Mengunjungi Bumiaji, Desa Suci Warisan Majapahit di Kota Batu
Merdeka.com - Kota Batu di Jawa Timur memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak. Salah satunya mengenai kawasan Bumiaji.
Wilayah yang kini bernama Bumiaji dulunya bernama Batu. Sebuah wilayah yang mendapat kepercayaan dari Kerajaan Majapahit untuk mengelola potensi daerahnya sendiri.
Wilayah Bumiaji sejak masa Majapahit sudah terkenal sebagai daerah agraris yang menyimpan beragam potensi. Di kawasan ini pula, sejumlah peninggalan kerajaan Majapahit masih bisa dijumpai sampai sekarang.
Bumiaji dikenal sebagai sebuah desa suci peninggalan Majapahit.
Keistimewaan Bumiaji

©2020 Merdeka.com/commons.wikimedia.org
Kawasan Bumiaji menjadi salah satu daerah perdikan. Daerah yang dibebaskan dari pajak dan mandiri alias otonom.
Hal itu dikarenakan wilayah ini terkenal sebagai wilayah agraris yang produktif. Masyarakat setempat dianggap mampu mengelola kehidupan sosial dan ekonominya sendiri tanpa campur tangan pihak kerajaan.
Status perdikan Bumiaji berlaku mulai masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 masehi) hingga Girindrawarhdana Dyah Ranawijaya (1486 masehi).
Desa Suci

©2020 Merdeka.com/ngalam.co
Pada masa Majapahit nama Bumiaji belum muncul, yang ada adalah Desa Batu dan Batwan. Nama dua desa ini termaktub dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca di masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk.
Selanjutnya, prasasti Jiu yang ditulis pada abad ke-15 mengabadikan desa di daerah Batu sebagai wilayah perdikan dari bangunan suci Trailokyapuri. Bangunan Trailokyapuri sendiri diyakini ada di daerah Pacet Mojokerto.
Asal Mula Nama Bumiaji

©2020 Merdeka.com/commons.wikimedia.org
Kemunculan nama Bumiaji yang diyakini sebagai desa kuno Batu di masa silam juga memiliki makna khusus. Kata Bumiaji berasal dari “Bhumi Haji” yang artinya tanah raja atau tanah yang memperoleh anugerah perdikan dari kerajaan.
Seiring perkembangannya, nama Batu yang melekat pada desa bersangkutan berganti menjadi Bumiaji. Sementara itu, Batu sendiri digunakan untuk menyebut wilayah dalam lingkup yang lebih luas. Sejak tahun 2000 hingga sekarang kita mengenalnya sebagai Kota Batu.
Keistimewaan Daerah Perdikan

©2020 Merdeka.com/ngalam.co
Dalam menentukan daerah perdikan, raja memiliki pertimbangan khusus. Di antaranya, ada warga desa yang berjasa bagi raja baik tampak secara nyata maupun spiritual. Bisa juga karena ada kebaktian luar biasa yang dilakukan antarsesama warga masyarakat.
Ciri-ciri daerah perdikan adalah memiliki kemampuan ekonomi yang baik dan sistem sosialnya teratur. Secara keseluruhan, daerah yang bersangkutan makmur, maju, serta berprestasi dalam sekian bidang kehidupan bermasyarakat, seperti disarikan dari Tanah Sima dalam Masyarakat Majapahit (1993) karya Machi Suhandi.
Bukan Orang Kerajaan

©2020 Merdeka.com/ngalam.co
Orang-orang Batu bukan termasuk orang kerajaan. Secara geografis, daerah Batu terletak di pinggir zona pemerintahan kerajaan.
Dengan demikian, orang-orang Batu bukanlah golongan bangsawan melainkan masyarakat desa biasa. Hanya saja desa yang mereka tinggali adalah desa istimewa karena corak agraris dan kemandiriannya.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya