3 Jenis Trauma Psikologis yang Tak Boleh Diabaikan, Ini Penjelasannya

Trauma psikologis adalah respons terhadap suatu peristiwa yang sangat menegangkan menurut persepsi masing-masing individu. Trauma psikologis juga memiliki jenis-jenisnya tersendiri, tergantung pada seberapa baik atau parahnya individu dalam menerima peristiwa-peristiwa yang dianggapnya traumatis. Ini penjelasannya.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
3 Jenis Trauma Psikologis yang Tak Boleh Diabaikan, Ini Penjelasannya
Ilustrasi trauma. ©2020 Merdeka.com/pixabay

Trauma psikologis adalah respons terhadap suatu peristiwa yang sangat menegangkan menurut persepsi masing-masing individu. Trauma dihasilkan dari suatu peristiwa, rangkaian peristiwa, atau serangkaian keadaan berbahaya atau mengancam. Keadaan atau peristiwa tersebut secara fisik atau emosional dapat memiliki efek buruk yang bertahan lama pada fungsi individu dan kesejahteraan fisik, sosial, emosional.

Trauma dapat menyebabkan berbagai gejala fisik dan emosional. Beberapa penderita akan mengembangkan gejala dan sembuh setelah beberapa minggu, sementara yang lain mengalami efek jangka panjang. Namun kabar baiknya, dengan pengobatan masa kini penderita trauma dapat mengatasi akar penyebab trauma mereka dan menemukan cara konstruktif untuk mengelola gejalanya.

Beberapa contoh peristiwa yang dapat menimbulkan trauma pada diri seseorang adalah berada di zona perang, bencana alam, kecelakaan, nyaris terlibat dalam penculikan, pembunuhan, dan sejenisnya. Trauma psikologis juga memiliki jenis-jenisnya tersendiri, tergantung pada seberapa baik atau parahnya individu dalam menerima peristiwa-peristiwa yang dianggapnya traumatis.

Berikut ulasan selengkapnya mengenai apa itu trauma dan jenis-jenis trauma psikologis paling utama yang penting untuk Anda ketahui.

Mengenal Apa Itu Trauma

Menurut American Psychological Association (APA), trauma adalah "respons emosional terhadap peristiwa mengerikan seperti kecelakaan, pemerkosaan, atau bencana alam". Namun, seseorang mungkin mengalami trauma sebagai respons terhadap peristiwa apa pun yang mereka anggap mengancam atau berbahaya secara fisik atau emosional.

Orang-orang yang mengalami trauma dapat merasakan berbagai emosi segera setelah kejadian maupun dalam jangka panjang. Mereka mungkin merasa kewalahan, tidak berdaya, kaget, atau kesulitan memproses pengalaman yang mereka anggap traumatis. Trauma juga dapat menyebabkan gejala fisik dan memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan seseorang. Jika gejalanya menetap dan tidak berkurang keparahannya, hal tersebut dapat menandakan bahwa trauma yang dialami telah berkembang menjadi gangguan kesehatan jiwa yang disebut post traumatic stress disorder (PTSD).

Jenis-Jenis Trauma

Terdapat 3 jenis trauma psikologis yang paling utama, mengutip Medical News Today;

1. Trauma akut: Ini adalah jenis trauma psikologis yang berasal dari satu peristiwa stres atau berbahaya.

2. Trauma kronis: Ini adalah jenis trauma psikologis yang merupakan hasil dari paparan berulang dan berkepanjangan terhadap peristiwa yang sangat menegangkan. Contohnya seperti kasus pelecehan anak, intimidasi, atau kekerasan dalam rumah tangga.

3. Trauma kompleks: Ini adalah jenis trauma psikologis yang merupakan hasil dari paparan berbagai peristiwa traumatis.

Trauma sekunder, atau trauma perwakilan, adalah bentuk lain dari trauma. Dengan bentuk trauma ini, seseorang mengembangkan gejala trauma dari kontak dekat dengan seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatis. Anggota keluarga, profesional kesehatan mental, dan orang yang merawat seorang penderita trauma berisiko mengalami trauma perwakilan. Gejalanya sering kali mirip dengan PTSD.

Contoh Jenis-Jenis Trauma

Banyak hal dalam hidup yang bisa memicu atau menimbulkan trauma dalam diri seseorang. Berikut adalah contoh-contoh peristiwa yang umumnya dapat memicu timbulnya jenis trauma psikologis, yaitu;

1. Bullying

Bullying adalah tindakan yang disengaja dan tidak diminta yang terjadi dengan maksud menimbulkan kerugian sosial, emosional, fisik, dan/atau psikologis kepada seseorang yang sering dianggap kurang kuat.

2. Kekerasan Komunitas

Kekerasan komunitas adalah paparan tindakan kekerasan interpersonal yang disengaja yang dilakukan di area publik oleh individu yang tidak memiliki hubungan dekat dengan korban.

3. Trauma Kompleks

Trauma kompleks menggambarkan kondisi keterpaparan anak-anak terhadap berbagai peristiwa traumatis yang seringkali bersifat invasif, antarpribadi dan memiliki efek jangka panjang yang luas dari keterpaparan ini.

4. Bencana

Bencana alam meliputi angin topan, gempa bumi, tornado, kebakaran hutan, tsunami, dan banjir, serta peristiwa cuaca ekstrem seperti badai salju, kekeringan, panas ekstrem, dan badai angin. Bencana-bencana ini dapat menimbulkan trauma dalam diri seseorang.

5. Trauma Anak Usia Dini

Trauma anak usia dini umumnya mengacu pada pengalaman traumatis yang terjadi pada anak usia 0-6 tahun.

6. Kekerasan Pasangan Intim

Kekerasan Pasangan Intim (IPV), juga disebut sebagai kekerasan dalam rumah tangga, terjadi ketika seseorang dengan sengaja menyebabkan bahaya atau mengancam risiko bahaya terhadap pasangan atau pasangan masa lalu atau saat ini.

7. Trauma Medis

Stres traumatis medis pediatrik mengacu pada serangkaian respons psikologis dan fisiologis anak-anak dan keluarganya terhadap satu atau beberapa peristiwa medis.

8. Pelecehan Fisik

Pelecehan fisik terjadi ketika orang tua atau pengasuh melakukan tindakan yang mengakibatkan cedera fisik pada anak atau remaja.

9. Trauma Pengungsi

Banyak pengungsi, terutama anak-anak, mengalami trauma terkait perang atau penganiayaan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka lama setelah peristiwa tersebut terjadi.

10. Pelecehan seksual

Pelecehan seksual anak adalah setiap interaksi antara anak dan orang dewasa (atau anak lain) di mana anak digunakan untuk rangsangan seksual pelaku atau pengamat.

11. Perdagangan Seks

Perdagangan seks anak melibatkan pemberian atau penerimaan sesuatu yang berharga (uang, tempat tinggal, makanan, pakaian, obat-obatan, dll.) kepada siapa pun sebagai imbalan atas tindakan seks dengan seseorang yang berusia di bawah 18 tahun.

12. Terorisme dan Kekerasan

Keluarga dan anak-anak dapat sangat terpengaruh oleh kekerasan massal, aksi terorisme, atau trauma komunitas dalam bentuk penembakan, pengeboman, atau jenis serangan lainnya.

13. Kesedihan Traumatis

Meski kebanyakan anak mampu menyesuaikan diri dengan baik setelah kematian orang yang disayanginya, anak-anak lain mengalami kesulitan terus-menerus yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan membuat mereka sulit mengingat kenangan positif tentang orang yang mereka cintai namun telah tiada.

Rekomendasi