Amin Muchtar: Saya tak diundang oleh Setneg untuk diskusi Syiah

Rabu, 3 Februari 2016 22:35 Reporter : Arbi Sumandoyo
Amin Muchtar: Saya tak diundang oleh Setneg untuk diskusi Syiah Amin Muchtar. ©2016 merdeka.com

Merdeka.com - Besok rencananya, Sekretariat Negara bakal melakukan Focus Grup Discussion antara Tokoh Kelompok Syiah dengan Tokoh dari Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS). Diskusi tersebut terancam batal lantaran salah satu pihak diundang, yakni KH Athian Ali M. Da'I batal hadir.

Padahal menurut Tokoh Syiah juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jalaluddin Rakhmat, ide Focus Grup Discussion itu datang setelah ANNAS mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo. Namun surat itu baru diterima Sekretariat Negara dan belum sampai ke Presiden Jokowi.

"Tetapi ternyata setelah dihubungi oleh pihak Setneg, Athian Ali ini tidak bersedia hadir. Padahal mereka yang menggagas FGD dan surat kepada presiden Jokowi ini," ujar Jalaluddin saat berbincang dengan merdeka.com pekan kemarin.

Jalaluddin pun menuding jika Kelompok sering mengkafirkan Syiah ini memang tidak pernah mau berdialog untuk duduk bersama. "Kebiasaannya dari dulu sejak awal-awal mereka mengkafirkan saya, saya ajak diskusi itu mereka selalu enggak mau dan itu sudah berulang kali," ujarnya.

Namun salah seorang disebut Jalaluddin juga Dewan Syuro DPP ANNAS dan Anggota Komisi Akidah Dewan Hisbah PP Persis, Amin Muchtar membantah tudingan itu. Dalam keterangan keberatan pemberitaan atas artikel wawancara khusus dengan Jalaluddin berjudul 'Indonesia terbentuk dengan toleransi', Amin Muchtar mengatakan memang tak diundang oleh pihak Setneg untuk menghadiri acara itu.

"Padahal saya sendiri tidak diundang oleh pihak Sekretariat Negara (Setneg)," ujar Amin melalui keterangan tertulis diterima merdeka.com, Rabu (3/2). Dia pun menyayangkan pernyataan Jalaluddin karena tidak bertanya pada dirinya langsung.

Amin menegaskan selalu siap berdiskusi kapan saja. Dia malah heran dengan sikap Jalaludin yang selalu bicara toleransi tetapi beberapa karyanya mendiskreditkan sahabat Nabi Muhammad SAW.

"Padahal, jika Kang Jalal mau mendahulukan akhlak dan bersikap toleran sebenarnya bisa saja beliau kontak kepada saya untuk mengetahui kronologis yang sesungguhnya siapa pihak-pihak yang akan menghadiri undangan FGD itu dan pihak mana yang sebenarnya membatalkan rencana dialog itu," kata Amin.

Berikut petikan hak jawab Amin Muchtar atas jawaban Jalaluddin Rakmat dalam berita wawancara berjudul 'Indonesia terbentuk dengan toleransi yang dimuat merdeka.com pada Jumat, 28 Januari 2016.

Selain menyebut-nyebut nama Amin Muchtar, Kang Jalal juga tertipuuntuk tidak menyebut ceroboholeh "pembisiknya" sehingga menyampaikan informasi keliru dan tidak akuratuntuk tidak menyebut Kang Jalal telah melakukan kebohongan publikdengan menyatakan: "Untuk dihadapkan bersama dua orang dari pihak ANNAS, yakni Athian Ali M. Da'i dan Amin Muchtar". Padahal saya sendiri tidak diundang oleh pihak Sekretariat Negara (Setneg). Selain itu, juga menyatakan: "Tetapi ternyata setelah dihubungi oleh pihak Setneg, Athian Ali ini tidak bersedia hadir"

Padahal, jika Kang Jalal mau mendahulukan akhlak dan bersikap toleran sebenarnya bisa saja beliau kontak kepada saya untuk mengetahui kronologis yang sesungguhnya siapa pihak-pihak yang akan menghadiri undangan FGD itu dan pihak mana yang sebenarnya membatalkan rencana dialog itu. Dalam hal ini, saya agak kecewa kepada Kang Jalal yang enggan konfirmasi kepada saya.

Selain kecewa juga saya telah dirugikan oleh Kang Jalal. Pasalnya, Kang Jalal telah berbohonguntuk tidak menyebut Kang Jalal telah melakukan kecuranganatas nama pihak Setneg dan guru kami, KH Atian Ali, tapi mengapa "tidak berbohong" atas nama saya. Padahal, sejak awal Kang Jalal menyebut dua orang dari pihak ANNAS: "Athian Ali M. Da'i dan Amin Muchtar", tapi endingnya Kang Jalal hanya menyebutkan: "Atian Ali ini tidak bersedia hadir". Kalau dengan Amin Muchtar, gimana kabarnya Kang? Jadi, Kang Jalal agaknya lupa untuk menuntaskan cerita seputar Amin Muchtar-nya.

Kekecewaan saya semakin memuncak, karena saya, yang pernah mengenyam bangku perpustakaan Muthahari, tidak pernah diajak diskusi secara langsung oleh Kang Jalal. Jadi, mana mungkin saya tidak mau hadir ketika saya diajak diskusi oleh beliau, bukankah saya tidak pernah diajak? Mungkin saya bukan level Kang Jalal atau dimungkinkan pula Kang Jalal sedang menceritakan makhluk lain bernama Amin Muchtar.

Sebelum saya mengakhiri ucapan terima kasih ini, saya harus buru-buru menyatakanagar tidak terkena sumpah serapahnya para pengikut yang "mendewakan" atau mendogmakan pikiran-pikiran Kang Jalalbahwa mengkritik dan mengoreksi Kang Jalal, bukan berarti benci. Sebaliknya apriori tak harus bertukar jadi vendeta. Seperti kata Aristoteles kala berbeda pendapat dengan gurunya, "amicus Plato sed Magis amica veritas", cintaku pada kebenaran melebihi cintaku pada guru.

Meski rinduku masih membara, namun ucapan terima kasih saya kepada Kang Jalal dengan terpaksa mesti saya akhiri sampai di sini. Sementara bantahan secara resmi dari pihak ANNAS atas kebohongansekali lagi, untuk tidak menyebut telah melakukan kecuranganKang Jalal, biarlah disampaikan oleh para guru kami di DPP ANNAS, baik KH Atian Ali, sebagai Ketua Pengurus, dan atau Kang Atif Latiful Hayat, sebagai Ketua Dewan Pakar. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Wawancara Jalaluddin R.
  2. Syiah
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini