Advertisement
Hingga akhir hayatnya, Bung Karno konsisten mendukung kemerdekaan Palestina
"Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel"
- Soekarno, 1962 -
(Foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Advertisement
Masyarakat Indonesia sebagaimana kata sang bapak bangsa, menunjukkan solidaritas dalam berbagai bentuk untuk kemerdekaan Palestina dan mengutuk tindakan sewenang-wenang Israel.
Semasa hidupnya, presiden pertama Republik Indonesia itu tidak hanya menyuarakan dukungannya untuk kemerdekaan Palestina melalui kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.
Mengutip dari laman resmi dpr.go.id, Presiden Soekarno menolak memberi pengakuan terhadap Israel dan menunjukkan solidaritas terhadap Palestina melalui berbagai upaya.
Jika ditelisik lebih jauh, hubungan Indonesia dengan Palestina sudah terjalin baik sebelum deklarasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1945 lalu.
Sebelum kemerdekaan Indonesia, Palestina telah memberikan dukungan terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, memberikan dukungan pada tahun 1944.
(Foto: uici.ac.id)
Advertisement
Sementara itu, selama Konferensi Asia Afrika di Bandung, Ir. Soekarno, dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955, menolak mengundang Israel dalam konferensi tersebut sebagai bentuk komitmen Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina.
(Foto: Freepik natanaelginting)
Advertisement
Selama pemerintahan Soekarno, Indonesia tidak pernah punya hubungan diplomatik dengan Israel., seperti dikutip dari laman resmi Perpusnas Indonesia.
Tim nasional sepak bola Indonesia menolak berpartisipasi dalam Piala Dunia 1958 di Swedia karena keberadaan Timnas Israel. Mesir dan Sudan juga menolak bertanding sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.
(Foto: Freepik)
Advertisement
Selama Asian Games IV tahun 1962, pemerintah Indonesia tidak memberikan visa kepada kontingen Israel dengan alasan tidak memiliki hubungan diplomatik. Tindakan ini mengakibatkan Indonesia dikenai sanksi oleh Komite Olimpiade Internasional.
Sebagai tanggapan atas sanksi tersebut, Presiden Soekarno mendirikan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada tahun 1963. Ganefo yang berhasil diadakan di Jakarta menjadi ajang olahraga tandingan Asian Games IV saat itu.