Perjalanan Karier Ikranagara Semasa Hidup, Berawal Iseng hingga Jadi Aktor Kawakan

Semasa hidupnya, Ikranagara dikenal sebagai seniman dengan segudang talenta. Berikut perjalanan karier Ikranagara yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perjalanan Karier Ikranagara Semasa Hidup, Berawal Iseng hingga Jadi Aktor Kawakan
Kekeringan Sungai Medway di Inggris. ©DANIEL LEAL/AFP

Dunia seni tanah air tengah berduka atas berpulangnya aktor sekaligus sastrawan, Ikranagara pada 6 Maret 2023. Kabar duka ini diketahui dari unggahan facebook sang anak, Innosanto Nagara.

Semasa hidupnya, Ikranagara dikenal sebagai seniman dengan segudang talenta. Berikut perjalanan karier Ikranagara yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

©2023 Merdeka.com/Aminef

Ikranagara merupakan seniman keturunan Bali, Jawa, Madura, dan Bugis. Saat menempuh pendidikan di SR, Ikranagara berkenalan dengan seorang dalang yang merupakan ayah dari temannya. Dari situ Ia mulai mengenal kesenian wayang dari mulai profesi dalang, istilah pewayangan, tokoh-tokoh dalam wayang dan kisahnya.

Lulus dari SR, Ikranagara melanjutkan pendidikan SMP lalu SMA-B di Singaraja. Saat bersekolah, Ikranagara dikenal sangat tergila-gila dengan buku hingga kepala sekolah sering meminjamkan buku kepadanya. Dilansir dari ensiklopedia.kemendikbud.go.id, Ikranagara bercerita bahwa alasan Ia mencintai buku karena sedari kecil ibunya aktif memberikan buku-buku kepadanya.

Saat SMA, Ikranagara menghabiskan masa remajanya untuk berteater bersama temannya, Putu Wijaya. Memasuki kelas 3 SMA, Ia pindah dari Bali ke Banyuwangi dan bertemu dengan Armaya. Ikranagara bersama Armaya kemudian bergabung dengan HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) dari situ Ia mulai mengenal luas dunia kesenian.

Ikranagara sempat bergabung bersama teater kecil, pimpinan Arifin C. Noer. Namun pada 1974 ia memutuskan untuk mendirikan teater bernama Teater (Siapa) Saja.

©2023 Merdeka.com/Liputan6.com

Ikranagara dalam Dunia Perfilman

Kiprahnya di dunia perfilman diakui karena keisengan belaka. Ikranagara mengawali kariernya di dunia perfilman pada film Pagar Kawat Berduri, dan dilanjut film kedua beradu peran dengan Suzanna pada film Bernafas Dalam Lumpur pada 1970,  hingga kemudian karirnya semakin melejit saat membintangi film Kejarlah Daku… Kau Kutangkap (1986) sebagai Markum. Melalui perannya sebagai Markum, Ikranagara meraih penghargaan dalam Piala Citra FFI sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik.

Berbagai Film dibintangi oleh Ikranagara selama hidupnya, seperti Cinta Biru (1977), Dr.Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979), Untukmu Indonesiaku! (1980), Djakarta 1966 (1982), Keluarga Markum (1986), Laskar Pelangi (2008), Garuda di Dadaku (2009) dan Laskar Pelangi 2 : Edensor (2013). Tak hanya berperan dalam film, Ikranagara juga turut berkecimpung dalam sinetron seperti Sebuah Pintu Sebuah Kalbu (1992) dan Masih ada waktu (1997).

Hasyim Asyari pada film Sang Kiai (2013) menjadi salah satu film terakhir yang Ia bintangi, melalui film tersebut Ikranagara mendapat penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia.

Kiprah Ikranagara dalam Seni Teater

Menghabiskan masa mudanya dengan melakoni seni teater, Ikranagara menghasilkan berbagai karya teater seperti Topeng (1972), Saat-Saat Dram Band Mengerang-ngerang (1973), Topeng II (1975), Para Narator (1975), Gusti (1976), Rang Gni (1976), Ssst! (1977), Priiit! (1978), Rimba Tiwikrama (1978), Zaman Kalong (1980), Kok Berani-Beraninya Menuggu Godot (1993), dan masih banyak lagi. Selain menjadi pemeran, Ikranagara juga menulis skenario dan menjadi sutradara.

Baktinya pada dunia teater tidak hanya sampai di situ saja, Ikranagara juga melakukan dekonstruksi positif pada teater tradisional di Bali bersama dengan Putu Wijaya. Ikranagara melanjutkan proses intertekstualitas sembari melibatkan intuisi kesenimanannya.

Karya Ikranagara dalam Dunia Sastra

Sebagai seorang sastrawan, Ikranagara menghasilkan banyak puisi yang dimuat di beberapa media majalah. Puisi dengan tajuk “Kelelawar Terbang Menyilang Bulan Pucat” mengisyaratkan dirinya sebagai penyair yang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.

Tak hanya gemar menulis naskah dan puisi, Ikranagara juga menulis cerita pendek dan artikel di berbagai surat kabar dan majalah. Karya-karya tersebut di antaranya “Titik-Titik yang Dikodratkan", "Di Bawah Langit-Langit", "Gung di-as", dan "Ha-Ha".

Rekomendasi