Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Banjir Pagarsih dan memori Situ Aksan

Banjir Pagarsih dan memori Situ Aksan Situ Aksan sekarang. ©2016 merdeka.com

Merdeka.com - "Saya masih terbayang jelas suasana rindang dan riak air di sana (Situ Aksan)," kata Aat Eson (59). Aat lahir dan tinggal di Gang Warung Muncang, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Kini, Situ Aksan tinggal kenangan buat Aat. Di atasnya sudah berdiri kawasan hunian dan pertokoan.

Kepada merdeka.com, Aat berbagi cerita soal Situ Aksan. Tempat itu adalah lokasi favorit bermain buat dia saat kanak-kanak. Menginjak remaja dan dewasa, Aat menjadikan Situ Aksan sebagai pelarian dikala hati resah dan mencari inspirasi. Aat hampir 20 tahun 'bersahabat' dengan danau dibuat seorang bernama Mas Aksan.

"Saya bisa berenang di Situ Aksan, bisa mancing di Situ Aksan. Bahkan ketika lagi resah hati datang ke sana rasanya tenteram. Saya pernah datang ke sana tidur di sana karena ada kursinya juga," ujar bapak tiga anak itu.

Menurut Aat, Situ Aksan yang berdiri di lahan di atas 5 hektare kala itu memiliki tiga danau, di mana di tengahnya terdapat seperti pulau-pulau kecil. Untuk sampai ke pulau-pulau kecil itu bisa dijangkau dengan menggunakan perahu dayung.

"Orang-orang naik peperahuan untuk mengitari danau. Ada yang berenang dan ada yang mancing. Karena ada tiga danau berbeda. Danau itu juga berfungsi mengendalikan air. Airnya jernih sekali," ucap Aat.

Hal itu menjadikan Situ Aksan salah satu tempat wisata menarik pada era 1950-an hingga 1970-an di Kota Bandung.

situ aksan dulu dan sekarang

"Dulu mah disebutnya hutan tengah kota," lanjut Aat.

Zaman berubah. Di akhir 1970-an pembangunan mulai bergeliat di sekitar Situ Aksan. Padahal Situ Aksan dibuat di era Pemerintah Hindia-Belanda berfungsi sebagai pengendali banjir. Situ Aksan dibikin dari hasil reklamasi bekas pembuatan bata merah saat Pemerintah Hindia-Belanda giat membangun gedung-gedung. Namun, luas Situ Aksan makin berkurang pada 1980-an, dan akhirnya benar-benar lenyap.

Di atas kawasan Situ Aksan saat ini berdiri perumahan Taman Hijau dan pertokoan. Kompleks elit sudah ada sejak 1990 itu berada di atas lahan dua hektare dengan 40 hunian.

Situ Aksan tentu akan menjadi kenangan banyak orang. Banyak warga kota kembang menghasilkan karya mulai dari seni lukis, musik, dan lainnya terinspirasi tempat itu. Bahkan saking berkesannya Situ Aksa, penyanyi Koko Koswara mengabadikannya dalam sebuah tembang, 'Situ Aksan'. Ketika kawasan Pagarsih diterjang banjir, Situ Aksan yang sudah raib itu kembali ramai diperbincangkan. Apalagi jarak Situ Aksan dan Pagarsih hanya berkisar satu kilometer.

"Enggak kalau menurut saya. Sebab kalau lihat banjir Pagarsih saya melihat karena limpasan Sungai Citepus yang kencang. Ditambah sekarang selokan-selokan di Pagarsih menyempit. Sehingga air meluap," lanjut Aat menganalisa.

T. Bachtiar dari Kelompok Riset Cekungan Bandung dan Masyarakat Geografi Indonesia juga berpendapat demikian. Dia tidak sepakat jika lenyapnya Situ Aksan dituding menjadi penyebab banjir di kawasan Pagarsih.

Menurut dia, lapisan tanah di bawah cekungan Bandung adalah dasar Danau Bandung Purba, karena berada di bawah ketinggian 725 meter di atas permukaan laut. Situ-situ terakhirnya bukan Situ Aksan, melainkan situ, ranca, empang, balong yang ada di selatan Bandung.

"Banyak yang sudah beralih fungsi. Dan kalau mau disalahkan itu juga bisa dong, bukan cuma Situ Aksan," kata Bachtiar.

Menurut ada 18 nama kawasan saat ini di Bandung yang dulunya adalah area danau. Sebut saja kawasan Situ Guning, Rancaekek, Rancabolang yang sudah menjadi perumahan Margahayu Raya.

Tidak ada lagi cerita kegembiraan hutan dan danau kota bisa menyejukkan layaknya cerita Aat. Kini hanya tempat itu bising dengan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Kenangan tentang Situ Aksan kini hanya terpatri pada sebuah papan nama jalan. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP