Potret Masjid Agung Bangkalan, Masjid Pertama yang Didirikan Sultan Keraton untuk Masyarakat

Pada awal pendiriannya, masjid ini hanya diperuntukkan keluarga keraton.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Potret Masjid Agung Bangkalan, Masjid Pertama yang Didirikan Sultan Keraton untuk Masyarakat
Potret Masjid Agung Bangkalan, Masjid Pertama yang Didirikan Sultan Keraton untuk Masyarakat (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Masjid Agung Bangkalan dibangun pada tahun 1819. Masjid ini merupakan masjid ‘rakyat’ pertama yang
didirikan seorang sultan keraton, yakni R. Abdul Kadirun atau Raden Tumenggung
Mangkudiningrat yang dikenal sebagai Sultan Bangkalan II.

Pada masa pemerintahan Sultan Bangkalan I, masjid masih bersifat eksklusif yakni hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan.

Sultan Bangkalan ke II kemudian memugar sekaligus ‘membuka’
masjid ini untuk warga biasa.

Mengutip situs repositori.kemdikbud.go.id, Masjid Agung Bangkalan telah dipugar beberapa kali. Alasan pemugarannya beragam, mulai kerusakan, penambahan jemaah, hingga bencana gempa
bumi.

Adapun ciri arsitektural masjid yang masih dipertahankan yakni atap tumpang dua. Atap ini sudah diganti pada tahun 1899 karena alasan kerusakan.

Arsitektur
Dok. Istimewa

Tiang-tiang megah berbahan kayu menghiasai ruangan dalam masjid. Rupanya tiang-tiang ini sudah digunakan sejak masjid berdiri. Hanya saja diperindah dengan ukiran kayu dengan model baru. Masjid ini mengadopsi bangunan Jawa dan memiliki 16 tiang kayu megah di dalamnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Masjid Agung Sumenep sangat sibuk. Selain digunakan untuk salat lima waktu, masjid ini juga menjadi tempat belajar agama bagi anak-anak usia sekolah.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Orang-orang tua pun tak kalah dalam berkegiatan. Mereka menyelenggarakan
pengajian dan tabligh akbar di masjid ini. 

Secara keseluruhan, masjid ini memiliki daya tampung hingga sebelas ribu jemaah.
Dok. Istimewa
Rekomendasi