Potret Perahu Besi di Bojonegoro Diduga Milik Kaisar Tiongkok, Bukti Kejayaan Dagang
Merdeka.com - Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu daerah yang dilewati oleh aliran sungai Bengawan Solo. Tak heran jika ditemukan banyak peninggalan sejarah yang menjadi bukti eksistensi Bengawan Solo sebagai jalur pelayaran di pedalaman Jawa.
Beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo yang melintas di Bojonegoro adalah kapal kuno di Desa Padang, Kecamatan Trucuk dan perahu besi di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam.
Tidak diketahui pasti kapan warga mengetahui keberadaan perahu besi di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam. Namun, perahu besi tersebut baru diangkat ke daratan pada tahun 2013 lalu. Dimulai pada 6 Juni 2013, pengangkatan perahu besi itu membutuhkan waktu 13 hari.
Mitos Perahu Besi

©2022 Merdeka.com/YouTube Rahen Csr
Marshanda Fitria Intan dalam artikelnya yang berjudul Situs Perahu Kuno dan Perahu Besi di Bojonegoro menjelaskan, ada beberapa mitos yang melingkupi penemuan perahu besi di Desa Ngraho Kecamatan Gayam itu.
Sebelum diangkat dari dasar Bengawan Solo pada 2013 lalu, perahu besi tersebut sebenarnya sudah lama diketahui warga sekitar. Saat musim kemarau panjang, air sungai Bengawan Solo mengalami pendangkalan sehingga perahu besi terlihat keberadaannya.
Namun, tidak ada warga yang menghiraukannya karena mereka beranggapan mengusik perahu tersebut bisa menimbulkan petaka. Warga sekitar percaya bahwa perahu besi tersebut memiliki kekuatan supranatural sehingga akan berbahaya jika diusik keberadaannya.
Mitos lain yang banyak dipercaya yakni bahwa perahu besi tersebut adalah milik Dampu Awang yang tak lain merupakan kaisar Tiongkok.
Setelah berhasil diangkat ke daratan, perahu besi di Desa Ngraho Kecamatan Gayam itu diletakkan di area Punden Mbah Pung Prodo yang berlokasi di desa setempat. Perahu besi diletakan di atas bangunan bata dan beton. Di sebelah perahu terdapat gapura. Selain itu, benda peninggalan sejarah itu juga dikelilingi pagar yang terbuat dari bata.
Kondisi Perahu Besi

©2022 Merdeka.com/Dok. Jurnal Prabayaksa
Perahu besi yang ditemukan di dasar sungai Bengawan Solo itu memiliki panjang 24 meter. Adapun lebar lambung kapal sekitar empat meter dengan jumlah lambung kapal yang disekat menjadi lima bagian.
Pada tahun 2014, penambang pasir menemukan rantai besi dengan panjang sekitar 35 meter yang diperkirakan merupakan bagian dari perahu besi yang ditemukan sebelumnya. Rantai besi tersebut masih utuh bentuknya, hanya saja sudah berkarat. Selanjutnya, rantai besi diletakkan pada perahu kuno di atas bangunan bata dan beton di area Punden Mbah Pung Prodo di Desa Ngraho Kecamatan Gayam.
Adapun perahu besi tersebut dibuat dengan menggunakan teknik keling, yaitu teknik menempelkan bagian-bagian lembaran besi dengan cara ditempelkan lalu diberi paku sebagai pengaitnya.
Teknik keling untuk menempelkan bagian baja-baja merupakan teknik sederhana dalam pembuatan kapal sebelum adanya teknik las atau teknik lain. Hal ini dapat diidentifikasi bahwa perahu besi tersebut dibuat sebelum masa kolonial Belanda. Perahu besi ini diperkirakan dibuat pada kurun waktu 1602-1800 dan digunakan untuk mengangkut hasil bumi di pedalaman Jawa yang akan diperdagangkan keluar Pulau Jawa.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya