Gondo Durasim atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Durasim sangat akrab di kalangan masyarakat Jawa Timur. Ia adalah seniman ludruk legendaris yang dikenal tidak hanya di Jawa Timur, melainkan di berbagai daerah di Indonesia. Setiap kali ada diskusi mengenai kesenian ludruk, hampir bisa dipastikan nama Cak Durasim turut menjadi pembahasan.
Cak Durasim dikenal sebagai seniman yang lantang menyuarakan kritik dan enggan tunduk pada penjajah Jepang di masa silam. Salah satu kidungnya yang menyatakan kritik keras kepada penguasa Jepang sangat melegenda.
“Pagupon omahe doro, urip melu Nippon tambah sengsoro (Pagupon rumah dara, hidup ikut Nippon tambah sengsara).”
Sampai beberapa waktu, penguasa Jepang saat itu belum mengetahui arti kidungan Cak Durasim. Entah bagaimana, akhirnya mereka mengetahui artinya dan marah besar. Akibatnya, saat mengadakan pagelaran ludruk di Desa Mojorejo, Kabupaten Jombang, Cak Durasim dan beberapa rekannya ditangkap (Profil Tokoh Kabupaten Jombang, 2010: hal. 119).
Advertisement
Perlawanan Politik
Sementara itu, hingga kini terdapat dua versi berbeda mengenai akhir hidup Cak Durasim. Satu sumber menyebut legenda ludruk itu meninggal di penjara akibat penganiayaan tentara Jepang pada tahun 1944.
Namun, sumber lain menyebutkan seniman tersebut meninggal dunia setelah dibebaskan pada Agustus 1944.
Kidung-kidung Cak Durasim melawan penjajah Jepang disebut telah menjadi benih kesenian ludruk hingga hari ini. Kesenian ludruk menjadi medium perlawanan politik Cak Durasim terhadap kolonialisme dan imperialisme asing.
Advertisement
Perjalanan Karier
Nama Cak Durasim sedang naik daun sebagai seniman ludruk menjelang masa penjajahan Jepang di Indonesia. Pria kelahiran Jombang itu diceritakan membentuk kelompok ludruk di Kota Surabaya berkat sponsor dari Dr. Soetomo, tokoh pejuang kemerdekaan.
Berbeda dari kelompok-kelompok ludruk sebelumnya, penampilan ludruk Cak Durasim lebih modern. Setiap kali pertunjukan ludruk digelar, ditampilkan pula tari remo bertema kepahlawanan.
Dalam perjalanannya, Cak Durasim mengembangkan kesenian ludruk dengan menggali dan mempopulerkan cerita dan legenda rakyat ke dalam bentuk drama. Kedatangan tentara Jepang yang menyengsarakan rakyat tidak membuat nyali Cak Durasim ciut.