Mengenal Elang Bondol, Maskot Jakarta yang Terancam Punah
Merdeka.com - Enggak banyak yang tahu, burung pemangsa yang satu ini merupakan maskot Jakarta, ibu kota Tanah Air. Pada tahun 1989, elang bondol dan salak condet dijadikan sebagai maskot kota Jakarta. Hal itu bisa dilihat di kawasan Cempaka Putih. Di sana terdapat patung Elang bondol membawa salak condet yang tegak berdiri.
Bukan tanpa alasan mengapa, Elang Bondol dan Salak Condet menjadi maskot Jakarta. Hal ini lantaran, keberadaan Elang Bondol dan Salak Condet mulai langka. Dengan menjadi maskot Jakarta, diharapkan masyarakat lebih mengenal dan melestarikan Elang Bondol dan Salak Condet ini.
Selain menjadi maskot Jakarta, Elang Bondol juga pernah menjadi logo pertama Transjakarta pada tahun 2004. Tak hanya itu saja, Elang Bondol juga maskot Asian Para Games 2018.
©2021 Merdeka.com/Pranata
Dilansir dari Gembiralokazoo.com, Burung Elang Bondol memiliki ukuran sedang dengan panjang tubuh mencapai 45 cm, berwarna putih dan coklat pirang. Ujung ekor bundar dengan iris mata coklat yang tajam. Burung ini memiliki kemampuan terbang yang sangat prima serta mempunyai ketajaman mata dalam mencari mangsa.
Habitat elang bondol adalah di rawa-rawa. Mereka menyukai pohon yang tinggi untuk membuat sarang. Sarang-sarang diletakkan di daerah dekat dengan ujung agar terlindung dari mamalia atau hewan lain yang dapat memakan telur atau anaknya. Mereka ditemukan di anak benua India, Asia Tenggara dan Australia.
Di Kalimantan, Elang Bondol dapat di temui di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sedangkan penyebarannya di DKI Jakarta hanya terbatas pada gugusan Kepulauan Seribu.
©2021 Merdeka.com/Pranata
Penasaran kan, mengapa burung pemangsa yang satu ini disebut Bondol? Rupanya karena burung kebanggaan Jakarta ini terlihat seperti botak karena tidak ada jambul di kepalanya. Maka dari itu, elang ini diberi nama Elang Bondol. Namun, bukan berati Elang Bondol tak memiliki bulu yaa.
Elang bondol lebih mirip burung pemakan bangkai dibanding burung pemangsa, namun burung ini memangsa buruan kecil seperti ikan, kepiting, kerang, katak, pengerat, reptil, dan bahkan serangga.
Elang bondol mencari makan di atas daratan maupun di atas permukaan air, burung ini terbang melayang di ketinggian 20 - 50 meter di atas permukaan.Saat terbang, sayap yang lebar dengan ekor pendek terlihat membulat ketika membentang.
©2021 Merdeka.com/Pranata
Elang Bondol merupakan hewan endemik yang keberadaannya terancam punah. Hal ini, diakibatkan karena keserakahan manusia dari perburuan ilegal, penjualan di pasar gelap, dan hasrat untuk memeliharanya.
Dilansir dari mpr.unas.ac.id, pada bulan Januari 2021 tercatat populasi Elang Bondol jumlahnya hanya tersisa sekitar 32 ekor. Beberapa di antaranya sedang direhabilitasi di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu.
Saat ini, Elang bondol dilindungi oleh Peraturan Republik Indonesia UU No. 5 tahun 1990 dan diatur dalam PP No. 7 tahun 1999 dan Peraturan Menteri KLHK No. 106 tahun 2018. Selain itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status Elang Bondol sebagai Least Concern (risiko rendah).
Sementara, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkannya ke dalam Appendiks II yaitu satwa yang terancam punah. (mdk/Tys)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya