Kesenian Kuntulan merupakan salah satu tarian khas Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tari ini sangat kental dengan nuansa islami.
Musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Kuntulan adalah musik rebana dan kendang. Selain itu, tembang yang dilantunkan merupakan bait-bait burdah atau puji-pujian yang menceritakan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW.
Alat musik utama yang digunakan adalah enam buah rebana. Ada pula beberapa tambahan lain seperti drum, beduk besar, beduk kecil, kenong, kluncing, gong, dan lain-lain.
Advertisement
Religius
Dikutip dari artikel Kuntulan Budaya Banyuwangi yang Dibanggakan karya Moch. Eprom Bahrun Najib, musik dan tarian dalam kesenian kuntulan mengandung nilai-nilai yang sangat religius. Biasanya, kesenian ini ditampilkan dalam hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Isra Miraj.
Musik yang mengiringi kesenian kuntulan juga mengandung nilai-nilai islami seperti tembangan, puji-pujian, dan lain sebagainya.
Pakaian yang digunakan oleh para seniman pun erat dengan nilai-nilai religius, seperti memakai kerudung, sarung tangan, hingga kaos kaki yang menutupi seluruh aurat.
Advertisement
Asal Mula
Kemunculan kesenian kuntulan diduga kuat bermula saat masa penjajahan Belanda. Saat itu, pasukan Banyuwangi terkenal sulit ditaklukkan.
Tak mau menyerah begitu saja, penjajah Belanda menyusun siasat. Perlahan tapi pasti, Belanda berhasil merebut kekuasaan Banyuwangi dengan serangkaian aturan permainan agama yang dilakukan penguasa setempat.
Raden Mas Alit yang saat itu terpilih sebagai bupati pertama di Banyuwangi dipaksa Belanda memeluk agama Islam.
Saat menjabat sebagai bupati itulah, Raden Mas Alit membuat kesenian Gandrung yang dimainkan oleh perempuan. Kesenian itu diiringi musik dan tembang seperti burdah, selatun, tombo ati, dan tembang-tembang lain.
Setelah kesenian Gandrung, muncul kesenian Kuntulan. Musik dan tarian dalam kesenian Kuntulan sendiri hampir menyerupai Gandrung.