membuat kita menjadi dasar bagaimana kita bertingkah laku, bagaimana kita melakukan proses produksi dan bagaimana kita ambil andil dalam petualangan di Indonesia.

Produk pertama apa yang diproduksi Eiger?

Produk pertama Eiger itu adalah ransel ukuran 55 liter. Ransel itu kita lalukan berdasarkan testing dan uji coba dari lapangan sendiri. Kita lakukan uji coba karena ini menjadi dasar perkembangan produk Eiger yang berikutnya bagaimana produk Eiger itu lahir dari testing, design, sampai pengembangan dan kita yakinkan bahwa produk ini sudah diuji di lapangan dan terbukti bisa mengakomodir kebutuhan dari konsumen.

Produk unggulan Eiger?

Banyak serial yang dikeluarkan oleh Eiger. Jadi kalau kita bagi segmen sebetulnya dari piramid (logo)itu ada tiga jenis kategori produk Eiger.

Pertama itu bagaimana Eiger ini sudah mencapai produk yang menunjukkan kelas, sudah sampai level mana? Nah, biasanya ini terinspirasi dari tema yang akan keluar setiap tahun dari produk Eiger. Contohnya, kemarin kita tes di Black Borneo. Nah kita keluarkan Black Borneo Series. Terus kita sempat tes juga di pendakian 28 gunung di Indonesia pada tanggal 28 Oktober.

Lalu di bawahnya kita ada produk directional, jadi tema sepanjang satu tahun kita bagi per season dan produk itu dikategorikan sebagai suatu serial yang memberikan arah kepada konsumen.

Terakhir di piramid paling bawah itu adalah produk sehari-hari. Kalau sehari-hari yang kita pakai mungkin bukan ke gunung tapi kita pakai ke mal, kota, atau buat traveling.

Bagaimana ceritanya produk Eiger bisa sampai menembus pasar luar negeri?

Pada tahun 2010 Eiger buka showroom di Dortmund, Jerman. Terus Eiger juga pernah memasarkan di Malaysia dan Singapura juga, tapi setelah tahun 2015 kita sadar ternyata produk itu belum mampu memenuhi secara kapasitas untuk permintaan di dalam negeri. Jadi kita fokus ke dalam negeri dulu nih. Nanti strategi berikutnya akan mulai masuk ke cross border di Asia Tenggara.

Pabrik Eiger ©2019 Merdeka.com

Sebenarnya tren pasar outdoor saat ini seperti apa dengan banyak persaingan?

Kalau saya lihat produk-produk untuk outdoor itu makin lama makin berkembang. Karena sekarang kita lihat orang bukan naik ke gunung saja tapi mereka lakukan travelling.

Kita lihat sekarang, dunia traveling makin berkembang, selain itu juga, banyak orang yang mencintai kegiatan outdoor ini sebagai bagian dari gaya hidupnya. Mungkin mereka pergi ke gunung hanya satu dua kali untuk isi konten social media, buat mereka itu sangat menarik. Maka dari itu kita usahakan untuk memenuhi produk-produk ini.

Pertumbuhan Eiger saat ini stagnan atau terus menanjak?

Kalau saya lihat, perkembangan Eiger ini seiring dengan perkembangan dunia travelling yang semakin besar. Jadi saat ini banyak orang berpergian diberi kemudahan untuk melakukan perjalanan. Ini mengakibatkan ceruk pasar yang makin bertambah. Jadi ada pasar traveling, terus ada yang suka naik gunung untuk isi konten di sosial media.

Tentu ini menyebabkan growth-nya Eiger ini sangat baik di tahun ini khususnya di empat tahun terakhir, jadi perkembangan produk Eiger sangat signifikan.

Sebelum Eiger mengeluarkan produk, bisa dijelaskan tentang proses riset yang Anda lakukan bersama tim?

Kita mengambil filosofi belajar dari alam, karena produk kita sesuai dari alam dan kita fokus pada customer pemakai produk kita. Jadi ada tiga tahapan. Pertama tahap untuk desain. Desain ini kita lihat betul dengan kondisi pemakaian. Secara fungsi dan kebutuhan konsumen.

Setelah desain, kita masuk ke fase develop atau pengembangan. Jadi setelah ada desainnya kita develop bentuk prototypenya. Setelah jadi, kita masuk fase testing.

Setelah produk ini jadi, kita lakukan pengujian apakah produk yang sudah dikeluarkan ini layak memenuhi kebutuhan konsumen baik secara fungsi maupun estetikanya. Jadi tiga tahap itu, desain, develop dan testing.

Untuk strategi pemasaran Eiger, apakah fokus ke online atau offline?

Saat ini hampir semua orang bicara tentang online dan offline. Setelah kita pelajari ada dua hal yang kita kembangkan di masa depan.

Pertama (Offline) adalah bagaimana membuat Eiger ini jadi toko yang experiential store. Jadi orang datang jauh-jauh, macet macet ke toko, tentunya ingin dapat pengalaman yang luar biasa. Nah jadi kita bentuk toko yang luasnya sampai 1000 meter persegi.

Sehingga di sana konsumen bisa lakukan aktivitas, ada papan panjatnya, bisa lihat uji coba produk Eiger juga di sana. Tapi kita perkuat dengan online-nya juga. Nanti ke depannya kita kembangkan juga sebuah sistem bagaimana caranya supaya antara offline dengan online ini sudah tidak ada batas. Jadi disebut dengan omni channel yang fokus ke customer.

Nanti mereka (customer) bisa pesan di online, lalu ambil barangnya di toko, atau customer minta barang diantar ke rumah jika pesan online di toko. Jadi antara online dan offline ini sudah tidak ada batas. Itu strategi kita untuk ke depan.

Store Eiger ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Eiger store di Indonesia sudah ada berapa?

Kita saat ini sudah ada 232 lokasi ditambah dengan 100-an lokasi yang milik authorize reseller kita. Jadi itu tidak dikelola oleh kita secara langsung, tapi dengan partner kita. Konsumen tidak bisa membedakan mana yang kita kelola dan mana yang dikelola oleh partner kita. Namun, secara konsep standar pelayanan, itu sama. Jadi totalnya ada sekitar 332 lokasi.

Ada beberapa toko yang cukup besar, masuk kategori flagship store. Jadi di bandung kita ada flagship store di jalan Sumatera, Cihampelas, dan Jatinangor. Terus ada juga di Makassar yang cukup besar, dan di Jakarta pun ada. Tujuan kita, akan dirikan flagship store yang arahnya lebih ke experiential store.

Banyak produk outdoor dari luar menyerbu Indonesia, upaya seperti apa yang dilakukan Eiger agar tetap bertahan eksistensinya di pasar?

Kita mencoba untuk melakukan brand yang lebih ke experiential tadi. Kita ingin tekankan bahwa orang itu bisa bangga memakai brand Eiger secara valuenya. Jadi misalkan dalam satu tahun kita akan ciptakan beberapa tema-tema marketing. Tujuannya supaya kita tidak bersaing sesama produk secara komoditi.

Kalau secara komoditi, akhirnya orang bikin murah kita bikin lebih murah lagi, kita engga akan main ke sana. Justru kita akan arahkan supaya produk kita bisa dijual lebih mahal dan memberikan value lebih kepada konsumen agar secara emosional, "oh ini tuh keren, ada storynya."

Ini yang strategi kita supaya kita bisa bersaing dengan produk-produk yang lain.

COO Christian Hartanto Sasono Eiger ©2019 Merdeka.com

Eiger mengusung konsep Tropical Adventure. Apa sebenarnya Tropical Adventure itu?

Tropical adventure ini kalau kita lihat ada 96 negara yang ada dalam garis equator, salah satunya Indonesia. Konsep tropical ini yang kita tekankan sebagai diferensiasi dari produk Eiger, sementara untuk produk Internasional lainnya lebih mengarah ke puncak yang subtropis.

Kita bagi untuk tropical ini menjadi beberapa segmen. Jadi ada hutan hujan atas, hutan hujan menengah. Kita lihat beberapa alam tropis di Indonesia justru perlu produk yang memang cocok di iklim tropis seperti ini.

Nanti di produk kita ada keunggulan misalnya anti insect, terus dia juga cepat kering produknya, terus bisa melindungi dari sinar matahari. Beberapa kekuatan-kekuatan inilah yang membedakan produk Eiger dengan produk lain sehingga kita bisa meyakinkan produk ini paling cocok digunakan di area tropis.

Konsep paling beda?

Kita harapkan ini jadi diferensiasi dari yang lain. Saya tidak bilang merek lain belum melirik ke sini tapi kita akan fokus perkuat ke tropical ini.

Apakah ada cabang olahraga yang belum populer tapi lagi dilirik untuk masuk sebagai brand ambassador?

Saat ini kita lebih banyak fokus ke hiking mountaineering. Sebetulnya ada juga ke adventure riding dan outdoor lifestyle. Memang beberapa cabang yang lain itu masih banyak peluangnya. Di sini ada olahraga air, ada juga trail running, namun kita juga melihat yang ke sepeda.

Tapi kita coba bertahap dulu. Kita akan berupaya supaya fokus dulu dengan kategori hiking mountaineering, riding dan lifestyle, tidak menutup kemungkinan kita akan masuk ke cabang cabang olahraga yang lainnya.

Ada sih sebetulnya yang dilirik. Tapi banyak juga yang cukup beririsan dengan olahraga olahraga itu dengan kategori aktivitas itu. Jadi bisa dipakai juga di beberapa aktivitas sebetulnya walaupun kita tidak secara spesifik menyebutkan aktivitasnya.

Reporter: Dian Rosadi, Eko Nugroho, Ramadhian Fadillah [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini