Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Serunya Tumpeng Sewu Banyuwangi, Tradisi Makan Bersama di Pinggir Jalan

Serunya Tumpeng Sewu Banyuwangi, Tradisi Makan Bersama di Pinggir Jalan Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Bulan Zulhijah dalam penanggalan Islam di salah satu desa di Kabupaten Banyuwangi tak pernah kalah semarak dengan Syawal yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi memiliki tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Tumpeng Sewu. Tradisi ini digelar setiap memasuki Bulan Zulhijah.

Dalam pelaksanaannya, ribuan orang memadati jalan utama Desa Kemiren. Para pengunjung memasuki jalanan desa dengan berjalan kaki guna menghormati tradisi warisan nenek moyang tersebut.

Makan di Pinggir Jalan

tradisi tumpeng sewu banyuwangi

©2022 Merdeka.com/Dok. Pemkab Banyuwangi

Tradisi Tumpeng Sewu dimulai sekitar pukul 18.00 WIB atau usai salat Magrib. Orang-orang duduk bersila di atas tikar atau karpet yang tergelar di halaman rumah, tepat di tepi jalan. Pada posisi yang lebih tinggi dari barisan orang-orang, beberapa obor menyala menghasilkan cahaya api temaram. 

Sementara itu, di hadapan warga tersedia nasi tumpeng yang masih ditutup daun pisang. Berbeda dari nasi tumpeng pada umumnya, pada festival adat Desa Kemiren, nasi tumpeng dilengkapi dengan pecel pitik (ayam) dan sayur lalapan. 

"Inilah kekayaan festival kita, berakar dari tradisi warga yang telah dijalankan turun temurun. Festival di Banyuwangi bukan hanya untuk wisatawan, tetapi juga untuk menopang pelestarian budaya," ungkap mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. 

Doa Tolak Bala

tradisi tumpeng sewu banyuwangi

©2022 Merdeka.com/Dok. Pemkab Banyuwangi

Tradisi Tumpeng Sewu menciptakan kerukunan dalam kehidupan masyarakat. Pasalnya, melalui tradisi ini, masyarakat dari berbagai latar belakang bertemu lalu terciptalah silaturahmi. Mulai dari anak-anak hingga lansia berbaur menjadi satu dalam pelaksanaan tradisi Tumpeng Sewu. 

"Semua warga, termasuk anak-anak muda berkumpul dan bergotong-royong mengemas acara ini, sehingga warga menjadi guyub. Ini modal penting untuk terus membangun daerah”. 

Sementara itu, sebelum menyantap tumpeng, seluruh masyarakat yang hadir memanjatkan doa bersama agar desanya dijauhkan dari segala bencana dan sumber penyakit. Doa ini dipimpin oleh ulama sepuh di desa setempat. Setelah doa selesai, masyarakat pun disilakan menyantap nasi tumpeng bersama-sama. 

Dinantikan Wisatawan

tradisi tumpeng sewu banyuwangi

©2022 Merdeka.com/Dok. Pemkab Banyuwangi

Penamaan tradisi Tumpeng Sewu merujuk pada jumlah nasi tumpeng yang banyak. Tradisi ini menjadi salah satu atraksi yang dinanti-nantikan wisatawan. Mereka ingin melihat dari dekat bagaimana warga Kemiren ramai-ramai menggelar kenduri massal di pinggir jalan desa. 

"Penasaran bagaimana selametan desa digelar di pinggir jalan. Semua warga menghidangkan makanan sambil menyapa tamu untuk menikmati kulinernya, pecel pitik. Tradisinya dapat banget," ungkap Niken Saras, wisatawan asal Semarang.

Selain wisatawan lokal, sejumlah wisatawan asing juga menikmati tradisi Tumpeng Sewu. Mereka berbaur dengan warga Desa Kemiren menikmati nasi tumpeng yang disajikan dengan Pecel Pitik.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP