Potret Sepeda Zaman Kolonial Belanda Harganya Capai Rp25 Juta, Hanya Pejabat dan Bangsawan yang Punya

Saat itu, harga sepeda sangat mahal dan tidak bisa dijangkau masyarakat luas.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Potret Sepeda Zaman Kolonial Belanda Harganya Capai Rp25 Juta, Hanya Pejabat dan Bangsawan yang Punya
Potret Sepeda Zaman Kolonial Belanda Harganya Capai Rp25 Juta, Hanya Pejabat dan Bangsawan yang Punya (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @koloniaal_verslag

Sepeda bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia. Alat transportasi ini sudah ada sejak zaman kolonialisme Belanda. Pada zaman dulu, sepeda merupakan barang mewah dan tidak sembarang orang bisa memilikinya.

Mengutip Instagram @koloniaal_verslag, sepeda di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh seorang Eropa yang bekerja sebagai manajer perusahaan tembakau di Asahan, Sumatra Utara pada akhir
tahun 1894.

Ada juga yang berpendapat 
sepeda sudah eksis sejak
sebelum tahun 1894. Hal ini dibuktikan dengan adanya berita di koran Java Bode (1890). Seorang pria melakukan perjalanan naik sepeda dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor) pada Hari Paskah, 7 April 1890.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @koloniaal_verslag

Saat itu, hanya kalangan tertentu yang bisa memiliki sepeda, seperti pejabat kolonial, bangsawan, misionaris, dan pebisnis kaya. Hal ini lantaran harga sepeda saat itu sangat mahal.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @koloniaal_verslag

Pada masa kolonial Belanda, harga sepeda seperti Gazalle hampir setara dengan 1 ons emas atau setara dengan Rp25 juta.

Kepemilikan sepeda semakin meluas pada masa damai usai
Perang Dunia I. Kantor-kantor perwakilan dagang dari berbagai negara-negara Eropa bermunculan di Hindia Belanda.

Mereka memasarkan sepeda di kota-kota besar, seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Banjarmasin, dan Makassar.

Poster yang terbuat dari lempengan logam berlapis enamel mempromosikan merek-merek sepeda ternama. Seperti seperti Fahrrad, Opel, Batavus, Gazelle, dan Raleigh.

Mengutip Instagram @koloniaal_verslag, sepeda dalam
bahasa Belanda disebut "fiet" atau
"wielrijder" (kendaraan beroda). Achmad Sunjayadi menyebut sepeda sudah populer di Indonesia sejak abad ke-19 dengan sebutan velocipede.

Pada perkembangannya, velocipede mulai dilupakan karena kehadiran sepeda dengan ban karet berisi angin yang disebut rijwiel pada tahun 1890.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @koloniaal_verslag

Secara perlahan, bersepeda menjadi hobi baru warga dunia, termasuk Hindia Belanda (Indonesia saat dijajah Belanda).

Barang Berharga
© 2024 merdeka.com/Instagram @koloniaal_verslag

Orang-orang yang menjadi konsumen
sepeda buatan luar negeri mayoritas para pejabat kolonial. Sepeda
jadi alat transportasi guna mendukung kelancaran urusan kedinasan
di negeri kolonial. Sepeda menjadi inventaris berharga pada masa itu.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @koloniaal_verslag

Selain para pejabat pemerintah, kalangan
yang memanfaatkan sepeda terbatas pada para pendeta, priayi, hingga pengusaha berduit. Masyarakat kelas bawah hanya mampu
membeli sepeda bekas atau menunggu harga sepeda tersebut turun.

Rekomendasi