Makam Trah Mataram di Mojokerto, Rekomendasi Tempat Ziarah Jelang Ramadan

Keberadaan makam Islam di tengah-tengah situs warisan kebudayaan Majapahit yang bercorak Hindu-Budha menunjukkan keunikan tersendiri. Makam Islam yang diperuntukkan bagi trah Majapahit ini berada di Trowulan.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Makam Trah Mataram di Mojokerto, Rekomendasi Tempat Ziarah Jelang Ramadan
Makam Troloyo. ©2020 Merdeka.com/cagarbudayajatim.com

Keberadaan makam Islam di tengah-tengah situs warisan kebudayaan Majapahit yang bercorak Hindu-Budha menunjukkan keunikan tersendiri. Makam Islam yang diperuntukkan bagi trah Majapahit ini berada di Trowulan, daerah yang menurut tinjauan sejarah merupakan pusat Kerajaan Majapahit di masa silam.

Dihimpun dari berbagai sumber, pada zamannya, kompleks pemakaman di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini merupakan pemakaman paling luas di Pulau Jawa.

Selain trah Kerajaan Mataram, di kompleks pemakaman ini pula dikebumikan Syekh Jumadil Kubro, nenek moyang dari Walisongo. Makam Troloyo selalu ramai dikunjungi para peziarah sejak ratusan tahun silam.

Sejarah Makam Troloyo

Dikutip dari digilib.uinsby.ac.id, kata Troloyo berasal dari dua suku kata dalam bahasa Jawa. Ketika dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, Troloyo berarti tempat untuk orang mati.

Pada masa ketika pengaruh Majapahit sangat kuat, makam Troloyo sudah dimuliakan oleh penduduk setempat. Makam Troloyo merupakan makam untuk orang islam sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Buku Life in Java (1864) karya Wiliam Barrington dAlmedia mencatat keberadaan makam ini. Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi kompleks makam Troloyo ketika berkunjung ke Mojokerto. Dalam buku itu tercatat luas area pemakaman diperkirakan 1,4 hektare.

Dihimpun dari berbagai sumber, saat itu kompleks pemakaman Troloyo menjadi kompleks pemakaman terbesar di Pulau Jawa. Makam Troloyo memiliki empat plataran atau empat kompleks makam yang cukup luas.

Masing-masing kompleks dikelilingi oleh tembok khas Majapahit. Tembok yang terbuat dari batu bata itu berdiri setinggi 1,8 meter.

Makam Khusus Trah Majapahit

Antara kompleks satu dengan kompleks yang lain dihubungkan dengan jalan setapak yang melambangkan keterhubungan antarkompleks. Dilihat dari bentuk makamnya, kompleks makam Troloyo sejak mula diperuntukkan bagi orang Islam.

Hal ini ditandai dengan terpasangnya nisan-nisan di banyak makam di kompleks pemakaman Troloyo. Kendatipun demikian, tidak semua orang islam bisa dimakamkan di Troloyo.

Pemakaman ini dikhususkan untuk tempat bersemayam orang-orang yang memiliki hubungan darah atau termasuk trah Kerajaan Majapahit.

Kompleks Makam Terluas

Dihimpun dari berbagai sumber, di kompleks makam Troloyo ada satu plataran yang paling luas. Yakni sekitar 10,6 meter persegi. Plataran ini memiliki cungkup atau desain bangunan beratap.

Kompleks makam ini merupakan kompleks makam yang paling ramai dikunjungi para peziarah. Di sinilah Syekh Jumadil Kubro dikebumikan.

Syekh Jumadil Kubro yang merupakan nenek moyang Walisongo diyakini sebagian orang sebagai Wali Allah. Oleh karenanya, tidak heran apabila banyak orang yang berziarah untuk berdoa di makamnya. Konon, berdoa dengan perantara Wali Allah akan lebih mudah dikabulkan.

Syekh Jumadil Kubro bernama lengkap Sayyid Husein Jumadil Kubro. Ia adalah ulama yang berasal dari kota tua Samarkand, Uzbekistan. Ia merupakan keturunan dari Ja'far Shodiq bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Di antara Walisongo, yang merupakan keturunannya langsung ialah Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, dan Sunan Kudus.

Selalu Ramai Pengunjung

Kompleks pemakaman Troloyo tidak pernah sepi pengunjung. Makam yang paling ramai dikunjungi adalah makam Syekh Jumadil Kubro. Para peziarah datang dengan berbagai alasan. Ada yang mengharap sembuh dari penyakit, ingin mendapat jodoh, berharap mendapat keberkahan, dan lain sebagainya.

Dihimpun dari berbagai sumber, setidaknya ada 19 makam di kompleks pemakaman Troloyo, Mojokerto. Antara lain makam Syekh Jumadil Kubro, Syekh Al Chusen, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, Sunan Ngudung, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Pangeran Mojoangung, Nyai Roro Kepyur, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, dan Ratu Ayu Kencanawungu.

Salah seorang yang dimakamkan terakhir di kompleks Troloyo adalah Pangeran Mojoangung. Ia dikebumikan sekitar tahun 1820 masehi.

Hari-hari Khusus

Jumlah peziarah yang datang bergantung pada momentum. Pada hari-hari pasaran tertentu dalam penanggalan Jawa, kompleks makam Troloyo bisa sangat ramai.

Misalnya pada malam Jumat legi, hari peringatan haul Syekh Jumadil Kubro, grebeg Suro, menjelang Ramadan, serta saat Hari Raya tiba.

Sejumlah tokoh dan pejabat negara juga melakukan ziarah di kompleks pemakaman Troloyo, terutama ke makam Syekh Jumadil Kubro, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.

Rekomendasi