Sisi Lain Mas Mansoer Sahabat Karib Soekarno dan Bung Hatta, Religius sejak Kecil Tak Pernah Mau Tampil Glamor

Jabatan tinggi dan berteman dengan orang-orang penting membuat ia tetap konsisten tampil sederhana

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Sisi Lain Mas Mansoer Sahabat Karib Soekarno dan Bung Hatta, Religius sejak Kecil Tak Pernah Mau Tampil Glamor
Mas Mansoer (© 2024 merdeka.com/Wikimedia)
Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Wikimedia

Tokoh Islam dan nasionalisme terkemuka Indonesia ini sejak kecil akrab dengan dunia pesantren. Hingga wafat, ia hidup dalam lingkungan yang kental akan nilai-nilai agama dan budaya.

Keluarga

Pria kelahiran Surabaya pada 25 Juni 1896 merupakan buah hati dari pernikahan Mas Ahmad Marzuqi dan Raudhah. Mengutip situs resmi Muhammadiyah, Mas Ahmad Marzuqi adalah keturunan keraton Sumenep  dan seorang khatib tetap di masjid Sunan Ampel Surabaya. Sementara Raudhah adalah perempuan kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya.

Pendidikan Agama

Semasa kecil, Mas Mansoer  sering menyaksikan ceramah-ceramah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya. Mas Mansoer kecil juga sudah diperkenalkan dengan kitab kuning dan tradisi pesantren. Selanjutnya, ia  menimba ilmu dari Muhammad Thaha Ndresmo, menjadi santri di pesantren Demangan Bangkalan, hingga  belajar pada Kiai Khalil untuk mendalami Al-Qur'an dan Kitab Alfiyah Ibnu Malik. Pada tahun 1908, Mas Mansoer menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di Mekkah untuk menimba ilmu agama kepada Kyai Mahfudz dari Pesantren Termas, Pacitan.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Wikimedia

Mas Mansoer belajar di Mekkah selama empat tahun. Ia kemudian pindah karena situasi politik di sana semakin tidak kondusif.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/ruangguru.com

Pada tahun 1912, Mas Mansoer berangkat dari Mekkah ke Mesir dengan menumpang kapal laut. Ia diterima di Fakultas Agama Universitas Al-Azhar.

Kiprah di Tanah Air

Pada tahun 1915, Mas Mansoer pulang dari Mesir. Ia lalu mengasuh dan mengajar di Pesantren An-Najjiyah di Sidoresmo. Selain mengajar kitab kuning di pesantren, ia juga aktif dalam gerakan sosial, politik, keilmuan, maupun keagamaan.

Ia juga bergabung dengan Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto dan turut mendirikan pusat kajian Taswirul Afkar bersama Kiai Wahab Hasbullah. Kendati sibuk, Mas Mansoer masih sempat menulis di berbagai media massa. 

Empat Serangkai

Empat Serangkai
© 2024 merdeka.com/Album Pahlawan Bangsa

Jepang menyebut Mas Mansoer, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro sebagai empat serangkai. Mereka adalah kelompok yang paling berpengaruh di Indonesia saat itu. Hubungan keempat tokoh tersebut pun harmonis, mereka adalah sahabat karib bagi satu sama lain.

Tolak Tampil Glamor

Tolak Tampil Glamor
© 2024 merdeka.com/Wikimedia

Jabatan mentereng dan berkawan karib dengan para pendiri NKRI tak mengubah prinsip Mas Mansoer. Ia tetap tampil sederhana dan menolak tampil glamor.

Mengutip artikel Merdeka.com, Mas Mansoer lebih suka pakaian sederhana dan sarung, serta mengenakan sabuk berkantong. Wartawan Jepang Kanzo Tsutsumi bertanya kepada Mas Mansoer mengapa ia suka berpakaian sederhana. 

"Pakaian saya selalu menjadi soal hingga kawan-kawan saya memberi uang 180 rupiah dan disuruhnya saya membuat jas dan celana bagus-bagus. Cuma saja saya yakin, kalau beli celana modern, niscaya saya tak sanggup menjelaskan hitungan 5 dan 5 karena tentu otak dan pikiran tidak tenang lagi. Biarpun saya disebut kepala batu atau berbau desa, sudahlah biarkan," ucapnya.

Rekomendasi