Bumi Kian Terusik Sampah Plastik

Kamis, 7 Februari 2019 07:04 Reporter : Lia Harahap
Bumi Kian Terusik Sampah Plastik Sampah di Pintu Air Manggarai. ©2018 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Masalah sampah benar-benar bikin resah. Apalagi lagi berbahan dasar plastik. Bumi dibuat terusik.

Upaya menyelamatkan bumi dari sampah plastik terus dilakukan. Tak cuma Indonesia, dunia juga memandang timbunan sampah persoalan serius.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tren sampah plastik di Indonesia kian meningkat. Angka terakhir, berada di posisi 16 persen. Level kedua setelah sampah organik.

Makin membahayakan, sampah sulit terurai itu kini terbawa ke laut. Artinya, menjadi abadi di dalam air.

Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar, bercerita bagaimana persoalan sampah sudah menjadi ketakutan dunia termasuk Indonesia. Sehingga sangat butuh penanganan sangat serius.

"Seperti cerita perubahan iklim juga, persoalan sampah ini menjadi isu global. Dan ini enggak bisa dilawan. Ini jadi ketakutan global," kata Novrizal saat berdialog dengan merdeka.com, Senin (4/2) kemarin.

Berikut wawancara lengkap merdeka.com dengan Novrizal:

Volume sampah di Indonesia tiap tahun bertambah dan ini sudah lama jadi persoalan. Apa sebabnya?

Bicara persoalan sampah di kita ada tiga magnitude persoalan. Kita lihat dulu persoalan dari hulu sampai hilir. Ada tiga stakeholder besar sebenarnya.

Pertama produsen. Di mana termasuk di antaranya kafe yang dari produknya atau packaging menghasilkan sampah. Lalu konsumen yaitu publik sendiri. Ada produk yang dipakai konsumen lalu jadi sampah. Kemudian hilirnya ada pemerintah daerah, yang selama ini ada Dinas kebersihan di dalamnya. Karena pengelolaan sampah sebenarnya ada di sistem kota. Pemerintahan kota dan kabupaten.

Apa saja persoalan di tiga stakeholder itu sehingga masalah sampah kian serius?

Sekarang kita lihat persoalannya di mana. Pertama adalah kapasitas pelayanan dari Pemda itu masih jauh. Hampir seluruh sistem kita dalam pengelolaan sampah kita menggunakan sistem landfill atau tempat pembuangan akhir atau TPA.

Kalau kita lihat dari 380 TPA kita di seluruh Indonesia, menggunakan data Adipura, kurang lebih cuma 44 persen yang tidak open dumping, atau yang dilakukan secara benar. Hampir 56 persennya dilakukan open dumping atau dilakukan tidak benar. Jadi cuma sediakan tempat, dibuang begitu saja.

Harusnya begitu dibuang tiap hari di landcovering dibuat sel-selnya sehingga tidak jadi persoalan faktor penyakit. Data dari Kementerian PU lebih jelek lagi. Itu Kondisi TPA kita.

Kemudian kita lihat misal kasus Bekasi yang viral kemarin. Di sana sehari timbulan sampah 2.400 ton, kapasitas pelayanan pemerintah daerahnya cuma 800 ton, lebih kurang 30 persen, 1.400 ton diselesaikan sendiri oleh masyarakat.

Makanya ada yang buang di sungai, ada juga mungkin yang peduli dilakukan pemilihan yang organiknya. Yang un-organiknya di bawa ke bank sampah atau dikasih ke pelapak. Tapi berapa persen. Dari situ kita bisa lihat kapasitas Pemda dalam pengelolaan sampahnya masih jauh dari angka 100 persen.

Lalu dari sisi konsumen. Baru-baru ini ada rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa indeks ketidakpedulian masyarakat Indonesia terhadap lingkungan khususnya dalam pengelolaan sampah mencapai 72 persen. Artinya 72 persen orang Indonesia tidak peduli terhadap sampah dan 81 persen tidak memilah sampahnya. Ini juga persoalan serius di konsumennya.

Kemudian persoalan di hulunya, produsen. Produsen masih banyak walaupun sekarang beberapa sudah buat kebijakan di gerainya tidak disediakan sedotan plastik. Banyak produsen air mineral sudah hampir 11 persen take back dari kemasannya dan kemasannya bisa di daur ulang.

Sekompleks itu, lalu apa yang sudah dilakukan KLHK sejauh ini?

Jadi bicara dari hulu ke hilir, persoalan sampah ini luar biasa. Makanya saya selalu bilang kita nggak bisa segmented. Semua harus prioritas, harus simultan bersama. Bagaimana produsen kita dorong kurangi sampahnya, mulai dari redesain, take back produknya yang hasilkan sampah.

Konsumennya juga kita dorong, kan sekarang banyak gerakan perubahan perilaku di publik, malah jadi lifestyle. Sambil di satu sisi kita juga tingkatkan kapasitas pemerintah daerahnya supaya kapasitas pelayanannya bisa jadi 100 persen.

Berapa data terakhir total sampah Indonesia?

Tahun lalu itu, 65 juta ton dari seluruh indonesia. Dengan komposisinya 57 persen organik, 16 persen sampah plastik, 10 persen kertas, sisanya logam kaca, tekstil dan lain-lain.

Paling banyak penyumbang sampah plastik siapa dan ditemukan di mana?

Paling banyak tetap dari domestik. Nah perlu diketahui, 80 persen sampah di laut itu kan dari daratan. Kalau daratannya dibereskan, maka persoalan di laut bisa lebih mudah.

Sampah plastik berada di posisi kedua, apa sebabnya?

Memang ini terjadi tren peningkatan dari sampah plastik, organiknya malah menurun. Sampah plastik terus meningkat jika pada tahun 1995 itu hanya 9 persen, kemudian 2005 11 persen, 10 tahun kemudian jadi 16 persen. Jadi kalau kita buat petanya, memang kelihatan agak menaik dan signifikan.

Dan bisa saja itu terus terjadi tanpa ada perubahan revolusioner baik dari perilaku publik, produsennya dan pemerintah. Jika terus terjadi, maka hipotesa tahun 2050, lebih banyak sampah plastik di laut wajar saja, karena kelihatan trennya dan itu karena pola konsumsi juga.

Sedotan plastik juga penyumbang sampah terbesar, bahkan 93 juta sehari?

Iya itu mengerikan. Semua orang melakukan. Bayangkan kalau orang tiga kali ke kafe, berarti tiga kali dikasih sedotan. Itu dilakukan semua orang dan masif. Kemudian sampahnya, karena sedotan bentuknya ringan, walaupun bisa didaur ulang, secara ekonomi dan praktis malas mendaur ulangnya. Jadinya langsung terbuang ke sampah dan terus ke perairan. Makanya ada insiden masuk hidung penyu.

Jadi sedotan itu persoalan serius karena jumlahnya banyak dan masif. Dan itu umumnya berakhir di tempat sampah yang kemudian berakhir perairan.

Apakah KLHK akan membuat aturan soal tempat makan dilarang sediakan sedotan plastik?

Kita kan sedang buat aturan itu, salah satunya aturan produsen kayak restoran, retail, perusahaan besar, MCD sekarang bahasanya mulai dari sedotan.

Kita lihat sekarang banyak kepedulian dari gerai, kalau ini jadi lifestyle besar akan membangun perilaku konsumen, jadi sampah plastik bisa dikurangi.

Upaya apa bisa dilakukan sebagai pencegahan?

Paling mungkin dari sisi Pemda kita tingkatkan 100 persen kapasitas pelayanannya. Kalau sudah 100 persen dan semua TPA nya open dumping. Karena sampah plastik ini ngeri kalau lari ke perairan karena selamanya dia ada di situ.

Selain itu, perubahan perilaku di konsumen. Misalnya, kurangi kantong belanja plastik, tidak pakai sedotan. Kalaupun tetap hasilkan sampah ya harus dipilah sejak di sumbernya. Karena kalau sudah di tong sampah kita pilah, itu sudah bercampur bakteri, bau, dan nggak potensi lagi dijadikan sumber daya.

Makanya kalau beli minuman dipilah, itu masih bersih, masih sumber daya. Dikumpulkan dibersihkan lalu dibawa ke bank sampah, pelapak, karena bisa didaur ulang. Nah yang organiknya bisa dibuat dikompos di rumah, resapan biopori, jadi dengan sendirinya tidak masuk sampah.

Di produsen juga kita dorong kurangi sampah di produsennya.

Untuk solusi jangka panjang dan mengikat, apa yang dikerjakan KLHK?

Kita mau bikin aturan, road map pengurangan sampah oleh produsen. Jadi produsen itu kita berikan target dalam setahun harus bisa kurangi 30 persen produk atau kemasannya yang umumnya plastik.

Mereka juga akan kita dorong redesain. Semisal botol air mineral, dia lagi me-redisain botol baru. Botolnya bening semua, karena label dan tutup itu jadi sampah. Nah sama dia, tutup dan labelnya sama terus dia buat huruf timbul. Jadi semua PET (Polyethylene Terephthalate). Bahan PET 100 persen bisa didaur ulang. Bisa jadi sepatu, mau jadi baju. Jadi akhirnya apa, dengan sendirinya redesain itu mengurangi sampah plastik.

Selain itu produsen juga didorong melakukan take back, ambil kembali packaging-nya yang jadi sampah. Di indonesia, kayak sebuah produk susu itu 20,8 persen take back kembali ke dia. Kertasnya jadi kertas daur ulang, alumunium di dalamnya jadi atap.

Dan gaya hidup juga perlu, orang kita harus cinta daur ulang. Kalau semua orang gunakan daur ulang, nilainya juga tinggi untuk daur ulang jadi sumber daya. Hal itu perlu kita dorong.

Sekarang ini banyak sekali gerakan sosial soal pengurangan sampah plastik termasuk sedotan plastik. Apakah KLHK akan menggandeng mereka agar kampanye bebas sampah plastik semakin gencar?

Oh iya, itu kan dari kita juga. Karena memang kita melakukan kebijakan itu. Misalnya di Banjarmasin, mereka sudah dua tahun di ritel modern-nya, sekarang masuk ke pasar tradisionalnya tidak lagi sediakan plastik bag. Malahan di pasar terapung enggak ada lagi plastik bag, dengan sendirinya muncul totebag yang dari anyaman dan itu jadi tren juga di sana.

Sehingga kalau ke mal, ke supermarket bawa purun (tas anyaman) dan itu termasuk membangun ekonomi baru masyarakat tradisional juga.

Edukasi soal pengurangan sampah plastik paling susah masyarakat kelas bawah. Bagaimana usaha pendekatan yang dilakukan?

Saya lihat contoh kasus di Banjarmasin itu bisa berjalan, artinya masyarakatnya bisa menerima dan gak ada demo. Bogor juga, enggak ada demo. Jadi kita lihat masyarakatnya sudah siap yang penting pemerintah arahkan dengan aturan.

Kesadaran masyarakat soal sampah ini saya lihat sudah tinggi. Begitu aturan dikeluarkan, mereka terima. Malah di Bali ada tiga sampah plastik diatur, plastik bag, sedotan dan styrofoam tidak disediakan lagi dan masyarakatnya melakukan itu dengan senang hari. Ini artinya tinggal aturan diterapkan, karena kesadaran itu sudah ada.

Kebijakan pengurangan sampah plastik ini pasti berdampak pada pelaku industri plastik. Apakah ada keluhan dari mereka?

Pasti. Banyak teman-teman industri mengeluh. Tapi saya sampaikan ke teman-teman semua, dunia juga sedang berubah saat ini. Di G20 besok juga salah satu yang dibahas masalah marine plastic degree. Di forum-forum internasional sedang bahas ini, bahkan ada rencana global action tentang sampah plastik ini, karena persoalan ini nyata. Juga masuk konfrensi internasional tentang sampah plastik ini.

Jadi sebaiknya industri-industri juga lihat. Kan enggak semua plastik, yang sekali pakai aja. Pemain industri harus lihat dunia sedang berubah utamanya tentang plastik sekali pakai. Sehingga mereka harus bisa beradaptasi dengan bisnis yang baru.

Kalau tetap pertahankan itu sementara ada gelombang besar dunia yang berubah, nanti repot sendiri kalau nggak cepat beradaptasi.

Imbauan KLHK untuk semua masyarakat Indonesia menghadapi sampah yang kian jadi persoalan?

Masalah sampah ini jadi ketakutan dunia internasional, makin nyata persoalannya, apalagi kalau masuk ke perairan. Kita imbau semua harus lakukan hal prioritas. Baik produsen, perubahan perilaku masyarakat. Sembari kita tingkatkan kapasitas pemerintah daerahnya. Kalau enggak, kita enggak bisa selesaikan masalah sampah ini. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Sampah Plastik
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini