Bukti Kebesaran Cinta, Kiai Ini Rela Berjalan Menuntun Kuda yang Dinaiki Istri dari Sidoarjo ke Rembang

Saking cintanya kepada sang istri, kiai ini rela jalan kaki menuntun kuda yang ditumpangi istrinya dari Sidoarjo ke Rembang.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Bukti Kebesaran Cinta, Kiai Ini Rela Berjalan Menuntun Kuda yang Dinaiki Istri dari Sidoarjo ke Rembang
Bukti Kebesaran Cinta, Kiai Ini Rela Berjalan Menuntun Kuda yang Dinaiki Istri dari Sidoarjo ke Rembang (Merdeka.com)

Kisah cinta keduanya dipenuhi peristiwa mengharukan.

Dok. Istimewa
Merdeka.com/Freepik
Kisah cinta sejoli ini dipenuhi peristiwa-peristiwa mengharukan. Sejoli ini dikenal dengan nama Mbah Muhdlor dan dan Mbah Syamsiyah. Sejoli ini rupanya memiliki latar belakang keluarga yang berbeda.

(Foto: Freepik)

Mbah Muhdlor lahir di Bonang, namun kemudian tinggal di Sidoarjo. Sementara Mbah Syamsyiyah merupakan anak Kiai Misbah dari Sedan yang masih mempunyai hubungan darah dengan Kiai Sulaiman Mojo Agung Jawa Timur.

Leluhur Mbah Syamsyiyah punya status sosial tinggi bila dibandingkan dengan leluhur Mbah Muhdlor.

Pada diri Mbah Syamsyiyah mengalir darah dari Mbah Sulaiman yang merupakan seorang ulama alim dan sakti madraguna. Keturunan Mbah Sulaiman juga diakui banyak yang sakti. Sementara itu, Mbah Muhdlor merupakan keturunan nelayan biasa.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Nasab keduanya terbilang sangat jauh. Menyadari itu, Mbah Muhdlor bernazar akan melakukan sejumlah hal jika ia berhasil mempersunting Mbah Syamsyiyah, cucu Kiai Sulaiman Mojo Agung yang memikat dirinya. 

(Foto: Freepik)

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mbah Muhdlor berjanji akan bertata bahasa halus kepada Mbah Syamsyiyah. Tidak hanya itu, ia juga akan memenuhi semua permintaan Mbah Syamsyiyah selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam, sebagaimana mengutip laman resmi Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, ppalanwar.com.

(Foto: Freepik jcomp)

Bukti Cinta

Mbah Muhdlor akhirnya berhasil mempersunting pujaan hatinya. Ia pun melaksanakan nazarnya. Bahkan, suatu waktu saat Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsyiyah melakukan perjalanan dari Sidoarjo ke Jombang, ada peristiwa luar biasa yang terjadi. Mbah Muhdlor meminta istrinya naik kuda, sementara ia berjalan menuntun dari Sidoarjo ke Rembang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mbah Syamsiyah yang statusnya sudah menjadi istri Mbah Muhdlor rajin puasa setahun penuh. Ia tidak mau diajak berhubungan badan suami istri terlebih dahulu sebelum keduanya pergi haji. 


(Foto: Pinterest Wordpress)

Ibadah Haji

Saat melakukan perjalanan ibadah haji, Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsyiyah sempat terdampar karena saat itu naik kapal layar. Mereka terdampar di Pulau Mondoliko Jepara, Pulau Pinang, dan Singapura.

Ketika Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsyiyah dianugerahi keturunan,  nama para buah hatinya disesuaiakan dengan peristiwa yang pernah dialami keduaya ketika berhaji. 

Anak pertama diberi nama Nyai Mondolika. Kelak ia menjadi istri KH Basyar Tuban yang menurunkan kiai-kiai Makam Agung Tuban.

Anak kedua bernama Nyai Pinang.  Kelak ia disunting Kiai Ghozali Sarang dan menurunkan kiai-kiai Sarang.

Anak ketiga bernama Kiai Singgopuro (Kiai Misbah) yang kelak menurunkan Kiai-Kiai Sidoarjo, termasuknya KH. Ali Masyhuri bin Mubin bin Dasuki bin Misbah (Singgopuro).

Rekomendasi