Kolam ini juga saksi berdirinya Kerajaan Majapahit.
Malang merupakan salah satu daerah wisata andalan di Jawa Timur. Kota ini memiliki beragam daya tarik wisata, baik wisata alam maupun wisata buatan. Salah satu objek wisata alam yang patut dikunjungi ialah Telaga Polaman.
Advertisement
Telaga Polaman
Pemandian Sumber Polaman atau Telaga Polaman terletak di Desa Kalirejo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Konon, air di telaga ini berasal dari Gunung Arjuno.
Mengutip Liputan6.com, Telaga Polaman berada di ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tak heran jika kawasan ini sangat asri. Banyak dijumpai pohon-pohon besar di sekitar telaga.
Advertisement
Nuansa Sejarah
Kitab Negarakertagama, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Polaman sebagai tempat pembuangan dan pengasingan Jayakatwang.
Kisahnya bermula pada tahun 1292 masehi, saat Jayakatwang memberontak dan menaklukkan Kerajaan Singasari. Ia menang lalu memindahkan pusat pemerintahan dari Singasari ke Daha Kediri.
Saat terjadi pemberontakan, pasukan Mongol dalam perjalanan menuju Jawa untuk menghukum Kertanegara. Raja Singasari itu dianggap menghina utusan Kaisar Kubilai Khan, penguasa Kekaisaran Mongol.
Begitu tiba di Jawa, pasukan Mongol diberitahu Raden Wijaya, menantu Kertanegara bahwa telah terjadi pergantian kekuasaan. Raden Wijaya lalu bersekutu dengan pasukan Mongol untuk menyerang Daha, Kediri.
Gabungan pasukan Raden Wijaya dan pasukan Mongol berhasil menghancurkan Keraton Daha Kediri pada tahun 1293 Masehi.
Jayakatwang lalu ditawan di sebuah tempat yang memiliki danau kecil dengan penjagaan ketat pasukan Mongol. Danau ini dikenal dengan nama Polaman.
Konon, Jayakatwang hidup sampai tua dan meninggal di tempat pengasingannya di Polaman.
Versi lain menyebut Jayakatwang dieksekusi di atas kapal Pasukan Mongol sebelum pergi meninggalkan Jawa, setelah diserang balik oleh Raden Wijaya dan mendirikan Majapahit.
Advertisement
Advertisement
Mitos
Sumber Polaman diyakini tidak akan pernah habis airnya sepanjang masa. Mengutip laman Repository Universitas Brawijaya, setiap malam Jumat Legi, masyarakat menggelar tumpengan dan membakar dupa serta kemenyan di atas sumber air ini.
Sumber air yang diyakini sebagai kolam suci ini juga selalu ramai pengunjung setiap 1 Muharram atau Suro dalam kalender Jawa.
Pada 1 Suro yang disebut hari suci, pengunjung datang sejak sore sampai dini hari untuk mensucikan diri.
Menariknya, pengunjung tidak dikenai biaya saat berkunjung ke Sumber Polaman.