Bendera Merah Putih Berbahan Logam di Makam Tan Malaka Hilang, Peziarah Ungkap Ini

Bendera Merah Putih yang terbuat dari bahan logam di makam pahlawan kemerdekaan Tan Malaka di Kediri hilang. Peziarah ungkap cerita ini.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Bendera Merah Putih Berbahan Logam di Makam Tan Malaka Hilang, Peziarah Ungkap Ini
Makam Tan Malaka di Kediri. ©2023 Merdeka.com/YouTube Nur Sayyid Santoso Kristeva

Bendera Merah Putih yang terbuat dari bahan logam di makam pahlawan kemerdekaan Tan Malaka, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, hilang. Padahal bendera merah putih tersebut menjadi penanda bahwa sosok yang dikebumikan itu merupakan pahlawan kemerdekaan.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DKPP) Imam Mubarok membagikan pengalamannya saat berziarah ke makam Tan Malaka dan mendapati kejanggalan tersebut.

"Saya kemarin (Selasa, 21/2) sowan sekaligus ziarah dan tahlil di Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, sebab tanggal 21 Februari 2023 tepat 74 tahun Tan Malaka gugur. Saat itu sebenarnya ada yang janggal ketika berdoa di atas pusara, tapi saya belum berpikir, sebab agak buru-buru karena cuaca mendung," tutur Imam Mubarok di Kediri, Rabu (22/02).

Sesampainya di rumah, Imam masih penasaran dengan kondisi makam Tan Malaka yang dirasa janggal. Akhirnya ia melihat kembali foto-foto area makam Tan Malaka koleksinya yang dijepret dalam rentang waktu berbeda.

“Ternyata Bendera Merah Putih di atas pusara Tan Malaka saya zoom sudah tidak ada. Entah hilang atau sengaja dihilangkan saya tidak paham," ujarnya, dikutip dari Antara.

Jika memang bendera merah putih berbahan logam di makam Tan Malaka hilang karena diambil seseorang, Imam berharap yang bersangkutan mengembalikannya sesuai posisi semula.

Tan Malaka, pahlawan nasional itu merupakan Pucuk Penghulu (Raja) di kampung halamannya, Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Pukuh Kota, Sumatera Barat. Dia meninggal dunia karena dibunuh tentara republik pada 21 Februari 1949 di Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri dan dimakamkan di sana.

Harry Albert Poeze, sejarawan asal Belanda yang mengungkap tabir misteri kematian Tan Malaka menyebut yang bersangkutan dieksekusi mati oleh pasukan Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, di Selopanggung, Kediri pada 21 Februari 1949.

Eksekusi mati terhadap Tan Malaka, kata Poeze, merupakan perintah Letda Soekotjo, orang kanan yang paling keras menginginkan kematian Tan Malaka.

"Posisi Tan Malaka sangat final dan penting bagi kaumnya sendiri. Di wilayah adat dia membawahi 142 niniak mamak atau pemimpin adat, di Kelarasan Bungo Setangkai (Tiga nagari: Pandam Gadang, Suliki, dan Kurai). Adatnya dari Agam, mainan urang lima puluh Kota," jelas Imam.

Rekomendasi