Tak Ingin Kekuasaan, Pangeran Keturunan Majapahit Ini Pilih Hidup Jadi Warga Biasa

Pangeran keturunan Majapahit ini lebih senang dekat dengan warga biasa. Bahkan, ia menyembunyikan identitasnya sebagai bangsawan di hadapan warga.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Tak Ingin Kekuasaan, Pangeran Keturunan Majapahit Ini Pilih Hidup Jadi Warga Biasa
Tak Ingin Kekuasaan, Pangeran Keturunan Majapahit Ini Pilih Hidup Jadi Warga Biasa (Merdeka.com)

Ia tidak terlena dengan kehidupan megah bangsawan

Mbah Putih memiliki nama asli Nurkholifah. Ia dikenal sebagai penyebar agama Islam dari daerah Klaten. 

Pada masa kolonialisme, Mbah Putih jadi incaran pihak Belanda. Pengejaran ini diduga karena peran Mbah Putih dalam misi penyebaran agama Islam. 

Mbah Putih kemudian mencari tempat persembunyian dan sampailah ke daerah yang kini dikenal sebagai Desa Kayen.

Mbah Putih mengenalkan diri sebagai warga biasa dengan nama Sumodruno.

Mbah Putih dikenal sebagai Waliyullah yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di Desa Kayen Trenggalek. Nama Mbah Putih mulai dikenal setelah perjalanannya ke Pacitan. Sebelumnya, ia terkenal sebagai Sumodruno.

Masyarakat memberi sebutan Mbah Putih karena ia dianggap sebagai sosok suci dan baik, dengan budi pekerti dan akhlak yang tinggi.

Para ulama juga menyebutnya dengan nama "Nur Kholifah," yang memiliki makna "Cahaya Penerus."

Ada beberapa versi cerita tentang asal usul Mbah Putih. Salah satunya, klaim bahwa dia merupakan Pangeran Pakuprojo, putra Amangkurat II. Bupati Trenggalek, MOchamad Nur Arifin menyebut Mbah Putih sebagai pangerah trah Majapahit yang tidak ingin dininabobokan nasab dan kekuasaan.

Namun, hingga kini, misteri tentang identitas sejati Mbah Putih tetap menjadi perdebatan.

Asal Usul Desa Kayen
Dok. Istimewa

Penamaan Desa Kayen berasal dari tindakan awal Mbah Putih membuka lahan hutan untuk bermukim. Kayen awalnya merupakan hutan berkayu lebat.

Makam
Dok. Istimewa

Makam Mbah Putih nyaris selalu ramai peziarah. Orang, dari Jombang hingga Sumatera datang. Masyarakat gotong-royong berinisiatif memugar pusara beliau agar layak untuk "kedayohan" (baca: kedatangan) tamu.

Rekomendasi