Mengenal Bawadiman Djoyodigdo Mertua R.A. Kartini, Konon Punya Ilmu Khusus dan Tak Bisa Dimakamkan dengan Cara Biasa

Menurut penuturan juru kunci makam, jenazah Djojodigdo bisa hidup kembali jika menyentuh tanah

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Mengenal Bawadiman Djoyodigdo Mertua R.A. Kartini, Konon Punya Ilmu Khusus dan Tak Bisa Dimakamkan dengan Cara Biasa
Bawadiman Djojodigdo mertua R.A. Kartini (© 2024 merdeka.com/museumkartinirembang.id)
Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Google Maps

Makam Gantung Djoyodigdo di Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur adalah salah satu makam yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar.

Profil

Djoyodigdo lahir di Kulon Progo pada 29 Juli 1827. Saat usianya 12 tahun, ia ikut pamannya yang merupakan Bupati Ngrowo hidup di Bono Tulungagung. Ketika dewasa, ia menjadi menantu Bupati Brebes Nganjuk.  Pada tahun 1877, ia diangkat menjadi Patih Blitar, pelaksana administratur di bawah bupati.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/The Dusty Sneakers

Djojodigdo memiliki empat istri dan dikarunia 30 anak. Pernikahan pertamanya dikarunia 10 anak. Salah satunya RMAA Djojoadhiningrat, suami R.A. Kartini.

Peran Sang Patih

Selama menjadi Patih Blitar pada tahun 1877-1895, Djojodigdo berkontribusi besar mendampingi Bupati Warso Koesoemo mengelola puncak pemerintahan dan pembangunan Regentschap Blitar hingga membentuk kawasan Gemeente/Kota Blitar.

Warisan

Warisan
© 2024 merdeka.com/Instagram @dukeofmalang

Mengutip situs mulok.lib.um.ac.id, kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Kota Blitar pada masa pemerintahan Hindia-Belanda dibuktikan dengan berbagai peninggalan fisik dan infrastruktur.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/museumkartinirembang.id

Bawadiman Djojodigdo juga terkenal dengan keletadanan To Pitu. Ajaran priyayi Jawa ini terdiri dari tujuh penanaman budi pekerti yaitu toto (tahu aturan), titi (teliti), tatag (bertanggung jawab), titis (tepat analisanya), temen (jujur), taberi (rajin),  dan telaten (sabar).

Mitos Makam Gantung

Juru kunci Makam Gantung Djoyodigdo, Ramiati menuturkan, Djoyodigdo dipercaya memiliki ilmu pancasona. Ilmu ini menyebabkan jenazahnya tak bisa dimakamkan dengan cara biasa. 

"Jika nyentuh tanah, sadar lagi," ungkap Ramiati, dikutip dari Instagram @jelajahblitar.

Akhirnya, pihak keluarga meminta bantuan guru spiritual Djojodigdo agar bisa dimakamkan seperti biasa. Berdasarkan pesan sang guru, tak hanya jasad Djojodigdo yang dimakamkan. Pakaian kebesaran, pusaka, serta ilmu pancasona yang dimilikinya semasa hidup dimakamkan pada tempat khusus.

Mengutip akun YouTube Landscape of History, Djoyodigdo beberapa kali hidup lagi setelah mengalami kematian. Murid Eyang Imam Sudjono dari Gunung Kawi ini akhirnya harus diluntur keilmuwannya agar bisa meninggal permanen.

Rekomendasi