Analisis Pengamat Timur Tengah: Iran di Atas Angin, Israel Pengecut karena Keroyokan
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf membeberkan pandangan tentang perang Iran versus Israel.
Dalam Podcast merdeka Kamis (19/6), pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf membeberkan konteks perang Iran versus Israel yang kini masih berlangsung.
Pengamat yang pernah beberapa kali berkunjung ke Iran, Gaza, Lebanon, dan Libya itu mengatakan posisi Iran dalam perang melawan Israel saat ini sedang di atas angin. Berikut wawancara merdeka.com dengan Faisal Assegaf:
Tanya (T): Soal Iran-Israel ini kalau kita lihat ini kan sekarang memanas. Padahal bukannya dulu dalam sejarahnya itu mereka sangat mesra ya?
Jawab (J): Jadi waktu zaman kerajaan Iran, Shahreza Pahlavi, rajanya waktu itu, memang hubungan Iran dengan Israel, dengan Amerika itu baik.
Makanya dulu ada kedutaan Amerika kan. Terus Iran juga menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim kedua yang mengakui berdirinya Israel setelah Turki. Jadi Turki tahun 1949 (mengakui), karena Israel berdiri 14 Mei 1948.
Pro-Palestina sekaligus anti-Zionis
Nah Turki negara muslim pertama yang mengakui berdirinya Israel. Yang kedua Iran pada 6 Maret 1950 (mengakui Israel).
Jadi memang dulu mereka punya hubungan baik, tidak bermusuhan. Tapi berubah ketika kemenangan Revolusi Islam pada 19 Februari 1979.
Nah rezim Mullah yang berkuasa, yang sekarang sejak 1979 memang anti-zionis, anti-Israel.
T: Itu karena perubahan pandangan ketika ada rezim baru di Iran? Atau karena pada titik apa tiba-tiba langsung bergeser dari mendukung akhirnya jadi melawan?
J: Ya karena beda. Berubah penguasanya kan rezimnya beda. Kalau rezim yang Islam ini, rezim mullah ini memang dari awal memang anti-zionis.
Jadi memang bermusuhan dengan Israel. Ini kan bedanya. Kalau negara muslim lainnya itu pro-Palestina tapi tidak anti-zionis. Kalau Iran pro-Palestina sekaligus anti-zionis. Itu bedanya. Yang declare ya penguasanya.
Indonesia pro-Palestina tapi nggak bermusuhan sama Israel kan. Sama negara-negara muslim lain sama. Cuma Iran beda. Dia pro-Palestina tapi anti-zionis.
Hitam-hitam putih-putih gitu. Sikap Iran ini yang kemudian ada perubahan di rezim si Ali Khomeini ini. Ini kemudian yang membuat Israel kemudian langsung beda garis.
Itu yang membuat Iran-Israel jadi sekarang ini. Siapapun penguasa di manapun, di negara manapun, kalau bermusuhan sama Israel otomatis bermusuhan sama Amerika. Jadi memang ya itu tadi. Karena rezim Mullah dari 1979 ini anti-Israel. Bermusuhan dengan Israel, bermusuhan dengan Amerika.
Mau nggak mau itu akan dijadikan dipropagandakan sebagai musuh bersama dunia. Itulah yang dipropagandakan oleh Amerika dengan Israel selama ini. Iran ancaman perdamaian dunia.
Padahal kalau kita lihat yang sering mengobarkan perang ya Amerika. Amerika perang di Afghanistan. Amerika ngobarin perang di Irak.
Kemudian ikut membantu menumbangkan rezim Qaddafi (Libya). Terus juga membantu tumbangnya rezim Assad di Suriah.
T: Dalam konteks sekarang. Sekarang perang terjadi. Melihat dua negara yang sedang berperang ini. Apa karena soal agama? Atau memang karena ada geopolitik yang benar-benar ada ancaman serius ke Israel?
J: Ini enggak ada hubungannya sama agama. Walaupun deklarasi anti zionis sejak 1979 oleh Rezim Mullah itu memang ada alasan politik, ada alasan agama.
Karena kan membela Palestina yang sedang dijajah oleh Israel. Perang ini terjadi karena operasi Mossad itu di Iran sudah berlangsung lama. Sudah belasan tahun yang lalu sebelum 2010 mereka sudah beroperasi di Iran. Terutama di Teheran.
Jadi pada 2010-2012 itu ada lima ilmuwan nuklir Iran yang tewas.
Kemudian Mossad melakukan operasi sabotase terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz, Provinsi Isfahan. Terus juga di Tabriz. Terus juga yang terakhir itu menewaskan Muhsin Fahrizadeh, kepala program nuklir Iran, November 2020.
Nah mereka akhirnya nekat. Boleh dibilang nekat ini Israel menyerang Iran. Karena kekuatan militer Iran dengan Israel itu setara.
T: Israel nekat?
J: Ya nekat. Karena begini. Itu tadi, karena kekuatan militernya setara, seimbang. Israel nekat menyerang karena mereka berdasarkan data intelijen Mossad yang sudah beroperasi, mereka kan mengikuti para petinggi militer dan politik yang tinggal di utara Teheran. Utara Teheran itu adalah daerah ring satunya di Teheranlah. Itu dihuni petinggi militer dan politik.
Makanya dalam serangan setengah jam itu, Jumat 13 Juni, itu bisa menewaskan waktu itu enam petinggi militer, panglima angkatan bersenjatanya, Jenderal Mohamad Bagheri, Komandan Garda Revolusi, Jenderal Hussein Salami. Nah kenapa? Nah ternyata itu tadi.
Serangan itu kan sebenarnya penghinaan terbesar ketiga yang diterima Iran dari Israel. Yang pertama ketika tewasnya tamu negara, pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran. Itu kan dia statusnya tamu negara, itu kan menghina banget. Harusnya dilindungi.
Ketika itu dia menghadiri pelantikan Presiden Massoud Pezeskian. Ketika Mei sebelumnya dia datang untuk ikut sholat jenazah mendiang Presiden Ibrahim Raisi. Saya ada di sana waktu itu.
Terus penghinaan kedua adalah pembunuhan pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah 27 September tahun lalu. Saya juga ada di situ waktu itu, di Libanon.
Nah dua penghinaan ini Iran tidak berbuat apa-apa, tidak membalas. Padahal Hamas dengan Hizbullah itu ya proksi utamanya Iran untuk melawan Israel. Nah ini kan jadi pertanyaan, kok gak membalas ini.
Nah terus dengan penghinaan terbesar ketiga langsung ke jantungnya ke Teheran. Ibarat kalau Gurita, Hamas sama Hezbollah tentakelnya ini kepalanya langsung diserang. Nah itu kan penghinaan terbesar ketiga.
Harga diri bangsa
Nah mau gak mau Iran wajib balas itu. Kenapa? Karena itu untuk menjaga kredibilitas rezim. Nanti kan masyarakat gak percaya, sudah bobol sama Mossad, tewas Panglima Angkatan Bersenjata, terus Komandan Garda Revolusi kok masih gak dibalas itu.
Nah itu akan menjadi pertanyaan, itu bahaya, itu akan memunculkan bibit-bibit oposisi di Iran yang memang kita tahu ada orang yang merasa, yang sudah ada waktu kasus Mahsa Amini kan, sebab itu sendiri kan kita udah lihat. Nah kemudian kenapa juga Iran wajib membalas? Karena itu untuk melindungi harga diri bangsa Iran. Serangan ini kan bukan sekedar ke rezim.
Ini adalah serangan yang dilakukan negara musuh ke negara Iran. Artinya bangsa Iran juga diserang ini, harga diri bangsa Iran. Nah rezim yang berkuasa harus membela harga diri bangsa Iran ini.
Negara kemarin sore
Kan kalau dibandingkan peradabannya kan Iran-Persia itu kan Iran yang istilahnya turunan dari Persia, mereka sudah pernah menguasai dunia waktu itu bersama Romawi kan ribuan tahun yang lalu. Sedangkan Israel kan negara kemarin sore 1948.
Amerika juga 1776 baru deklarasi berdirinya Amerika. Jadi ya harga diri bangsa Iran itu ya sangat besar ya, mereka harus membela.
Yang ketiga, ini bisa dipandang kan Iran menyerang ini adalah momentum memberikan keadilan bagi bangsa Palestina.
Terutama rakyat Palestina yang sedang dibantai, genosida. Kan dari awal Oktober 7, Oktober 2023 sampai sekarang kan Israel sama sekali gak kena sanksi, baik sanksi politik, ekonomi apalagi militer.
Nah Iran ini mengambil peran dari Dewan Keamanan PBB. Terus Liga Arab sama OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) yang juga tidak berdaya menghadapi Israel dan Amerika. Apa yang dilakukan Iran ini sekaligus ya sedikit banyak memberikan keadilan (bagi Palestina).
Kita lihat rakyat Palestina mau di Tepi Barat, mau di Gaza sangat girang melihat Tel Aviv hancur, Haifa hancur. Sama seperti Gaza hancur kan itu.
Itu kan yang gak pernah dibayangkan oleh rakyat Gaza atau dunia. Ternyata Iran yang dikenai sanksi politik, ekonomi, militer oleh Amerika sejak 1979 bisa memberikan serangan balasan menyakitkan.
Keroyokan
Bahkan disuruh menyerah kan, Khamenei pemimpin tertingginya. Ali Khamenei gak mau menyerah. Jadi kemungkinan besar perang akan berlangsung lama dan itu tentu bagus. Pertama bagus ya karena Israel akan bakal makin terpojok.
Terpojok karena memang dari awal ini Israel udah kalah dalam perang ini.
T: Nanti dulu, kenapa bisa berpikir Israel bahkan kalah nih? Karena kan Israel banyak dukungannya. Bahkan terbaru adalah negara G7 yang kemungkinan besar akan support besar-besaran.
J: Ini saya berani menyimpulkan kenapa Iran sudah menang sejak awal perang. Pertama, ini negara tadi seperti saya sebutkan, sudah dikenai sanksi politik, ekonomi, militer. Artinya mereka harus memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Baik itu kekuatan pertahanan, keamanan. Walaupun ada Rusia, China, tapi kan bantuannya terbatas karena ada sanksi itu kan.
Nah ini bisa melawan negara yang tiap tahun dapat bantuan ekonomi dan militer dari Amerika USD 3,8 miliar. Terus proyek sistem pertahanannya juga dibantu oleh bantuan Amerika sendiri.
Nah ini negara yang di blokade secara ekonomi, politik, militer bisa melawan Israel yang menikmati bantuan luar biasa dari Amerika dari segi ekonomi dan militer. Termasuk politik juga di Dewan Keamanan. Yang kedua, dalam konteks militer, Iran ini kan berperangnya sendiri.
Kalau Israel kan keroyokan, dibantu Amerika, terus dibantu Inggris juga. Sama di Gaza pun lawan Hamas, Israel keroyokan. Itu kan menunjukkan namanya orang keroyokan dengan orang sendiri kan pengecut. Orang pengecut kan artinya orang yang kalah.
Artinya ya Iran tentu sudah menang dalam posisi itu. Kalau Israel gak dibantu ya mungkin cepat kali (kalahnya). Sekarang aja istilahnya baru dua hari perang Netanyahu sudah minta bantuan Amerika.
Tidak menyangka
Terus Trump juga gak menyangka serangan ini begitu menyakitkan buat Israel. Dia minta perang segera dihentikan, Iran menyerah tanpa syarat. Kan gak mungkin.
Sekarang kan artinya Iran yang berada di atas angin. Dan mereka tentu tidak akan menyia-nyiakan momentum ini. Karena kan sejak rezim Mullah berdiri 1979 adalah bagaimana menghancurkan rezim Zionis Israel.
Nah inilah momentumnya. Semoga. Walaupun kabarnya juga ada dukungan dari Rusia dan China gitu kan.
T: Itu apa yang sudah dilakukan Iran itu sudah cukup memukul? Apa baru berapa persen misalkan? Kalau kita lihat korbannya. Karena Iran kan kehilangan Panglima Angkatan Bersenjata. Kehilangan Komandan Garda Revolusi.
J: Belum. Karena kan yang baru kena itu kan Tel Aviv. Tel Aviv itu kan julukannya Smart City ya. Terus Haifa, Kota Pelabuhan. Terus gudang logistiknya unit 8.200 intelijen militer Israel. Terus kabarnya juga Mossad.
Terus pangkalan Nevatim, Hadjarim, sama Talnov. Tiga pangkalan udara itu juga sudah kena. Cuma kan Israel melakukan sensor.
Seberapa kuat Iran?
Nah itu sebenarnya kalau lihat dari perbandingan itu sebenarnya belum cukup. Tapi buat masyarakat Israel yang sudah depresi, perang lama dengan Hamas dan gak bisa menang-menang. Tawanan mereka gak bisa dibebaskan.
Tiga tujuan yang ditetapkan Netanyahu gagal sampai sekarang. Itu sebenarnya sudah kemenangan. Karena apa yang dilakukan Iran makin bikin rakyat Israel takut.
T: Tadi ada prediksi soal perang ini akan berlangsung lama. Berarti Iran memang harga dirinya sudah tercabik. Jantung pertahanannya sudah dibobol. Masa tidak melawan? Sebenarnya Seberapa kuat ya Iran itu?
J: Mereka sudah punya pengalaman perang lama. 1980-1988. Lawan Irak. 8 tahun. Israel baru perang lama ini lawan Hamas.
Ini Hamas ini milisi loh. Bukan negara. Nah sekarang Iran ini negara, kan lain. Kemampuannya, sistemnya, anggarannya. Terus ketahanannya. Terus skillnya.
Itu kan beda dengan milisi. Pasti Iran lebih kuat. Nah ini baru dua hari saja Netanyahu sudah minta bantuan AS.
Karena Netanyahu juga tidak menyangka. Siapa yang menyangka Tel Aviv akan hancur begitu. Siapa yang menyangka Haifa juga akan begitu.
Tidak berlaku bagi Iran
Karena serangan yang dilakukan Hizbullah, Hamas, kan beda roketnya dengan peluru kendali Iran sebagai sebuah negara. Jadi memang boleh dibilang ya salah perhitungan Netanyahu ini dalam menyerang Iran.
Ternyata walaupun Panglima Angkatan Bersenjata dibunuh. Jadi Netanyahu ini seolah ingin mengulang apa yang dilakukan terhadap Hizbullah. Jadi semua rantai komando dihabisi sampai pemimpin tertinggi kan.
Itu nggak bisa. Itu nggak berlaku di Iran. Karena Iran kan sebagai sebuah negara sudah punya mekanisme.
Kalau Panglima Angkatan Bersenjatanya tewas, ya pasti ada penggantinya lah.
Ada perwira yang bisa melanjutkan. Cuma kan ini targetnya kemungkinan ya memang targetnya perubahan rezim ini. Nuklir itu dijadiin pintu masuk aja. Walaupun nggak ada buktinya kan.
Apakah nanti kalau pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas. Apakah rezim Mullah ini bisa bertahan? Ya tetap aja bisa. Karena itu kan sudah ada aturan di konstitusinya.
Bagaimana mengganti pemimpin tertinggi. Kan Iran sudah pernah walaupun Khamenei wafat secara natural ya. Bukan karena tewas dibunuh.
Ambisi politik pribadi
Nah ini yang akan kita lihat skenario-nya. Apakah itu akan memunculkan oposisi-oposisi di Iran.
Ya oposisi memanfaatkan itu atau nggak. Tapi saya kira ya Iran sebagai sebuah negara sudah punya konstitusi, sudah punya dasar.
Apa mekanisme bagaimana pergantian kepemimpinan. Saya kira itu tidak akan terlalu berpengaruh.
Netanyahu ini kan sebenarnya ada ambisi politik pribadinya. Netanyahu kan ini punya kasus korupsi di negaranya.
Kita tahu kasus SUAP yang Qatar terhadap penasehatnya. Terus kemudian ada empat kasus korupsi. Itu kan karena perang Netanyahu nggak bisa diperiksa.
Perang Gaza ini kan udah mandek. Netanyahu ya dia kalau selesain perang Gaza mundur. Artinya dia kalah kan.
Jelas itu sebuah pengakuan kalah. Kalah sama Hamas lagi. Sebuah milisi dari wilayah yang diblokade.
Artinya dia butuh perang baru ini. Untuk mempertahankan karir politiknya sebagai perdana menteri. Dia butuh untuk dianggap sebagai hero.
Ini kan melawan Iran sama dengan perang mempertahankan keberlangsungan Israel. Negara dengan negara ini kan.
Netanyahu mengakui kekalahan
T: Jadi memang ada ambisi politik itu tadi. Ada ambisi politik itu. Salah satunya itu.
Jadi cara bagaimana biar dia terhindar dari proses hukum yang membuat dia nanti bakal jatuh dari kursi Perdana Menteri. Salah satunya menciptakan perang baru. Melawan Iran itu sendiri.
Dan kalau nggak salah semalam Netanyahu udah bilang kita mengalami kekalahan dan penderitaan yang menyakitkan, kehilangan yang menyakitkan. Itu ucapan Netanyahu semalam. Jadi sebenarnya dia juga udah mengakui, nggak nyangka ini.
Kaget juga sama serangan. Karena kan begini, Israel itu kan negara imigran, pendatang. Orang di mana-mana kalau pindah artinya kan ingin mencari sesuatu yang lebih baik. Kesejahteraan, keamanan. Nah ternyata sekarang tinggal di Israel nggak aman. Nah otomatis kalau banyak orang pergi, orang Yahudi yang pergi balik ke negara asal, artinya klaim Israel untuk wilayah Palestina kan butuh penduduk.
Kalau penduduk banyak yang pergi, Israel nggak bisa mengklaim wilayah Palestina. Mereka kan bisa klaim karena mereka mendatangkan para imigran.
Sumber daya minyak
T: Kalau ini (perang) panjang kan Iran lagi-lagi dikeroyok, seberapa kuat sih. Nah ini kan nanti udah head to head-nya Amerika juga akan berpikir untuk intervensi militer secara langsung. Karena di belakang Iran ada Rusia, China. Terus kemudian juga Iran udah mengancam. Amerika berpikir itu, soal di belakangnya Iran?
J: Iya, iya pastilah. Karena Rusia sama China kan pesaingnya juga. Selalu antitesanya Rusia sama China selalu jadi antitesanya Amerika di Timur Tengah.
Atau di manapun lah. Terus juga Iran udah ngancam. Kalau Amerika berani intervensi militer, tapi tentu bukan invasi. Mereka udah ngerasain kalah di Afganistan kan invasi. Di Irak juga mereka udah ngerasain. Akhirnya mundur juga, nggak kuat ngelawan orang-orang yang... ghiroh (semangat) ya militansinya. Jadi ya Iran udah ngancam akan menyerang, membumihanguskan 28 pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Itu kan efeknya akan kemana-mana.
Itu kan Timur Tengah kan sumbernya daya minyak. Terus Iran juga akan ngancam menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan vital dunia. Itu kan artinya harga energi akan makin melambung.
Sekarang aja udah melambung, apalagi nanti kalau pangkalan militer yang ada di negara-negara Arab itu. Karena nanti efeknya begini. Ketika negara-negara Arab itu tidak punya pangkalan militer Amerika, ini kan rata-rata rezimnya itu kan mengandalkan dukungan Amerika.
Kerajaan Arab Saudi, penguasanya mengandalkan dukungan Amerika biar bisa bertahan ya rezim itu.
Nah kalau tidak ada pangkalan militer itu, itu negara-negara kecil Arab Teluk itu, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, bisa jadi akan muncul pemberontakan dari dalam. Karena udah gak ada yang dukung nih pangkalan militer, Amerika udah kabur, udah hancur.
Nah itu efeknya kemana-mana kan, kemana-mana. Artinya kerajaan bisa terancam, enam negara kerajaan itu sendiri bisa terancam. Ini melihatnya gak segampang geopolitiknya, terlalu rumit.
Dampaknya banyak banget. Iya, dampaknya banyak. Ya ekonomi, ya politik, ya keamanan.
T: Sekarang pertanyaannya begini Bang, pada titik apa Amerika akan terus mempertahankan Israel? Mendukung Israel?
J: Sebenarnya Trump ini kan orang udah banyak demo ya. Waktu Perang Gaza juga demo, terus juga masalah kampus-kampus itu kan udah rame. Mereka menyuarakan ini kejahatan perang.
Jadi istilahnya masyarakat Amerika di bawah ini sebenarnya udah gerah dengan kebijakan Amerika yang berperang untuk negara lain. Kan apa yang dilakukan Amerika selama ini kan berperang untuk Israel. Mereka gelontorin duit, mereka kirim senjata, itu kan untuk membantu Israel.
Artinya perangnya itu bukan berperang untuk negara Amerika yang istilahnya terancam lah istilahnya. Tapi mungkin dari segi kepentingan terancam. Artinya kalau misalkan Trump intervensi militer, itu pasti demo akan besar.
Rame di dalam, terus juga pangkalan militer Amerika terancam, belum lagi duit keluar banyak untuk mempertahankan itu, membela Israel, duit, persenjataan. Itu kan tekanan berat nanti di domestiknya. Kongres pasti akan menolak.
T: Saya nggak tahu nanti pada titik apa, tapi kemarin kan Presiden Trump udah ngancem-ngancem juga. Kita tahu kok tempat perlindungannya Ali Khamenei ini. Ini gertakan doang atau serius?
J: Ya itulah yang masih harus kita lihat kan. Ini kan gini, kalau kita baca sekarang, Panglima Angkatan Bersenjata tewas, Komandan Garda Revolusi tewas, Iran aja udah segitu serius melakukan serang-ambalasan.
Artinya mereka juga ngamuklah ini. Apalagi kalau yang tewas pemimpin tertinggi. Itu pasti all outnya bakal outnya beda.
Karena itu kan udah masalah pemimpin tertinggi yang tewas. Simbol. Simbol negara, dia kepala negara. Itu pasti akan beda. Iran akan all outnya beda. Udah nggak ada lagi terbuka kata negosiasi lah mungkin.
Maksudnya kalau Israel berhenti ya dia akan berhenti. Mungkin yang nanti nggak akan berhenti. Berarti bakal lanjut.
Nah itu bahaya. Karena buat Amerika sendiri ya itu tadi. Tekanan ekonomi, tekanan politik.
Terus masalah keamanan. Efeknya kemana-mana. Nanti kan yang akan jadi sasaran bukan hanya kepentingan Amerika di Timur Tengah. Mungkin di seluruh dunia. Karena dia berperang membela Israel.
Artinya begini. Kita anti Israel atau bersama Israel. Kan itu aja. Udah nggak ada lagi sunni syiah atau mazhab itu. Mazhabnya cuma melawan Israel atau nggak.
Ini murni politik. Ya ini sebenarnya negara-negara rakyat dalam konteks Islam ya, warga muslim seluruh dunia harus bersyukur.
Kita tuh geram ngeliat Israel bantai warga Palestina di Gaza. Tapi nggak bisa apa-apa. Nggak ada pemerintahan negara muslim yang bisa melakukan apa-apa.
PBB aja nggak bisa diaharapkan udah lama. Nah ini sekarang ada Iran memberikan sedikit banyak keadilan lah buat bangsa Palestina. Kan rata-rata warga muslim pada mendukung ini.
Pada senang. Wah liat Tel Aviv hancur. Mereka bandingin Gaza udah lama hancur, menderita.
Lihat warga Palestina, warga Israel lari buru-buru ke tempat pelindungan. Kita membandingkan dengan rakyat Palestina yang nggak bisa cari tempat pelindungan. Tempat pelindungannya tenda-tenda malah dibom oleh Israel.
Itu kan sedikit banyak kita akan wah Alhamdulillah akhirnya ada yang baleslah kebiadaban Israel dan itu peran itu yang sekarang sedang dilakukan oleh Iran. Jadi Iran satu langkah mendapat pesan positif lah dari dunia muslim.
T: Prediksi orang-orang ya di media sosial luar ini jangan-jangan perang dunia ketiga ini mulai. Tapi sejauh itu nggak sih Bang ngelihatnya?
J: Ya tergantung intervensi Amerika yang sebenarnya di sini. Kuncinya di Amerika.
Kalau Amerika intervensi militer langsung ikut nyerang Iran kan udah mengancam. Artinya pangkalan militer semua akan dihabisi.
Jadi artinya akan habis-habisan ini perang. Seperti itu. Dan Amerika berani akan lari sejauh itu? Kalau dilihat dari konteks politik sekarang? Kalau liat sih kemarin kan kalau liat perang dagang dengan China yang sama-sama negara super power dengan Amerika itu ternyata akhirnya nyerang.
Nah ini kemungkinan juga Amerika tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Apalagi utang luar negeri Amerika kan juga gede banget kan. Saya kira Amerika nggak akan melakukan itulah.
Nggak akan sebodoh itu Trump. Jadi masih psywar aja.
T: Dalam konteks negara modern itu perang itu masih relevan nggak sih, Bang? Maksudnya kayaknya nggak mungkinlah dalam konteks negara modern sekarang ya.
J: Kalau kita lihat hukum internasional itu kan sebenarnya teorinya itu bagus. Bagaimana semua itu diatur dengan piagam PBB kan. Tapi kan pada prakteknya sudah lama hukum internasional itu artinya hukum rimba.
Bukan piagam PBB lagi yang dihormati 193 negara kalau nggak salah. Nah itu yang sekarang sebenarnya hukum internasional adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang menang.
Dia bisa ngapain aja. Ya buktinya kan Israel melanggar kedaulatan wilayah negara lain ke Suriah, ke Libanon, ke Yaman. Terus juga melakukan kejahatan kemanusiaan dan perang, melakukan genosida. Nggak ada yang kena sanksi. Itu tadi karena hukum internasional itu udah nggak berjalan.
Karena dibelakangnya ada Amerika, karena panggungnya itu kan memang udah nggak adil. Hak veto itu yang sebenarnya membuat dunia ini menjadi tidak adil untuk negara-negara yang lemah.